
Tentu saja Nan Thian tidak berani berlama-lama menatap Siao Hung , dia tidak enak dengan Zi Zi istri sahnya.
Sedetik kemudian Nan Thian sudah mengalihkan perhatian nya kembali kearah lapangan arena ketiga, yang sedang berlangsung pertandingan seru.
Berbeda dengan pertandingan di dua arena sebelumnya, di mana Petugas Arena pertama dan kedua, mereka selalu unggul dan terus menerus memberikan tekanan kepada lawan mereka.
Di arena ketiga dari awal pertandingan sudah terlihat, Tek Hoat jauh lebih unggul dalam segala hal.
Sampai saat ini dia masih memberi kesempatan Petugas Arena Ketiga terus menerus menyerangnya cuma ada satu alasan.
Tek Hoat ingin melihat ilmu unik dari sekte yang baru muncul, tapi memiliki kemampuan yang sangat tinggi ini.
Setelah beberapa waktu berlalu, Tek Hoat sudah merasa cukup puas bermain-main.
Dia mulai bersikap serius, hawa inti neraka mulai memenuhi tubuh'nya.
Dia mulai bersiap untuk mengerahkan jurus pamungkas, yang mengangkat namanya sebagai si jari maut.
Tek Hoat dengan sikap tenang dan berani, dia menerima pukulan dari Petugas Arena Ketiga secara langsung.
Petugas Arena Ketiga yang berubah menjadi 4 bayangan menyerang Tek Hoat dari penjuru.
Dia berhasil mendaratkan pukulan cahaya hijau nya dengan telak dua mendarat di punggung, satu masing masing di leher dan wajah.
Tapi dari 4 pukulan itu, satupun tidak ada yang membawa efek apapun buat Tek Hoat.
Seolah olah semua pukulan dahsyat itu tidak ada artinya.
Mengabaikan keempat serangan itu, Tek Hoat hanya fokus ke salah satu bayangan, yang merupakan tubuh sejatinya Petugas Arena Ketiga.
Telunjuk satu jarinya bergerak lurus langsung di tujukan ke arah kening Petugas Arena Ketiga.
Petugas Arena Ketiga, yang belum hilang kagetnya, karena semua pukulannya, tidak ada yang mempan pada Tek Hoat.
Mendapatkan serangan tiba tiba dari Tek Hoat, Petugas Arena Ketiga terpaksa menggunakan tinjunya yang mengeluarkan cahaya hijau, untuk menyambut serangan Tek Hoat tersebut.
Tinju dan jari bertemu di udara, dalam situasi normal, jari pasti patah.
Tapi dalam posisi saat ini justru Petugas Arena Ketiga lah yang menjerit ngeri.
Dia langsung melompat mundur dengan tangan kanan terkulai lemas.
__ADS_1
Dia segera berteriak keras,
"Terimakasih pengajaran nya, aku menyerah...!"
Apa yang membuat Petugas Arena Ketiga, begitu mudah mengaku kalah.
Rupanya dalam pertemuan benturan jari dan tinju tadi, Ilmu jari penembus tulang Tek Hoat. Telah meremukkan tinju, hingga menjalar sampai ke tulang pangkal bahu, Petugas Arena Ketiga.
Sehingga Petugas Arena Ketiga yang telah menderita kesakitan hebat.
Dia terpaksa harus cepat cepat mengaku kalah dan mundur, bila di teruskan, dia kemungkinan hanya akan mati konyol di tangan Tek Hoat yang memiliki ilmu aneh dan keji.
Dengan kalahnya Petugas Arena Ketiga, Tek Hoat segera menerima sumberdaya yang dia inginkan untuk pengobatan istrinya.
Tapi Tek Hoat belum puas, dia langsung melayang ringan mendarat di arena Utama.
Bersiap mencoba tahap selanjutnya, di mana hadiahnya adalah sumberdaya langka dan senjata pusaka.
Sementara Tek Hoat sedang bersiap menghadapi ujian berikutnya.
Di arena keempat Ketua Khong Tong Pai, Ciu Lung kakek itu sedang bertarung sengit Petugas Arena Keempat .
Ciu Lung terlihat sudah mengerahkan hampir semua kemampuannya.
Apapun upaya yang kakek itu lakukan, dia selalu berada dalam posisi terdesak.
