PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
MENUJU MING YUE SHAN.


__ADS_3

Thian Yi akhirnya menghentikan usahanya, saat nafasnya memburu hingga hampir putus.


Kondisi Thian Yi sangatlah parah, tiga tebasan Nan Thian yang mengerikan.


Telah menghancurkan sebagian besar jalan darah dan seluruh nadi besarnya.


Dia telah kehilangan seluruh kemampuan nya, seluruh hawa saktinya buyar, tidak dapat lagi dia salurkan.


Dia juga mengalami kehilangan fungsi gerak nya, seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan.


Seumur hidup dia akan menghabiskannya sebagai seorang cacat abadi.


Kondisinya sama dengan keadaan orang terserang penyakit stroke.


Tidak ada anggota tubuh yang bisa dia gerakkan.


Bahkan sekedar berbicara pun sulit, karena lidahnya kelu, tidak bisa dia gerakkan.


Hanya pikiran dan penglihatannya yang masih bagus.


Thian Yi terkapar diam tidak bisa bergerak sama sekali.


Perlahan-lahan hujan gerimis mulai turun dari langit, membasahi bumi.


Juga mengguyur seluruh tubuh Thian Yi yang sedang berada dalam keadaan menyedihkan.


Guyuran hujan membuat Thian Yi mengeluh, luka luka di sekujur tubuhnya terasa perih luar biasa.


Tapi lama kelamaan rasa perih itu menjadi baal, tidak lagi terasa, hanya hembusan angin dingin menusuk tulang yang membuat tubuhnya mengigil kedinginan.


Thian Yi memejamkan matanya, menerima semuanya dengan pasrah.


Karena saat ini memang tidak ada yang bisa dia lakukan sama sekali.


Nan Thian hanya menghela nafas panjang dan berkata,


"Tahu akan begini, mengapa sudah nyaman mengundurkan diri, masih terpancing turun gunung karena ambisi.."


Selesai berkata Nan Thian sudah menghilang dari tempat tersebut.


Adalah Kim Kim yang datang menghampiri Thian Yi dengan payung lebar di tangan.


Dia memayungi dirinya sendiri, sekaligus memayungi wajah Thian Yi.


Thian Yi membuka sepasang matanya menatap kearah Kim Kim dengan heran dan berkata di dalam pikirannya sendiri,


"Apakah aku sudah mati ? dan kini bertemu dengan seorang Dewi di surga..?"


Kim Kim menutupi mulutnya menahan tawa, dia bisa membaca jalan pikiran Thian Yi.


Sama seperti dia membaca jalan pikiran Nan Thian., Kim Kim berjongkok di hadapan Thian Yi dan berkata,


"Kamu masih hidup, belum mati. Tapi benarkah apa yang kamu katakan barusan,? aku sama cantik dengan Dewi kahyangan..?"


Thian Yi mengerjapkan matanya menatap Kim Kim dengan bingung.


Bagaimana Kim Kim bisa tahu apa yang di pikirkan nya.


Melihat reaksi Thian Yi, Kim Kim sambil tersenyum berkata,


"Tak perlu heran, aku memang bisa tahu apa yang kamu pikirkan.."

__ADS_1


Thian Yi dengan wajah setengah percaya mengangguk pelan, dan terus menatap kearah Kim Kim tanpa berkedip.


Di dalam hati dia jadi bertanya tanya siapa gadis cantik di hadapan nya ini.


Kim Kim sambil menahan senyum kembali berkata,


"Tak perlu heran dan bingung nama ku Kim Kim, aku manusia sama seperti mu,.."


"Hanya aku memilki sedikit kelebihan di banding manusia lainnya,..itu saja tidak lebih.."


"Aku kebetulan lewat sini, dan melihat mu seperti saat ini.."


"Apa yang sebenarnya terjadi..?"


"Siapa nama mu..?"


Tanya Kim Kim berpura-pura ingin tahu, sambil mencoba mencari topik pembicaraan.


Thian Yi menghela nafas panjang, setelah berusaha beberapa saat, melemaskan lidahnya yang kaku, dia berkata singkat,


"Souw Thian Yi, kalah... dengan..


....musuh... jadi begini.."


Kim Kim mengangguk paham, lalu dia membantu memeriksa kondisi Thian Yi dengan teliti.


