
Melihat mereka sudah jatuh
terkapar di atas tanah dalam keadaan tak berdaya.
Nan Thian segera melepaskan hantaman tapaknya keatas tanah.
"Tapak es surgawi..!'
"Brakkkkk...!"
Muncul bekuan es di atas tanah yang di hantam oleh telapak tangan Nan Thian .
Bekuan menyebar dengan sangat cepat, dan segera meluas, semua yang di lewati oleh bekuan es diatas tanah, separuh badan kebawah langsung membeku.
Mereka yang terbaring merintih diatas tanah, kini separuh badan nya terkunci oleh es beku.
Tidak dapat lagi digerakkan, mereka kini terkunci di sana tidak mampu bergerak.
Setelah menyelesaikan perlawanan 500 pasukan Mongolia.
Nan Thian tanpa menoleh berkata,
"Adik Hung ayo kita pergi, biarkan mereka hidup dan musnah dengan sendirinya.."
Siao Hung mengangguk cepat, lalu dia segera berlari menyusul Nan Thian meninggalkan tempat tersebut.
Hanya dengan beberapa kali lompatan ringan, Nan Thian sudah membawa Siao Hung pergi jauh meninggalkan tempat tersebut.
Nan Thian yakin setelah dia pergi, penduduk pasti akan keluar dari persembunyiannya.
Mereka pasti akan membantai pasukan Mongolia itu hingga tidak bersisa.
Itu adalah yang pantas di terima oleh pasukan Mongolia itu, tanam apel tumbuh apel, sesuai dengan karma yang mereka tanam.
Nan Thian melanjutkan perjalanan yang sudah semakin mendekati kota An Hui.
Semakin mendekati kota An Hui, kezaliman yang di temukan nya semakin banyak.
Untuk itu Nan Thian dan Siao Hung terus bertempur membasmi Angkara murka tanpa henti.
Siao Hung yang mengikuti disamping Nan Thian menghadapi begitu banyak pertempuran.
Kemampuan dan insting bertarungnya meningkat pesat, apalagi setelah Nan Thian memberikan hafalan ilmu pernafasan 9 matahari dan Ih Jin Jing untuk di latih oleh Siao Hung .
Siao Hung mengalami peningkatan pesat dalam tenaga dalam nya.
Sehingga gadis tersebut kini semakin berbahaya bagi lawan lawannya.
Setelah melalui perjuangan panjang, Nan Thian akhirnya tiba juga di kota An Hui.
Saat memasuki kota An Hui mengikuti antrian masyarakat.
Nan Thian sudah merasakan kejanggalan ada banyak pasang mata mengawasinya.
Saat giliran dirinya di periksa pun dengan mudah dia di biarkan masuk kedalam kota.
Tapi begitu dia masuk kedalam kota, Nan Thian pun menyadari kota itu ternyata sudah sepi di dalamnya.
Pintu gerbang kota segera di tutup dengan rapat, dari berbagai sudut di posisi ketinggian sana.
Pasukan Monggolia muncul dengan busur ditangan, lengkap dengan anak panah yang sudah terpasang.
__ADS_1
Setiap saat bisa di lepaskan mengarah ke diri nya dan Siao Hung .
Sesaat kemudian dari berbagai sudut pasukan tombak dan tameng berlarian muncul menghampiri tempat tersebut.
Nan Thian sadar sepenuhnya, jebakan ini memang sudah di persiapkan dari awal, khusus untuk menjamu kedatangannya.
Nan Thian tetap tenang di posisinya, sambil menunggu munculnya pentolan yang menjadi pimpinan tertinggi dari misi ini muncul.
Dia baru akan memulainya.
Siao Hung di samping Nan Thian juga terlihat sudah siap dengan pedang lenturnya di tangan.
Bersiap menghadapi apapun yang akan terjadi tanpa rasa gentar sedikitpun.
Nan Thian diam diam kagum dengan keberanian gadis di sebelah nya ini.
Padahal kemampuan jauh dari kata cukup untuk menghadapi situasi seperti ini.
Tapi ketenangan dan keberaniannya sungguh mengagumkan.
