PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
KOTA KUN MING


__ADS_3

Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Tidak apa apa paman Akiu, kami bisa menanganinya sendiri.."


"Terimakasih.."


Belum selesai ucapan Nan Thian, Nan Thian dan Zi Zi sudah melayang seperti dua ekor burung besar melayang menuju bagian tepi sungai yang letaknya belasan meter tingginya dari batas air sungai.


Jarak dari perahu ketepi sendiri ada sekitar belasan meter juga, tapi pasangan itu melakukan nya, hanya dengan satu lompatan.


Hal ini sungguh mengagetkan Akiu, Akiu terlihat melotot tak percaya, hingga sepasang matanya seperti mau copot dari sarangnya.


Nan Thian dan Zi Zi tanpa memperdulikan keheranan Akiu, mereka berdua sudah mendarat ringan di tepi sungai.


Lalu mereka menempuh perjalanan dengan berjalan cepat, menuju pondok reyot di tengah hutan itu.


Beberapa saat kemudian Nan Thian dan Zi Zi akhirnya tiba di halaman depan pondok sederhana itu.


Nan Thian segera berkata,


"Permisi...! apa ada orang di rumah...!"


"Permisi...! apa ada orang di rumah...!"


Ucap Nan Thian mengulanginya lagi.


Sesaat kemudian pintu pondok pun terbuka dari dalam, seorang nenek terlihat berjalan keluar dari dalam pondok.


Dia menatap heran kearah Nan Thian dan Zi Zi lalu dia berkata,


"Anak muda kalian datang sampai kemari, mau cari siapa..?"


"Ada urusan apa..?"


Nan Thian segera maju menjura kearah nenek itu dan berkata,


"Begini senior kami hanya orang yang sedang kebetulan lewat melintasi tempat ini.."


"Kami mampir kemari, ingin menanyakan tentang keberadaan putri kami yang hilang.."


"Ini gambar wajah nya, tinggi nya segini, apa nenek ada pernah melihatnya..?"


"Namanya Ying Ying usianya baru 5 tahun hampir masuk 6.."


Ucap Nan Thian sambil menjura sopan.


Nenek itu dengan langkah pelan, bertopang dengan sebuah tongkat ditangan.


Dia berjalan menghampiri Nan Thian dan Zi Zi, dia lalu coba untuk melihat dari dekat.


Memastikan wajah yang cukup familiar dalam pandangan nya.


Sesaat melihat'nya, dia akhirnya dengan penuh bersemangat berkata,

__ADS_1


"Ada...ada...ada..!"


"Beberapa hari yang lalu, saya sempat melihatnya.."


"Dia datang kemari bersama seorang wanita cantik yang berpakaian serba putih."


"Disamping mereka berdua, masih ada seorang anak laki laki yang juga berpakaian putih."


"Ya benar,.. mereka bertiga sempat mampir kemari.."


"Karena anak perempuan ini, katanya tiba-tiba sakit perut.."


"Sehingga terpaksa di bawa kemari untuk di rawat dan di beri sup hangat.."


Ucapan nenek itu segera membangkitkan semangat Nan Thian dan Zi Zi.


Nan Thian segera berkata,


"Lalu nek,.. bagaimana keadaan putri kami.."


"Di mana dia kini berada..?"


Nenek itu menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Setelah keadaan putri kalian sudah mendingan, wanita cantik itu dan anak laki laki itu."


"Mereka segera membawanya pergi melanjutkan perjalanan.."


Nan Thian kembali bertanya dengan antusias,


"Apa anak laki laki itu dan wanita itu ada sebutkan nama mereka?"


"Lalu saat ini kemana mereka bertiga pergi..?"


Nenek itu terlihat berpikir dan mengingat ingat, lalu dia berkata,


"Anak kecil perempuan itu, kalau dak salah bernama Ying Ying.."


"Tapi wanita itu dan anak lelaki itu, sikap mereka agak misterius.."


"Mereka tidak bersedia mengenalkan nama mereka.."


"Aku juga tidak tahu kemana mereka akan pergi.."


"Aku hanya sempat mendengar mereka membahas tentang Kui Mo Shan.."