Ciu Lung tidak punya pilihan selain memainkan jurus pamungkas perguruannya, yang belum sempurna dia latih.
Ciu Lung segera bersiap melepaskan ilmu tinju tujuh luka nya.
Setelah melakukan pergerakan jurus pembukaan, Ciu Lung segera terbang maju kedepan dengan sepasang tinjunya mengincar kepala Petugas Arena Keempat .
Petugas Arena Keempat tidak berani meremehkan pukulan yang mendatangkan cahaya emas berkilauan dan angin berkesiur kencang di sekitar tubuh nya.
Dia segera mengerahkan pukulan cahaya biru nya.
Bergerak maju menyambut pukulan tinju tujuh luka nya Ciu Lung .
Sepasang tinju bertemu tinju, terjadi ledakan dahsyat di udara.
Sesaat kemudian menyusul, Petugas Arena Keempat terdorong mundur dua langkah ke belakang.
__ADS_1
Dia menyembunyikan sepasang tinjunya yang gemetaran di belakang punggung, sambil menahan rasa nyeri di tinju nya yang terasa kiut miut.
Bisa di bayangkan betapa serius dan kuatnya ilmu rahasia Khong Tong Pai tersebut.
Bila saat ini yang berhadapan dengan Petugas Arena Keempat adalah pendiri perguruan Khong Tong Pai sendiri.
Sudah bisa di pastikan Petugas Arena Keempat pasti akan mengalami nasib serupa seperti Petugas Arena Ketiga, yang melawan Tek Hoat diarena sebelah nya.
Tapi sayangnya Ketua Khong Tong Pai saat ini, Ciu Lung dia belum mencapai kesempurnaan itu.
Begitu pula guru dan kakek guru mereka, belum pernah ada yang mampu mencapai tingkatan yang sama, seperti pendiri perguruan Khong Tong Pai yang pertama.
Seperti saat ini, Ciu Lung dia terlihat terpental hingga keluar dari arena.
Saat dia mencoba untuk berdiri, tiba tiba dari tujuh titik nadi utamanya, terlihat ada ledakan kecil yang menyemburkan darah segar seperti keran bocor.
Selain tujuh luka sebagai efek samping pengerahan jurus itu, Ciu Lung juga mengalami muntah darah cukup banyak, sebelum dia akhirnya merasa pandangan nya menjadi gelap.
Ciu Lung akhirnya roboh tergeletak di bawah arena tidak sadarkan diri.
Beberapa murid nya buru buru maju kedepan, menggotong Ciu Lung kembali ketempat duduk mereka.
Setelah Ciu Lung kembali ketempat duduknya, tiga orang panitia pelayanan dari sekte Diatas Langit Masih Ada Langit.
Datang mengantarkan sebutir pil putih buat Ciu Lung, sebutir buat Lu Siao Fung si pendekar Flamboyan dan sebutir lagi untuk Ma Liang ketua partai pengemis.
Setelah masing masing mendapatkan bantuan pil dan mendapatkan penjelasan bahwa pil itu adalah pil yang terbuat dari teratai salju langka.
Sangat baik bila di gunakan oleh orang yang terluka dalam dan sedang dalam proses pemulihan.
Mereka bertiga segera mengkonsumsi pil putih itu, untuk pemulihan luka dalam mereka.
Tidak perlu menunggu lama, secara ajaib luka dalam mereka pun pulih kembali.
Di tempat lain petugas arena ketiga sudah di gantikan oleh petugas cadangan, yang memang ada di persiapkan oleh pihak sekte Diatas Langit Masih Ada Langit, untuk berjaga-jaga bila ada kejadian tidak terduga seperti saat ini.
Arena pertama sampai keempat kini segera di isi oleh Ketua genk Naga Hijau, ketua genk harimau terbang, Ketua sekte air langit dan ketua sekte takdir Langit.
Mereka masing masing sudah menempati arena bersiap siap untuk memulai mencoba peruntungan mereka.
Di tempat lain, sebelum mereka naik ke arena kosong, untuk melanjutkan pertandingan berikutnya.
__ADS_1
Tek Hoat dari pulau neraka, kini dia telah berhadapan dengan petugas penguji arena utama yang bernama Tin Siok.