Nan Thian diam diam jadi teringat akan Zi Zi bibi guru kecilnya tersebut.
Mereka berdua memiliki banyak kesamaan sifat.
Andaikan yang di sampingnya saat ini adalah gadis tersebut, maka alangkah bahagianya dirinya saat ini.
Batin Nan Thian di dalam hati.
Sesaat setelah seluruh pasukan Monggolia sudah berbaris rapi mengepungnya.
Dari tempat yang agak jauh darinya akhirnya muncul seorang pria tinggi besar, berpakaian baju zirah perang berlapiskan emas.
Kepalanya botak di tengah, di kepang di kanan kiri sebatas bahu.
Sepasang cuping telinga nya di tindih dan di pasangi giwang bulat besar .
Nan Thian menafsir orang tersebut pasti adalah Do Ku Jendral militer kerajaan Mongolia yang memimpin Musi penahlukkan kota An Hui .
Di depan jendral itu, di posisi yang lebih rendah berdiri 3 pria asing berhitung bengkok seperti paruh rajawali, dengan sepasang mata mencorong cekung kedalam.
Mereka berpakaian putih panjang kebawah dengan kain dililitkan di atas kepala .
Nan Thian menebak mereka lah tiga orang asing yang sama dengan Zul yang sudah dia bunuh sebelumnya.
Melihat semua yang di nanti nantikan nya telah hadir di sana.
Nan Thian segera mencabut pedang panca warna nya.
Nan Thian berdiri tenang dengan pedang pancawarna terhunus.
"Apa yang di sana adalah Do Ku, dan tiga jagoan dari negeri Persia..!?'
"Ha...ha...ha...ha...!"
Do Ku langsung mengeluarkan suara tawa keras nya.
Sesaat kemudian dia berkata,
"Bagus,.. kamu termasuk punya pandangan dan pengetahuan baik.."
"Sayang kita harus berdiri di pihak berlawanan, tapi bila kamu berubah pikiran.."
__ADS_1
"Ingin menyerah kepada kerajaan Mongolia yang Agung, aku bersedia memberi satu tempat mu mengabdi.."
"Bagaimana..?"
Ucap Do Ku sambil tersenyum mengejek.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Sayang nya aku tidak berminat, aku lebih berminat mengambil nyawa anjing mu...!"
Selesai berkata Nan Thian langsung melesat ke udara, melepaskan Tebasan Pedang Naga Es dan Phoenix Api menerjang kearah Do Ku.
Bayangan Naga Es dan Phoenix Api segera melesat menerjang kearah Do Ku memecah pasukan tameng dan tombak yang berlapis lapi menjaga keamanan Do Ku.
"Wuttttttt...!"
"Brakkkk..!"
Brakkkk..!"
Brakkkk..!"
Brakkkk..!"
Pasukan tameng dan tombak yang berlapis lapis langsung berhamburan terbang keudara.
Seperti di sapu angin badai dahsyat, saat Naga Es dan Phoenix Api melintas lewat.
Sebentar saja kedua mahluk itu sudah hampir mencapai posisi di mana Do Ku berada.
Salah satu dari tiga pria asing itu, dia segera bergerak duluan kedepan membentuk sebuah perisai cahaya hijau, dengan manta mantra rune kuno di tengah lingkaran perisai cahaya tersebut.
"Blaaarrrr...!"
Terjadi ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh tempat tersebut.
Pria asing itu terdorong mundur dua tindak, tapi dia berhasil menggagalkan serangan pertama Nan Thian .
"Jose... apa kamu baik baik saja..?"
Tanya kedua rekannya yang lain khawatir.
"Tenang saja aku masih mampu.."
Jawab Jose dalam bahasa Persia.
Do Ku di belakang mereka, segera memberi kode Agara pasukan panahnya bergerak.
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
Anak panah dari segala penjuru segera berhamburan menyerang kearah Nan Thian dan Siao Hung .
Tapi semua anak panah itu tertahan di udara.
__ADS_1
Tidak ada yang mampu mendekati Nan Thian dan Siao Hung .
Perisai energi panca warna bergerak melindungi mereka berdua.