
Sebelum Siao Hung ung melakukan lebih jauh, menuntaskan nyawa Nan Thian.
Semburan darah dari perut dan mulut Nan Thian segera membasahi wajah Siao Hung .
Semburan darah itu seolah olah adalah obat, yang membantu menyadarkan Siao Hung dari racun, yang telah menguasai pikiran dan alam kesadarannya.
Begitu sadar Siao Hung sangat terkejut dengan apa yang terjadi di hadapannya.
Dia otomatis melepaskan pedangnya lalu berlari maju untuk memeluk Nan Thian .
Dengan wajah basah airmata bercampur darah, Siao Hung maju untuk membantu menyangga tubuh Nan Thian .
"Maafkan aku Nan Thian ke ke..!"
"Ahhh,.. apa yang telah ku lakukan..?!"
"Mengapa jadi begini..!?"
"Aku sungguh sungguh bodoh.."
"Maafkan aku Nan Thian ke ke.."
"Kamu bertahanlah.."
"Aku,..aku pasti akan berusaha menyelamatkan mu.."
"Ahhh..apa yang harus aku lakukan..!?"
Teriak Siao Hung yang terlihat bingung dan panik.
Nan Thian balas memeluk Siao Hung dan berkata pelan di samping telinga Siao Hung .
"Siao Hung kamu tenanglah.."
"Aku tidak apa-apa.."
"Jangan panik.."
"Tarik pedang mu..habisi mereka bertiga.."
"Itu yang penting.."
Siao Hung menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku,.. aku,.. tidak bisa.."
Nan Thian kembali berbisik pelan,
"Lakukan saja, agar aku bisa meregenerasi luka.."
"Kamu harus habisi mereka, rebut sempritan itu, atau kita semua akan celaka.."
"Demi Siao Lung putra kita, kamu harus bisa.."
Ucap Nan Thian asal tebak, yang penting bisa bangkitkan semangat Siao Hung .
Benar saja Siao Hung mengangguk cepat dan berkata,
"Ba.. baiklah..demi anak kita.."
"Berjanjilah kamu harus bertahan.."
Nan Thian tidak mampu banyak bicara lagi, dia harus mengatur pernafasannya untuk mengurangi kerusakan semakin parah.
Jadi dia hanya bisa mengangguk pelan.
Siao Hung sambil mengeraskan hati, memejamkan sepasang matanya.
Dengan gerakan cepat dia mencabut pedang birunya.
__ADS_1
"Crashhh..!"
"Arghh..!"
Pedang tercabut Nan Thian mengeluh kecil, tubuh' langsung jatuh terduduk diatas tanah.
Nan Thian buru buru mengambil posisi duduk bersila, dengan sisa tenaganya, dia menotok beberapa titik jalan darah di sekitar luka perutnya.
Lalu dia segera mengatur pernafasan dan Chi nya untuk meregenerasi luka.
Mendorong sum Sum tulangnya untuk membantu meregenerasi sel dan memproduksi darah murni baru.
Untungnya tulang sum sum darah semua sudah Nan Thian tingkatkan hingga puncak kesempurnaan.
Jadi hanya perlu waktu bagi dia untuk menyembuhkan diri dari luka tersebut.
Sementara Nan Thian sedang meregenerasi luka.
Siao Hung kini justru mengalihkan perhatian nya kearah ketiga pimpinan sekte dengan penuh kemarahan dan kebencian.
Siao Hung melesat kearah mereka sambil berteriak.
"Tebasan Alam Semesta Kekal Tak Bertepi..!"
Cahaya biru dari pedang Siao Hung meluncur dahsyat bagaikan putaran mata bor meluncur ke arah perisai berlian yang terdiri dari tiga lapis.
Siao Hung yang bergerak bersama cahaya pedang biru, terlihat di dukung oleh bayangan Dewi Es yang menyertai gerakan nya
"Blaaarrrr...!"
Belum juga pedang tiba, dua lapis perisai Genta berlian, sudah meledak di hancurkan oleh hawa pedang Siao Hung .
Ketiga pimpinan sekte terlihat panik dan ketakutan, pimpinan sekte ketiga dengan gerakan gugup segera mengeluarkan sempritan nya.
Dia meniupnya untuk mengontrol kesadaran Siao Hung .
Sedangkan pimpinan sekte kedua di bantu pimpinan sekte pertama mereka berdua bekerjasama mencoba untuk bertahan sebisa mungkin dari serangan Siao Hung .
