PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
ILMU GADO GADO YESEBUHUA


__ADS_3

Nan Thian buru buru mengirim pesan suara ke Kim Kim dan Thian Yi.


Begitu dia melihat kedua sahabatnya mendekat.


"Thian Yi jangan mendekat..!"


"Bahaya..!"


"Mundurlah..!'


"Kim Kim menjauh lah..!"


"Ajak suami mu juga..!"


"Jangan kemari ..!"


"Bahaya..!"


"Tapi kak...!"


Balas Kim Kim ragu.


Nan Thian langsung membalas dengan bentakan suara tegas.


"Tidak ada tapi, jangan membantah.."


"Cepat mundur....!"


Mendengar suara bentakan Nan Thian yang begitu serius.


Kim Kim tanpa menjawabnya.


Dia langsung memutar balik arah dan berteriak keras,


"Thian Yi ke ke.. cepat mundur menjauh...!"


"Ikuti aku....!"


Thian Yi yang sudah siap, tinggal melepaskan serangan nya, dia terpaksa menarik kembali kekuatan nya.


Lalu melesat mundur menjauh menyusul Kim Kim, sesaat kemudian dia sudah kembali duduk di atas punggung Kim Kim.


Sedangkan di arena pertempuran sendiri, setelah melihat Kim Kim dan Thian Yi menjauh.


Nan Thian pun menghela nafas lega.


Sesaat kemudian Nan Thian yang terkunci menghentakkan kedua kakinya keatas tanah.


Tubuhnya seketika lenyap, saat muncul lagi dia sudah berada di atas bukit di mana barisan pasukan berkuda di bawah pimpin Jendral Yo Ku berada.


"Ha..ha.ha..ha..!"


"Mau melarikan diri,.. jangan mimpi..!"


Ucap Empu Jayabaya yang mengikuti Nan Thian muncul di sana.


Posisi mereka tetap sama, dia masih terus mengunci dan menghisap energi Nan Thian lebih ganas dari seekor lintah yang haus darah.


Dia tidak akan lepas korbannya, sebelum korbannya mati kehabisan energi, bahkan roh dan nyawa lawannya pun akan dia hisap habis juga.


Nan Thian tersenyum penuh misteri dan berkata pelan lewat pesan suara yang hanya terdengar oleh Empu Jayabaya .


"Pak tua, kamu jangan senang dulu, mungkin di sinilah akhir hayat mu.."


"Bersiaplah..!"


Bentak Nan Thian .


Kedua Padri Tua yang melihat kejadian itu, langsung berteriak kaget,


"Ahh bahaya..!"


"Si sombong dalam masalah..!"

__ADS_1


"Awas semuanya jauhi tempat itu...!"


Tapi teriakan suara peringatan mereka terlambat beberapa detik.


Terdengar suara keras Nan Thian ,


"Tiada Awal Tiada Akhir...!"


Pedang Panca Warna di tangan Nan Thian, tiba-tiba terlepas dari pegangan tangannya.


Pedang itu bergerak sendiri terbang keatas langit.


Langit dan cuaca tiba tiba berubah drastis.


Angin badan topan tornado muncul dari segala penjuru, langit dan bumi sama sama merekah.


Hujan es sebesar kepalan tangan jatuh ke bawah menghujani bumi tanpa pilih pilih.


Petir juga turun menyambar secara sembarang di sekitar posisi Nan Thian dan Empu Jayabaya berada.


Karena Nan Thian merubah posisi pertarungan mereka di sana.


Yang paling sial tentu saja adalah pihak pasukan Mongolia.


Jendral Yo Ku sendiri tewas tersambar petir.


Sedangkan pasukannya kocar kacir menerima hujan batu es dan Sambaran petir dari angkasa raya.


Tanah yang merekah di bawah, membuat pasukan itu banyak yang terjatuh kedalam rekahan bumi, yang membentuk jurang dalam yang tidak berdasar.


Sedangkan langit yang merekah di angkasa, hingga menampilkan langit gelap gulita di luar sana.


Mengeluarkan daya hisap yang sangat kuat, semua mahluk yang terbang bebas di angkasa terhisap kearah langit gelap tanpa batas.


Hanya pedang Panca Warna yang bertahan di angkasa, tidak ikut terhisap.


Malah sebaliknya dia terus menghisap kekuatan alam semesta sebanyak banyaknya.


Sebelum kemudian melesat turun dari atas kebawah, membelah diri menjadi lima.


Inilah Jurus kelima dari ilmu pedang Tiada Awal Tiada Akhir yang sangat mematikan.


Sejak Nan Thian menguasai ilmu ini dari Wu Ming Lau Jen, ilmu ini belum pernah bertemu tanding nya.


