PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
Kolam air terjun


__ADS_3

Zi Zi tersenyum dan berkata,


"Ya aku tahu kekhawatiran mu, kamu tenang saja.."


"Aku bisa melakukannya sendiri.."


Zi Zi berbicara sambil mengencangkan kain ikat pinggang yang di lilitkan di pinggang putri nya, yang terikat erat di belakang punggungnya.


Ying Ying terlihat merangkul leher ibu nya dengan sepasang tangan kecilnya.


Nan Thian hanya memperhatikan saja persiapan yang sedang di lakukan oleh istrinya.


Setelah Zi Zi merasa posisi putrinya di belakang punggung sudah aman, Nan Thian juga sudah membantu memeriksa nya.


Dengan ilmu ringan tubuhnya, dia langsung melompat menyeberangi jurang lebar yang ada di hadapannya.


Ying Ying yang sempat melihat ibunya membawanya terbang menyeberangi jurang yang begitu lebar dan dalam.


Dia langsung memejamkan matanya, tidak berani melihat kebawah.


Zi Zi berhasil tiba di seberang jurang, lalu dia mulai bergelantungan dan berlompatan ringan di dinding tebing curam terjal, yang terletak di seberang jurang sana.


Nan Thian segera menyusul terbang menyeberangi jurang lebar, sambil menggendong peti mati yang berisi Siao Hung di dalam sana.


Nan Thian terbang mengikuti di belakang pergerakan Zi Zi, Nan Thian terus memantau setiap pergerakan Zi Zi.


Dia bisa saja langsung terbang naik ke puncak tebing.


Tapi Nan Thian tidak melakukan nya, dia terus mengawal pergerakan Zi Zi yang terus bergerak berlompatan ringan menuju puncak tebing.


Beberapa saat kemudian, Zi Zi akhirnya berhasil tiba di puncak tebing dengan selamat, bersama putrinya yang tergantung di balik punggung nya.


Nan Thian menyusul di belakang Zi Zi, dengan peti mati yang di gendongnya di pundak.


"Nan Thian ke ke akhirnya kita kembali juga ke rumah lama kita.."


Ucap Zi Zi sambil menurunkan Ying Ying dari punggungnya.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Istri ku, kamu periksalah dulu keadaan rumah kita bersama Ying Ying.."


"Aku mau ke Gua Api surgawi sebentar.."


"Nanti setelah selesai, aku akan bantu kamu beres beres dan perbaiki bagian rumah yang rusak.."


Zi Zi mengangguk dan berkata,


"Baiklah kamu pergilah, biar aku di bantu Ying Ying membereskan rumah.."


"Ying Ying kamu mau kan bantu ibu membereskan rumah..?"


Ying Ying mengangguk dan berkata,

__ADS_1


"Ying Ying mau Bu,.. tapi Ying Ying lapar.."


Mendengar ucapan putri mereka, Nan Thian dan Zi Zi saling pandang mereka berdua tertawa bersama.


Nan Thian segera mengeluarkan perbekalan makanan dari cincinnya, dia serahkan ke Zi Zi dan berkata,


"Istri ku kamu uruslah dulu makannya Ying Ying , ini salah kita terlalu buru buru hingga lupa mengajaknya makan tadi.."


"Kasihan dia belum makan dari pagi, pantes aja dia lapar.."


Zi Zi mengangguk dan berkata,


"Kamu sendiri juga belum makan, mau ikut makan dulu tidak..?"


Yue Nan Thian menggeletakkan kepalanya dan berkata,


"Kalian duluan saja, aku belum lapar ."


Zi Zi mengangguk lalu dia mengajak Ying Ying putrinya, menuju bagian depan rumah.


Di mana di depan rumah ada sebuah pondok tempat peristirahatan terbuka.


Di sana Zi Zi duduk sambil mengurus makan putrinya yang sudah lapar.


Sedangkan Nan Thian dia sudah menghilang dari sana, saat muncul lagi dia sudah berada didepan Gua api surgawi.


Nan Thian membawa peti mati berisi jasad Siao Hung masuk kebagian paling dalam Goa.


