PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
WAKTU BERLALU DENGAN CEPAT


__ADS_3

Kim Kim yang melihat situasi menjadi kacau, dia buru-buru menarik tangan Thian Yi dan menggelengkan kepalanya.


Kim Kim memberi kode agar Thian Yi pergi dari sana, jangan ikut campur.


Thian Yi terlihat ragu dan ingin membantah.


Tapi melihat tatapan mata penuh permohonan istrinya.


Dia akhirnya menghela nafas panjang, menyimpan kembali pedang nya.


Lalu tanpa banyak bicara, dia langsung berjalan pergi menjauh.


Setelah Thian Yi pergi, Kim Kim dengan kepala tertunduk berkata,


"Kakak maafkan sikap Thian Yi, dia seumur hidup lebih banyak bergaul dengan pedang, ketimbang orang..."


"Harap kakak tidak ambil hati dengan nya ."


Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,


"Dia suami mu, dia juga adalah keluarga.."


"Aku mana mungkin mengambil hati dengan nya.."


"Lebih baik kita kembali ke pokok masalah.."


"Kamu tahu dengan jelas aku tidak suka kamu banyak membunuh.."


"Alasannya pun kamu tahu.."


"Jadi sekarang katakan saja, berapa banyak manusia yang kamu bunuh..?"


Kim Kim mengangkat sedikit wajahnya melirik kearah Nan Thian dan berkata,


"Aku cuma menelan Kwee Sin, Thio Hui, dan Zhang Shizheng.."


Nan Thian tersenyum kecut dan berkata,


"Yang jujur, kamu tidak bisa tutupi itu dari ku.."


Kim Kim dengan wajah takut takut menunjukkan 3 jari nya.


"Berapa 30.000,..?"


Tanya Nan Thian.


Kim Kim menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak kak,.. mereka tidak mau menyerah, setelah mendengar iming iming hadiah dari Zhang Shizheng.."


Nan Thian menggertakkan gigi nya dan berkata,


"Jadi berapa..?'


Kim Kim dengan wajah takut takut berkata,


"Tidak banyak cuma 300.000..tidak lebih tidak kurang.."


Mendengar ucapan Kim Kim, Nan Thian terbelalak kaget.


Seluruh tubuhnya gemetar menahan amarah.


Aura gabungan tiga energi langsung terpancar dari tubuhnya, memberikan intimidasi kuat kearah Kim Kim.


Kim Kim terkejut, dia melangkah mundur dua tindak kebelakang dengan wajah pucat pasi.


Thian Yi sudah kembali muncul menghadang di depan istrinya dengan sikap yang tidak kalah mengancam.


Yue Lin buru buru maju menengahi dan berkata,

__ADS_1


"Adik ku, dengarkan aku.."


"Kim Kim dan Thian Yi kamu serahkan di bawah pengawasan ku.."


"Ada kejadian ini, kamu tidak boleh menyalahkan mereka.."


"Bagaimana pun mereka hanya menjalankan tugas..'


"Bila kamu ingin menghukum hukumlah aku.."


"Akulah yang harus bertanggung jawab.."


Ucap Yue Lin tegas.


Nan Thian menjadi ragu, dan tidak tahu harus mengambil sikap seperti apa, menghadapi situasi ini.


Di saat Nan Thian sedang ragu, tiba tiba terdengar suara teriakan dari pengawal penjaga di rumah Nan Thian.


"Yang Mulia Raja Zhu Yuan Zhang tiba...!"


Mendengar suara itu, Yue Lin lebih dulu berlutut kearah Zhu Yuan Zhang yang sedang berjalan menuju tempat itu, di bawah pengawalan, Xu Da, Zhang Yu Chun, Lan Yu, dan Tang He.


Zhu Ying Mei dan putrinya juga ikut berlutut mengikuti Yue Lin.


Hanya Nan Thian dan kawan kawannya yang hanya mengambil sikap menjura saja ke Zhu Yuan Zhang.


Mereka tidak ikut berlutut di hadapan Zhu Yuan Zhang.


Zhu Yuan Zhang sendiri terlihat tidak mempermasalahkan hal itu, dia membantu menantu, putrinya, dan cucunya bangkit berdiri.


Sambil berkata,


"Tak perlu peradatan.."


"Berdirilah kalian.."


Selesai berkata, Zhu Yuan Zhang langsung menghampiri Nan Thian dan berkata,


"Terimakasih banyak atas jasa besarnya merebut kota An Hui dan Kai Feng untuk mendukung perjuangan kita kita..dalam rangka mengusir penjajah ."