Dari awal pertemuan Kim Kim sudah tertarik dengan ketampanan Thian Yi, dan kemampuan Thian Yi yang hampir mampu menandingi Nan Thian, membuat dia semakin kagum dan menaruh perhatian pada Thian Yi.


Sekarang melihat Nan Thian pergi, ada peluang.


Dia pun tidak menyia nyiakan kesempatan untuk mendekati Thian Yi.


Tapi di luar tentu saja dia tidak menunjukkan nya.


Kim Kim setelah memeriksa keadaan Thian Yi dia mengangguk angguk pelan.


Thian Yi berusaha dengan susah payah, akhirnya dia kembali berbicara sedikit,


"Terimakasih banyak Nona Kim Kim, maaf apa boleh aku memanggilmu nona Kim Kim..?"


Kim Kim mengangguk dan berkata,


"Tentu saja boleh, tapi tidak pakai nona, ganti dengan adik akan lebih nyaman kedengarannya.."


Thian Yi menelan ludahnya sendiri, dengan sikap sedikit canggung dia berkata,


"Baiklah no...eh..tidak..adik Kim Kim.."


Melihat Thian Yi gugup dan canggung, Kim Kim yang nakal semakin bersemangat ingin menggodanya.


Dia merasa gemas melihat sikap Thian Yi, yang ternyata tidak kalah menyenangkan di banding Fei Yang dan Nan Thian .


Sambil menahan senyum Kim Kim berkata,


"Tak perlu berterima kasih dan gugup, hidup di dunia saling tolong menolong itu wajar.."


"Melihat ada ketidakadilan mengulurkan tangan, untuk menolong, itu bukan masalah besar.."


"Ngomong ngomong tempat ini kurang pas untuk mengobrol, bagaimana bila aku bantu pindahkan kamu dari sini.."


"Kita cari tempat yang lebih pas untuk berbicara.."

__ADS_1


"Kamu juga bisa jelaskan kenapa kamu bisa ada di sini ? dan mengapa kamu bisa, dalam keadaan seperti ini..?"


Thian Yi menatap Kim Kim dengan tatapan mata penuh terimakasih dan mengangguk pelan,


"Maaf aku jadi merepotkan mu.."


"Tidak apa apa, mari ku bantu.."


Ucap Kim Kim lembut.


Lalu dia dengan cepat membantu Thian Yi naik ke punggung nya.


Kim Kim berpura-pura ingin melangkah menuju Nan Jing.


Melihat arah yang akan di ambil oleh Kim Kim, Thian Yi buru buru berkata,


"Maaf adik Kim Kim sebaiknya kita tidak memasuki kota itu.."


"Orang yang membuat ku jadi begini, ada di dalam sana."


"Bila kita masuk kesana, takutnya aku akan menyeret mu kedalam bahaya.."


Kim Kim mengangguk pelan dan berkata,


"Jadi sebaiknya kita kemana ?"


"Aku tinggal di puncak Ming Yue Shan di pulau Xishan, yang terletak di tengah tengah telaga Tai Hu. Su Zhou.."


"Sebaliknya kita kesana saja.."


Jawab Thian Yi cepat.


Kim Kim mengangguk dan berkata,


"Mengenai tempat tinggal mu, aku tidak tahu tempat dan arah kesana, bagaimana bila kamu bantu tunjuk arahnya saja.."


"Itu akan jauh lebih mudah.."


Thian Yi mengangguk pelan dan berkata pelan,


"Baiklah adik Kim Kim, kita sekarang langsung menuju sungai Wu Jiang di Utara sana."


"Dari sana kita seberangi saja sungai itu.."


"Baru kita lanjutkan perjalanan, mengambil arah utara menuju ke kota Su Zhou.."


Kim Kim mengangguk dan berkata,


"Baiklah, aku akan menggunakan ilmu berlari cepat ku, untuk mempersingkat waktu.."


"Bila kamu tidak terbiasa, kamu boleh pejamkan saja mata mu.."


"Setelah tiba di seberang sungai, aku akan memberitahu mu.."


Ucap Kim Kim sambil bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut.


Thian Yi mengangguk pelan dan berkata,


"Baik Kim Kim, atur saja mana yang terbaik.."


"Aku ikut saja.."

__ADS_1


__ADS_2