Di atas meja altar batu alam yang tebal itu, peti dan jenazah Siao Hung akhirnya di letakkan oleh Nan Thian.


Nan Thian berdiri memejamkan sepasang matanya sejenak di hadapan jenazah Siao Hung.


Selesai mengheningkan cipta, Nan Thian berkata pelan,


"Adik Hung,.. aku akan menebus kesalahanku dengan menemukan kembali putra kita.."


"Meski harus berkorban nyawa, aku juga tidak akan mundur.."


"Aku pasti akan mencarinya sampai ketemu.."


"Kamu beristirahatlah dengan tenang, maafkan aku Siao Hung.."


"Semoga di kehidupan berikutnya kamu bisa menemukan pria yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab.."


Selesai berkata, Nan Thian mulai menyalakan dan membakar kertas sembahyang buat Siao Hung.


Setelah selesai dan habis semua kertas sembahyang di bakar, Nan Thian maju kedepan.


Dia menatap sedih kearah wajah Siao Hung yang cantik, dan terlihat seperti sedang tidur.


Nan Thian mengulurkan tangannya menyentuh wajahnya dengan lembut.


Setelah itu sambil menghela nafas panjang, Nan Thian menarik kembali tangannya dan berbisik pelan,

__ADS_1


',Kamu beristirahatlah, bila ada waktu aku baru kembali menjenguk mu.."


Selesai berkata, sambil menghapus dua butir air mata nya yang runtuh.


Nan Thian akhirnya bergerak mundur menjauhi peti jenazah Siao Hung.


Lalu dia segera membalikkan dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Nan Thian saat kembali ke rumah nya di atas sana, dia menemukan Zi Zi di bantu. oleh Ying Ying .


Mereka berdua terlihat sedang sibuk menyapu dan mengepel rumah tempat tinggal mereka, yang terlihat kotor penuh debu dan sarang laba laba.


Nan Thian segera ikut bergabung, membantu memperbaiki bagian rumah yang rusak mengikuti arahan Zi Zi yang sudah melakukan pemeriksaan duluan.


Menjelang sore, mereka bertiga setelah bekerja keras sama, bahu membahu, akhirnya selesai juga pekerjaan mereka membuat tempat itu layak di tinggali.


Setelah bagian dalam selesai, Nan Thian melanjutkan dengan membersihkan bagian dapur.


Agar Zi Zi nyaman saat ingin menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga .


Dari bagian dapur Nan Thian berpindah ke bagian halaman samping memperbaiki tanaman sayuran yang terbengkalai.


Banyak yang mati, harus di bersihkan dan di tanam ulang .


Baru dia melanjutkan kehalaman depan mengurus tanaman bunga bunga kesukaan Zi Zi.


Nan Thian. bekerja hingga larut malam, saat akhirnya semuanya selesai.


Saat kembali ke dalam rumah, Nan Thian menemukan Zi Zi dan putrinya sudah tidur.


Nan Thian setelah membantu menyelimuti mereka berdua.


Dia kembali keluar dari dalam rumah, pergi ke kolam air terjun di belakang rumah, untuk mandi dan berendam di sana.


Di saat Nan Thian sedang asyik berendam seorang diri, tiba tiba dia tersenyum saat mendengar suara langkah kaki halus ikut menyusul.


Sepasang lengan putih halus lembut melingkar di depan dada Nan Thian .


Nan Thian sambil tersenyum berkata,


"Malam malam kamu menyusul kemari tidak dingin apa..?'


"Kan ada kamu.."


Jawab suara lembut itu dari belakang.


Nan Thian menoleh kebelakang sepasang bibir pun bertaut menjadi satu.


Nan Thian memutar tubuhnya menghadap kebelakang, sehingga kini posisinya dan istrinya jadi saling berhadap-hadapan.


Zi Zi duduk di dalam pangkuan Nan Thian sambil melingkarkan sepasang kakinya di pinggang belakang Nan Thian .


Sesaat kemudian hanya bintang bintang yang bertaburan di angkasa, yang menjadi saksi bisu kemesraan suami istri itu.

__ADS_1


__ADS_2