Nan Thian segera balas menjura dan berkata,


"Yang Mulia terlalu sungkan, itu semua sudah menjadi tugas dan kewajiban ku, sebagai anak bangsa.."


Zhu Yuan Zhang mengangguk dan tersenyum puas, lalu berkata,


"Ping An Wang,..masalah Ping An Kung Cu.."


"Aku harap Ping An Wang tidak menyalahi nya.."


"Begitupula Yue Lin kakak mu.."


"Mereka semua hanya menjalankan perintah dan tugas dari ku ."


"Bila Ping An Wang merasa mereka bersalah atas kematian prajurit prajurit Zhang Shizheng.."


"Di mana dalam situasi kondisi perang, itu adalah suatu dilema.."


"Apalagi mereka tidak bersedia menyerah.."


"Semua itu terjadi karena terpaksa keadaan.."


"Saya harap Ping An Wang bisa memaklumi dan tidak menyalahkan mereka lagi.."


"Bila mau di persalahkan, biarlah aku yang akan gantikan mereka semua menerima hukuman dari Ping An Wang aku sudah siap untuk itu.."


Ucap Zhu Yuan Zhang serius.


"Yang mulia jangan..!"

__ADS_1


Teriak Cu Da dan yang lainnya kaget.


Tapi Zhu Yuan Zhang mengangkat tangannya dan berkata,


"Ini sudah jadi keputusan ku, bahkan sebelum aku meminta Ping An Kung Cu dan suaminya maju ke garis depan.."


"Aku sudah paham akan ada resiko seperti ini.."


"Sendiri berbuat tentu sendiri harus bertanggung jawab.."


"Silahkan saja.."


Ucap Zhu Yuan Zhang sambil menatap Nan Thian dengan pasrah.


Nan Thian semakin serba salah, akhirnya dia berkata,


"Baiklah ,.. masalah ini kita anggap selesai.."


"Tapi Kim Kim kamu harus ingat ini peringatan terakhir dari ku.."


"Mulai saat ini kamu tidak boleh sembarangan makan orang lagi.."


"Kamu tidak boleh ikut dalam pertempuran melawan yang bukan lawan mu.."


"Paham kamu..!"


Tegur Nan Thian tegas.


Kim Kim kembali bisa tersenyum lega, dia buru-buru menganggukkan kepalanya dan mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya, menghadap kearah Nan Thian dan berkata,


"Baik kak Kim Kim janji.."


Nan Thian pun kembali tersenyum, dia membentangkan kedua tangannya.


Kim Kim segera berlari masuk kedalam pelukannya.


Mereka berdua kakak beradik,sahabat akrab, sehidup semati .


Kini terlihat saling. berangkulan dengan penuh haru, baik Kim Kim maupun Nan Thian , sepasang mata mereka sana sama terlihat berkaca-kaca.


Cukup lama mereka berdua saling rangkul melepaskan perasaan mereka masing masing.


Kini semua yang hadir di sana mulai bisa kembali tersenyum lega.


Bahkan Thian Yi si patung, sambil tersenyum,.dia diam diam menghapus dua butir air hangat di kedua sudut matanya .


Sesaat kemudian mereka semua kembali berkumpul menjadi sebuah keluarga besar .


Makan ngobrol bercanda dan tertawa bersama dalam suasana yang penuh dengan keakraban dan ikatan persaudaraan yang kuat.


Menjelang tengah malam setelah pesta bubar, maka semua pun kembali ketempat tinggal masing masing.


Zi Zi juga sudah kembali ke kamarnya.


Begitupula dengan Thian Yi.


Di sana kini hanya tersisa Kim Kim dan Nan Thian yang masih makan dan minum bersama.


Sesaat kemudian mereka berdua saling tatap hingga akhirnya mereka berdua sama sama tertawa gembira.


Nan Thian kemudian bangkit berdiri, lalu dia berjalan menghadap kearah kolam, di mana terlihat jelas.


Bayangan rembulan terpantul di atas air kolam bunga teratai yang bermekaran indah di sekitarnya.


Nan Thian sambil menghela nafas panjang berkata,


"Kim Kim tidak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat.."


"Aku merasa pertemuan pertama kali kita, yang terjadi tanpa di sengaja itu. "

__ADS_1


"Terjadinya seperti baru kemarin saja. "


__ADS_2