PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
ZHU YUAN ZHANG DAN ROMBONGAN NYA TIBA


__ADS_3

"Zi Zi mei mei, bagaimana keadaan mu saat ini..?"


"Hufff...!"


"Maafkan aku Sun er..."


"Hufff..!"


Gumam Nan Thian dengan ekspresi wajah di penuhi penyesalan mendalam.


Ada duka derita yang hanya dia sendiri yang tahu dan merasakannya.


Tidak ada jalan keluarnya, selain dia telan semua.


Hanya helaan nafas berulang yang sedikit membantu mengurangi himpitan perasaan di dalam hati nya.


Nan Thian selagi termenung, menangkap suara desir halus di belakangnya dan mencium wangi khas yang berasal dari sahabatnya.


"Kim Kim kenapa lama sekali, kamu kemana saja.."


Tegur Nan Thian pelan.


Kim Kim dengan airmata bercucuran dan agak sedikit mewek menahan tangis dia berkata,


"Kakak jangan berbalik,.. jangan menoleh.."


"Pinjamkan punggung mu sebentar untuk ku..boleh..?"


Nan Thian mengangguk pelan dan kembali menghela nafas panjang dan berkata,


"Apa yang terjadi, ceritakan lah.."


Kim Kim menjawabnya dengan menubruk memeluk pinggang Nan Thian dari belakang.


Di situ dia menumpahkan seluruh kesedihan nya, sepuas puasnya.


Hanya bersama Nan Thian dia bisa bersikap bebas natural menjadi dirinya sendiri.


Bebas mengungkapkan apapun yang dia rasakan suka, duka, marah, kesal, benci, semua bebas dia ungkapkan.


Apapun yang dia rasakan tak perlu dia simpan, karena Nan Thian adalah satu satunya sahabat yang paling bisa dia percaya.


Nan Thian tidak bertanya lagi, dia berdiri diam. Sesekali dia menghela nafas panjang, menanggapi kesedihan, yang sedang di rasakan oleh sahabat nya tersebut.


Nan Thian dengan sabar menunggu hingga akhirnya tangisan Kim Kim mulai mereda.


Nan Thian baru kembali buka suara dan berkata,


"Apa yang sebenarnya terjadi ?"


"Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini.."


Kim Kim perlahan-lahan melepaskan pelukannya, dia mundur menjauhi Nan Thian .


Saat Nan Thian membalikkan badannya menghadap kearah Kim Kim.


Kim Kim justru membalikkan badannya menghadap kearah sisi menara yang berlawanan arah.


Sambil menyandarkan kedua siku tangan nya, di pagar pembatas menara.

__ADS_1


Kim Kim menghela nafas panjang, seperti melepas penat dan lelah di hatinya.


Sesaat kemudian dengan tatapan mata kosong seperti sedang menerawang kearah deretan bintang di angkasa sana.


Kim Kim perlahan lahan bercerita tentang apa yang dia alami selama beberapa waktu ini, setelah berpisah dari Nan Thian .


Nan Thian mendengarkan semua nya dengan sabar tanpa menyela sama sekali.


Setelah Kim Kim selesai bercerita, Nan Thian baru berkata pelan,


"Aku juga adalah korban perasaan seperti yang kamu alami.."


"Aku tentu saja mengerti apa yang kamu rasakan saat ini.."


"Aku sendiri juga belum sanggup menanganinya.."


"Aku tidak bisa berikan banyak nasehat pada mu.."


"Aku hanya bisa katakan pada mu, teruslah melangkah, serahkan semuanya kepada takdir.."


"Percayalah pada waktunya semuanya akan ada indah dan maknanya.."


"Hanya itu yang bisa aku katakan, karena sampai saat ini, aku juga masih sedang mencoba meyakinkan diri ku, akan prinsip tersebut.."


Kim Kim yang terlihat sedang termenung menatap angkasa, akhirnya menghela nafas panjang.


"Hufff..!"


Setelah itu dia kembali menoleh kearah Nan Thian sambil tersenyum, dia berkata,


"Kakak benar, sekarang aku sudah jauh lebih lega.."


"Terimakasih kak.."


"Ohh ya, bagaimana kabar dengan Yang Mulia dan kakak Lin..?"


"Kapan mereka akan tiba,? aku rasa seharusnya mereka sudah saat ini sudah tiba di Nan Jing."