Siao Hung terlihat mendarat keatas tanah, sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit luar biasa.
Tapi dia terus bertahan bayangan wajah Nan Thian dan putranya silih berganti muncul di dalam pikirannya.
Menjadi penguat tekad Siao Hung untuk berjuang melawan suara itu.
Berjuang mempertahankan kesadarannya, Siao Hung menggunakan Chi untuk menutup beberapa titik Meridian pendengaran nya.
Mematikan syaraf Indra pendengarannya dengan cara ini, dia bisa mengurangi pengaruh suara dari luar.
Setelah kesadarannya pulih, Siao Hung segera melanjutkan serangannya.
Di mana Genta berlian baru terlihat berhasil di perbaiki lapis kedua nya.
Siao Hung sudah kembali datang melanjutkan serangan dahsyat nya.
"Blaaarrrr sekali lagi terjadi ledakan, Genta berlian hancur berkeping-keping.
Pedang Siao Hung berhasil membelah tubuh pimpinan sekte pertama dan kedua, terbelah menjadi dua potong daging yang meledak kedua arah .
Sedangkan tokoh pimpinan sekte ketiga, meski berhasil meloloskan diri dengan melompat mundur.
Tapi dia kehilangan sempritan di tangannya karena telah di.ledakan oleh energi.pedang Siao Hung .
Pimpinan sekte ketiga melompat berdiri, kemudian dia menghimpun kekuatan nya.
Untuk bersiap melakukan perlawanan terakhir ke Siao Hung .
Siao Hung menunjuk kearah wajah pimpinan ketiga dengan pedang nya.
"Katakan di mana putra ku di tahan, aku akan ampuni nyawa mu.."
__ADS_1
Ucap Siao Hung dengan nada suara dingin.
Pimpinan sekte ketiga tersenyum mengejek dan berkata,
"Selain guru ku tidak ada yang tahu, kemana mereka pergi.."
"Jadi kamu hemat saja energi mu.."
"Aku tidak akan pernah bisa memberitahu mu.. karena aku juga tidak tahu.."
Siao Hung mendengus kesal dan berkata,
"Kalau begitu kamu boleh mampus menyusul mereka.."
Selesai berkata,
Siao Hung sudah menghilang dari posisinya, saat muncul lagi di hadapan pimpinan sekte ketiga.
Siao Hung memberikan satu Tebasan cepat kearah leher pimpinan sekte ketiga.
Sebelum cakar pimpinan Sekte ketiga sampai kearah wajah Siao Hung .
Tubuhnya sudah roboh dengan kepala terpental menggelinding di atas tanah.
Setelah berhasil membereskan pimpinan sekte ketiga, Siao Hung baru membalikkan badannya.
Melihat kearah Nan Thian, yang sedang duduk berjuang memulihkan luka tusukan pedang di perutnya.
Siao Hung segera menghampiri Nan Thian lalu duduk di sampingnya dan berkata,
"Nan Thian ke ke bagaimana keadaan mu.."
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Masih hidup, nyawa ku keras tidak semudah itu mati.."
"Kamu pergilah cepat temukan Siao Lung putra kita.."
"Aku disini baik baik saja.."
"Aku bisa urus luka ini.."
Siao Hung menatap kearah Nan Thian dengan khawatir, dia maju memegangi dada Nan Thian dengan lembut dan berkata,
"Kamu yakin..?"
"Apa tidak sebaiknya, aku membawamu kembali ke dia..?"
"Biar dia menjaga mu..?"
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak aku di sini saja, kamu pergilah temukan putra kita.."
Siao Hung mengangguk pelan dan berkata,
"Baiklah,.. "
"Jaga diri.."
Selesai berkata, Siao Hung sudah melesat pergi menuju sebuah lorong gelap yang terlihat muncul di sana.
Setelah pertempuran dahsyat meluluh lantakkan berbagai lapisan dinding buatan manusia.
Goa gelap itu adalah terowongan alam asli, buatan alam.
Jadi masih kokoh berdiri di sana.
Siao Hung dalam sekejap mata sudah menghilang dari tempat itu.
__ADS_1
Nan Thian setelah menghabiskan beberapa waktu di tempat itu, mengobati lukanya, hingga akhirnya sembuh total.
Dia baru bergerak cepat menyusul kearah Goa gelap, tempat Siao Hung tadi menghilang.