"Mungkin ke sanalah mereka pergi, "


Ucap nenek itu menjelaskan.


Ucapan nenek itu segera membuat Nan Thian dan Zi Zi semakin bersemangat dan bersemangat.


Setelah nenek itu menutup ceritanya, Nan Thian segera maju memberikan sekantung uang ke nenek itu dan berkata,

__ADS_1


"Terimakasih banyak atas informasi. nya, ini ada sedikit tanda ucapan terima kasih dari kami.."


"Kami harap nenek jangan menolaknya.."


Nenek itu awalnya ingin menolak tapi karena Nan Thian memaksa dan terlihat begitu tulus.


Nenek itu akhirnya menerimanya, dia sempat mempersilahkan Nan Thian dan Zi Zi untuk singgah di rumahnya.


Tapi Nan Thian menolaknya dengan halus, Nan Thian beralasan lain kali saja.


Karena saat ini dia sedang terburu buru ingin menemukan kembali putrinya.


Setelah saling berbasa basi sejenak, Nan Thian dan Zi Zi akhir nya segera kembali ke perahu mereka.


Kali melanjutkan perjalanan melakukan pencarian terhadap keberadaan putri mereka dengan lebih bersemangat.


Tapi sayangnya sepanjang jalan mereka bertanya tanya tidak lagi ada ditemukan jejak putri mereka.


Sehingga mereka berdua hanya bisa memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Mo Kui Shan.


Sambil bertanya tanya kepada setiap penduduk yang kebetulan berpapasan dengan mereka.


Perlahan lahan mereka kembali menemukan jejak bahwa ketiga orang itu, benar sedang bergerak menuju Mo Kui Shan.


Semakin mendekati Mo Kui Shan, Nan Thian menemukan semakin banyak tokoh dunia persilatan yang hadir di sana.


Baik dari partai aliran putih, aliran hitam maupun aliran netral, tampaknya orang dunia persilatan, pada berduyun-duyun ingin mengunjungi Mo.Kui Shan.


Ada yang memang mendapatkan undangan seperti dirinya, ada juga yang datang kesana hanya sekedar ingin melihat keramaian saja.


Pusat keramaian tersebut terletak pada sebuah kota kecil yang terletak di tepi sungai kuning.


Kota kecil tersebut adalah kota Kun Ming sebuah kota pelabuhan yang terletak di tepi sungai, juga merupakan kota terakhir di kaki gunung Mo Kui Shan.


Akibat posisi kota Kun Ming, yang strategis, kota tersebut kini menjadi sangat ramai.


Setiap hotel dan restoran di kota tersebut semuanya penuh.


Yang memenuhi hotel dan restoran di kota tersebut kebanyakan adalah orang dunia persilatan yang datang dari berbagai tempat.


Saking penuhnya, bahkan banyak rumah penduduk di kota tersebut yang di sewakan dengan harga mahal, sebagai bunga low bunga low kecil, untuk para pendatang dari luar kota yang tidak mendapatkan kamar penginapan.


Nan Thian dan Zi Zi saat tiba di kota itu, mereka juga menyewa sebuah rumah untuk bermalam.


Tanggal acara di Mo Kui Shan masih 1 bulan lagi, tapi kota di kaki gunung itu, sudah membludak di banjiri oleh orang orang dunia persilatan.


Karena berkumpulnya begitu banyak jenis bentuk dan rupa orang dunia persilatan yang hanya taat dengan hukum rimba.


Maka perkelahian di manapun tempatnya setiap hari setiap jam pasti ada.


Semakin keroco tingkatkan ilmu silat mereka maka tingkahnya pun semakin konyol.


Semakin banyak kerubutan yang mereka lakukan hanya sekedar untuk menarik perhatian, mencari pamor dan popularitas agar nama mereka cepat di kenal dan di segani oleh semua orang.

__ADS_1


Sedangkan orang yang berkemampuan tinggi, seperti Nan Thian suami istri, mereka malah memilih mencari tempat, di sebuah kedai mie, yang agak sederhana, dan tidak begitu ramai pengunjung nya.


Tapi tempat itu cukup strategis, bisa melihat beberapa tempat penting, yang menjadi pusat keramaian kota tersebut.


__ADS_2