PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
MENINGGALKAN KOTA BEIJING


__ADS_3

Yue Lin sebelum menutup pintu, dia menjawab dengan penuh hormat,


"Baik Yang Mulia..permisi.."


Setelah pintu tertutup, Yue Lin dan Nan Thian segera meninggalkan istana.


Dalam perjalanan keluar dari istana, Nan Thian mengeluarkan plakat yang di berikan oleh kaisar Hong Wu dan berkata,


"Kakak ini mainan macam apa..?"


Begitu melihat plakat itu, semua orang di sekitar sana segera bersujud ke Nan Thian, termasuk Yue Lin juga menjatuhkan diri bersujud didepan adiknya.


Nan Thian dengan wajah kaget bercampur heran berkata,


"Kakak bangunlah apa yang kakak lakukan..?"


"Simpan dulu plakat mu, nanti aku jelaskan.."


"Segera minta yang berlutut, bangun semuanya, seperti yang biasa Yang Mulia ucapkan.."


Ucap Yue Lin dengan kepala tetap tertunduk.


Nan Thian segera menuruti permintaan kakaknya, lalu berkata,


"Kalian semuanya bangunlah.."


"Tak perlu peradatan. "


Kini segera semua orang baru bernafas lega dan bangkit berdiri.


Yue Lin segera menarik lengan adiknya meninggalkan tempat itu, setelah mereka berdua kembali kedalam kereta kuda.


Yue Lin baru berkata,


"Adik Thian, plakat itu mewakili kaisar Hong Wu, melihat plakat sama dengan melihat Yang Mulia sendiri."


"Makanya pergunakan dengan baik dan hati hati.."


"Jangan sampai jatuh ketangan orang tak bertanggung jawab, itu berbahaya. "


"Apalagi kini kekuasaan militer di pegang oleh Yang Mulia sendiri..jadi plakat itu sangat penting dan berbahaya.."


Nan Thian menatap kakaknya dan berkata,


"Bukankah Kaisar Hong Wu sangat takut orang merebut posisinya.."


"Mengapa dia bisa ceroboh ini, dalam mengambil keputusan ini..?"


Yue Lin tersenyum dan berkata,


"Ini yang namanya orang jujur di percaya orang cerdas, orang polos di percaya orang bijak.."


"Ayah ku itu cerdas, tapi dia juga bijak, dia percaya dengan karakter mu.."


"Selain itu dia juga punya pandangan yang sangat jauh kedepan.."


"Dia berharap, kelak bila terjadi suatu hal, di mana dia tiada, atau sedang berhalangan. karena tertawan oleh musuh.


"Kamu bisa berdiri keluar menggantikan nya mengatasi masalah.."


"Mencegah kekacauan dan kamu bisa memilih orang yang tepat dan pantas, untuk menggantikan dirinya.."

__ADS_1


"Begitupula bila suatu hari keturunannya, memimpin dengan tidak benar."


"Kamu bisa berdiri keluar, menarik wewenang nya, dan memberikan ke yang berhak.."


"Seperti saat ini, sebenarnya ayah mertua ku, dia sedang dilema."


"Dia mau pilih Jian Wen cucu pertamanya sebagai penerus, atau memilih Zhu Di putra terakhirnya yang tersisa, yang menggantikan dirinya menjadi penerus ."


"Makanya benda yang sangat penting dia percayakan kepada mu.."


Ucap Yue Lin serius.


Nan Thian setelah mendengarkan penjelasan tersebut, dia segera berkata,


"Tidak bisa begini, aku tidak bisa menerima tugas itu.."


"Lebih baik benda ini kamu bantu aku menjaganya.."


Yue Lin langsung menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak bisa, kalau aku menerimanya Yang Mulia akan marah pada ku.."


"Dia bisa mencurigai ku, apa kamu mau kakakmu menyusul Lan Yu Xu Da..?"


Nan Thian terdiam dan otomatis menggelengkan kepalanya.


Sesaat kemudian dia berkata,


"Kalau begitu kita sekarang kembali, aku akan mengembalikan nya ke Yang Mulia.."


Yue Lin langsung menggeleng dan menggoyangkan tangannya,


"Ini bisa menjadi masalah besar, ini tidak akan baik bagi semuanya.."


Nan Thian terdiam sejenak dan berkata,


"Bagaimana bila aku menyelinap secara diam diam menemui Yang Mulia secara empat mata .."