Nan Thian mengangkat kedua bahunya dan berkata,


"Aku juga belum terima kabar dari mereka, kita sudah hampir 2 Minggu di tempat ini.."


"Seharusnya mereka juga hampir kembali ke sini.."


"Tapi entahlah, tugas kita kan menjaga kota ini saja.."


"Yang lain tak perlu terlalu di pikirkan.."


"Saat ini yang harus kita pikirkan adalah bagaimana menghadapi sekte golok iblis.."


"Menurut informasi dari mata mata jendral Wu, saat ini ancaman satu satunya, dari kelompok Zhang Shizheng adalah kelompok ini.."


"Selain kelompok ini, tidak akan ada lagi kelompok lainnya yang bisa Zhang Shizheng andalkan."


Kim Kim mengangguk dan berkata,


"Baiklah kak,.. kita tunggu saja,.. apa kira kira yang akan lawan lakukan selanjutnya.?"


"Aku agak lelah dan ngantuk, aku mau tidur dulu.."

__ADS_1


Ucap Kim Kim sambil menguap kecil.


Nan Thian tersenyum lembut dan berkata,


"Pergilah tidur, biar aku saja yang berjaga.."


"Aku belum begitu mengantuk.."


Kim Kim mengangguk pelan, lalu dia segera pergi berbaring miring tanpa menghiraukan Nan Thian lagi.


Tidak lama kemudian sudah terdengar suara dengkuran halus Kim Kim.


Nan Thian tersenyum melihat sahabatnya yang mulai bisa bersikap normal lagi.


Dia kembali duduk di pinggiran pagar pembatas melanjutkan lamunan nya.


Menjelang matahari terbit, rombongan besar Zhu Yuan Zhang beserta seluruh pasukannya, akhirnya mulai terlihat bergerak memasuki pintu gerbang selatan kota Nan Jing.


Kemunculan rombongan besar itu, langsung di sambut oleh Nan Thian Kim Kim dan jendral Wu Nan di pintu gerbang selatan.


Jendral Wu Nan terlihat berlutut dengan kaki sebelah sambil memberi hormat.


Sedangkan Nan Thian dan Kim Kim hanya menjura saja kearah kereta yang di tumpangi oleh Zhu Yuan Zhang dan istrinya.


Sesaat kemudian Zhu Yuan Zhang dan istrinya terlihat turun dari kereta.


Mereka berdua berjalan beriringan, di kawal oleh beberapa jendral kepercayaan nya.


Xu Da dan Yue Lin berjalan paling depan, diantara rombongan jendral yang ikut mengawal Zhu Yuan Zhang.


Zhu Yuan Zhang sambil tersenyum lebar segera berkata,


"Jendral Wu bangunlah, tak perlu peradatan.."


"Terimakasih banyak, beberapa waktu ini telah merepotkan mu menjaga keamanan kota Nan Jing..."


Wu Nan bangkit berdiri, dia buru buru menggoyangkan kedua tangannya kedepan dan berkata,


"Tidak Yang Mulia, Wu Nan tidak berani menerimanya.."


"Selama beberapa waktu ini, Nan Jing bisa tetap utuh tanpa kekurangan. Semuanya adalah berkat bantuan dari Yue Ta Sia dan Nona Kim Kim ini.."


"Wu Nan tidak berjasa apa apa..'


Zhu Yuan Zhang menoleh kearah Nan Thian dan Kim Kim, dia dan istrinya menjura memberi hormat kearah Nan Thian dan Kim Kim.


"Terimakasih banyak Yue Ta Sia dan Nona Kim Kim, jasa dan Budi baik kalian."


"Kami benar benar tidak tahu sampai kapan, baru bisa membalasnya.."


"Cuma sedikit jasa kecil Yang Mulia tak perlu membesarkan nya."


"Lagipula Yang Mulia belum melihat kekacauan yang kakak timbulkan di gerbang barat sana.."


"Sampai saat ini pun, sisa kekacauan di menara Pagoda, dan di menara pengawas pintu gerbang Utara.."


"Masih bisa menjadi saksi bisu kekacauan yang kakak ku tinggalkan buat Yang Mulia.."


Ucap Kim Kim polos sambil menertawai Nan Thian .

__ADS_1


Nan Thian tersenyum malu, membalas penghormatan Zhu Yuan Zhang dan berkata,


"Ucapan Kim Kim tidak salah, aku benar benar harus minta maaf ke Yang Mulua atas kerusakan beberapa bangunan penting di kota ini."


__ADS_2