Empu Jayabaya yang menyadari bahaya sedang mendekat, dia sekali ini tidak berani menerimanya.


Dia memilih melepaskan lima keris pusaka cahaya biru, untuk menyambut datangnya, serangan pedang panca warna, yang meluncur deras dari atas kebawah.


Sedangkan ke 5 raga nya, tetap mengunci dan dan terus menghisap hawa dewa di tubuh Nan Thian .


5 keris pusaka cahaya biru dari lima raga Empu Jayabaya, melesat keangkasa menyambut serangan pedang pancawarna.


"Singggg...!"


"Singggg...!"


"Singggg...!"


"Singggg...!"


"Singggg...!"


Keris pancawarna berdesing membelah udara, sebelum berbenturan keras diudara, dengan pedang Panca Warna, yang juga membelah diri jadi lima.


"Blaaarrrr...!"


"Blaaarrrr...!"


"Blaaarrrr...!"


"Blaaarrrr...!"


"Blaaarrrr...!"

__ADS_1


Terjadi Ledakan dahsyat di udara, sebelum keris pusaka cahaya biru Empu Jayabaya , akhirnya di buat pecah hancur berkeping-keping.


Sedangkan pedang Panca Warna masih terus meluncur deras kebawah .


Akhirnya terdengar suara,


"Creeebbb..!"


"Creeebbb..!"


"Creeebbb..!"


"Creeebbb..!"


"Creeebbb..!"


Empu Jayabaya tubuhnya mengejang, matanya mendelik keatas, saat titik Pai Hui Xue di tembus oleh 5 energi pedang Panca Warna.


Kuncian dan daya hisap nya dari tubuh Nan Thian otomatis terlepas.


Nan Thian sudah menghilang dari sana, saat muncul lagi.


Nan Thian terlihat sedang terbang melayang menjauh dari tempat Empu Jayabaya berada.


Tubuh Empu Jayabaya mengalami kejang kejang hebat, bayangan pohon beringin terbalik di belakangnya mulai retak retak.


Dari retakan terlihat cahaya Panca Warna merembes keluar.


Begitupula dengan tubuh Empu Jayabaya yang juga mengalami retakan di mana mana.


Dengan bias cahaya Panca Warna juga merembes keluar dari seluruh retakan di tubuhnya.


Tubuhnya semakin bergetar hebat, wajah Empu Jayabaya terlihat ketakutan.


Sepasang matanya terlihat melotot lebar hampir melompat keluar dari lubang mata'nya.


Saat rembesan cahaya Panca Warna semakin banyak, hingga keluar dari lubang Panca Indra Empu Jayabaya .


"Blaaarrrr...!"


Segera terjadi ledakan dahsyat yang membuat tubuh Empu Jayabaya meledak hancur berkeping-keping bertebaran di udara dalam serpihan kecil kecil.


Kabut darah tersebar kesegala arah, seperti hujan gerimis membasahi bumi.


Bias energi ledakan tubuh Empu Jayabaya yang menyimpan energi yang begitu besar yang tertampung di dalam tubuhnya.


Langsung melesat kesegala arah, berubah menjadi mata pedang yang menembus siapapun yang di lewatinya.


Padri Tua kembali membentuk lonceng hitam, melindungi diri mereka.


Sehingga hanya terdengar suara berdentang keras, saat energi mata pedang, membentur Genta hitam pelindung, milik kedua Padri Tua itu.


"Tangggg..!"


"Tangggg..!"


"Tangggg..!"


"Tangggg..!"


Tapi situasi berbeda terjadi pada pasukan berkuda Mongolia yang berada di sekitar sana.


Baik kuda maupun pasukan Mongolia, begitu tubuh mereka tertembus energi pedang.


Mereka langsung roboh sambil menjerit ngeri, dengan tubuh berlubang berlumuran darah.


YeSe Bu Hua selamat, karena dia mampu membentuk pelindung diri, dengan ilmu Genta Hitam yang pernah di ajarkan oleh Samsara ke dia.


Beberapa luka gores di pipinya, punggung dan lengan, akibat terlambat membentuk perisai pelindung Genta hitam melindungi diri.


Berhasil di sembuhkan oleh ilmu Panca Sona yang berhasil dia kuasai sebagian.


YeSe Bu Hua berotak encer dan berbakat, sehingga dia bisa menguasai ilmu itu jauh lebih baik dari Empu Ranubhaya.

__ADS_1


Dia hanya perlu waktu lebih banyak dan tenaga sakti lebih banyak, untuk bisa merampungkan ilmu itu hingga ke puncaknya.


__ADS_2