"Sehingga tidak ada yang tahu, jadi gengsinya tetap terjaga.."


Yue Lin menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak bisa Thian er, ini akan sangat mengecewakan hatinya juga menyakiti perasaan nya.."


"Dia tidak akan mau menerima nya karena hal ini akan membuatnya kehilangan muka."


Yang Mulia bisa saja menggunakan kalimat yang kamu ucapkan tadi sambil berlutut."


"Untuk memaksa mu tetap menerima tugas dan tanggung jawab ini."


"Karena kamu sendirilah yang buka mulut duluan tanpa di minta dan di paksa."


"Bila kamu menolaknya bukankah sama saja, kamu bicara tidak bisa di pegang."


Mendengar hal itu Nan Thian langsung terdiam, dia tidak bisa membantahnya lagi.


Karena memang dia sendiri yang terlanjur buka mulut, menyatakan akan berdiri keluar bila kerajaan dalam masalah.


Kapanpun itu, meski tidak menjadi pejabat sekalipun.


Semua itu memang ucapan nya sendiri.

__ADS_1


Yue Lin hanya tersenyum kecut, melihat kebingungan yang di ciptakan oleh saudaranya yang polos dan jujur itu.


Nan Thian memang bukan bakatnya berkecimpung di dunia politik, karakternya tidak cocok untuk itu.


Dia akan sangat mudah di tipu dan di manfaatkan oleh lawan lawan politiknya.


Nan Thian akhirnya menghela nafas panjang,.dia terpaksa pasrah menerima kenyataan itu.


Sepanjang perjalanan pulang, baik Nan Thian dan Yue Lin mereka tidak berbicara.


Masing masing larut dalam pikiran masing masing.


Baru setelah sampai di depan pintu rumah kediaman Yue Lin .


Nan Thian berkata,


"Kakak aku tidak masuk.lagi, aku menunggu di sini saja.."


"Tolong sampaikan ke Zi Zi agar menyusul ku kemari.."


"Paman Jiang kusir kereta ku, juga sekalian suruh dia bawa kereta kami kemari.."


"Aku mau langsung saja.."


Ucap Nan Thian .


Yue Lin mengerti dengan jalan pikiran adiknya, yang semakin tawar memandang hubungan pertemanan persahabatan persaudaraan di istana dengan para pejabatnya.


Yue Lin mengangguk pelan dan berkata,


"Baiklah Thian Er..kalau begitu kita berpisah di sini saja.."


Nan Thian mengangguk, dia maju memeluk dan menepuk nepuk punggung kakaknya.


Setelah itu mereka berdua segera berpisah.


Yue Lin kembali kedalam rumah, sedangkan Nan Thian berdiri santai di depan halaman rumah kediaman kakaknya.


Beberapa saat kemudian kusir kereta Paman Jiang sudah hadir di sana.


Tak lama kemudian Zi Zi dan Ying Ying putrinya pun menyusul datang.


Ying Ying tidak lagi ngambek dengan ayahnya, dia sudah lupa.


Dengan gembira, begitu melihat ayahnya, dia langsung berlari dan melompat kedalam pelukan ayahnya.


Yue Lin Mei Mei dan putri mereka Fei Fei terlihat hadir di sana, untuk melepas kepergian Nan Thian dan keluarganya.


Mereka berbasa-basi sejenak, sebelum kemudian Nan Thian melanjutkan perjalanan nya, meninggalkan tempat kediaman kakaknya.


Lalu melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan kota Beijing.


Dalam perjalanan meninggalkan kita Beijing, mereka sempat mampir di beberapa tempat membeli keperluan dan membeli beberapa macam barang yang menarik perhatian putri mereka.


Menjelang sore, mereka baru bergerak meninggalkan kota Beijing, melalui pintu gerbang sebelah barat.


Saat meninggalkan kota Beijing, Nan Thian dan Keluarganya sempat menikmati pemandangan langit di kala senja di kota tersebut.


Kereta mereka terus bergerak kearah matahari terbenam, seperti sedang berkejar kejaran dengan posisi matahari yang terus bergerak terbenam ke bawah.


Akhirnya kereta mereka menembus kegelapan malam, dengan di temani oleh cahaya rembulan, mereka menempuh perjalanan, melewati daerah celah yang di batasi oleh dua tebing tinggi yang berjejer di kanan kiri jalan.

__ADS_1


__ADS_2