
Peti yang di tabrak Sun Jian langsung pecah hancur berantakan, isinya jatuh tumpah berserakan di atas tanah.
Emas perak mutiara berceceran di sekitar tempat tersebut, harta yang tak terhitung harganya.
Yang di kumpulkan oleh penguasa di kota An Hui, untuk di setorkan ke Zhu Yuan Zhang sebagai modal untuk perang mengusir Mongolia.
Kini malah berserakan di atas tanah.
Sun Jian jatuh tergeletak, tidak jauh dari harta yang berserakan disekitarnya.
Dari mulut nya terlihat sun Jian memuntahkan darah segar berulang kali keatas tanah.
Dia berusaha bangkit, tapi selalu gagal.
Antara keinginan dan tenaga tidak mendukung.
Luka dalam yang dialaminya, oleh serangan tongkat lawannya, terlalu dahsyat.
Tubuhnya tidak kuat menerima nya.
Seluruh hawa murni nya pecah, tersebar, tidak mampu dia kumpulkan lagi.
Bahkan tulang dada dan rusuknya ada beberapa yang patah, rasa sakit yang di deritanya.
Tidaklah sembarang orang bisa menahannya.
Bisa tetap mempertahankan kesadarannya saja, sebenarnya sudah terhitung hebat.
Di tempat lainnya penghadang yang bertubuh tinggi besar, yang sedang mengepung Liu Cong Kuan .
Saat melihat Siao Hung meloloskan diri, dia segera berteriak, mengingatkan pamannya.
"Paman jangan biarkan kuda liar itu lolos paman..!"
"Ingat janji paman tadi..!"
"Lebih baik paman pergi tangkap dia untuk ku.,! "
"Tua Bangka yang hampir mampus ini tinggalkan saja.!."
"Setelah tua Bangka didepan ku mampus..!"
"Aku akan mengurusnya..!"
Mendengar permintaan keponakannya, pria itu mengangguk pelan.
Lalu dia segera melesat pergi mengejar kearah Siao Hung melarikan diri.
Sedangkan keponakannya langsung berteriak memberi perintah kepada rekannya.
"Cepat habisi tua Bangka ini..!"
Keempat rekannya mengangguk, lalu mereka segera mempergencar serangannya mendesak Liu Cong Kuan.
Sementara temannya mendesak Liu Cong Kuan dari depan dan samping kiri kanan.
Dia sendiri mengambil jalan memutar, lalu dari arah belakang , sambil bergulingan di atas tanah.
Dia menebas urat besar, di belakang sambungan lutut kaki Liu Cong Kuan.
"Sraaat...!"
Darah muncrat dari luka belakang lutut Liu Cong Kuan.
Liu Cong Kuan langsung di buat jatuh bertekuk lutut.
Liu Cong Kuan yang sedang menghadapi serangan dari depan dan kiri kanan.
Dia kurang waspada, tidak menyadari pergerakan lawannya yang licik dan curang itu.
Dia masuk dalam jebakan, kini posisinya menjadi lemah, sulit meneruskan perlawanan lagi.
Serangan berikutnya dari berbagai arah, hanya berhasil dia tangkis beberapa saja.
"Trangggg..!"
"Sraaat..!"
"Tranggg..,!"
"Crebbb...!"
__ADS_1
"Tranggg..!"
"Breeet..!"
"Trangggg...!"
"Crackkkk...!"
Selanjutnya Liu Cong Kuan dalam waktu singkat sudah berubah menjadi potongan tubuh berserakan.
Di tempat lain anak buah Liu Cong Kuan juga tidak ada yang selamat, satu persatu tewas di bantai oleh para penghadang, yang berpakaian hitam hitam itu
Setelah berhasil membereskan Liu Cong Kuan secara sadis.
Kini mereka berlima datang mengepung Sun Jian, yang sudah terluka parah tidak sanggup berdiri.
Penghadang bertubuh tinggi besar itu, segera memberi kode agar rekan nya menyerang Sun Jian.
Keempat rekannya mengangguk patuh, mereka segera menggerakkan golok mereka sambil berteriak keras,
"Hyaaaaaat..!"
Teriak rekan rekannya berbarengan menyerang Sun Jian dengan golok mereka.
Sesuai dugaan pemuda itu, Sun Jian meski terluka, dia masih mampu memberikan perlawanan terakhir.
"Trangggg..!"
Sun Jian berhasil mementalkan serangan tebasan golok keempat orang itu.
Tapi dia tidak berhasil menghindari serangan diam diam, yang di lepaskan oleh pemuda itu dari arah belakang secara licik.
Hampir mirip dengan yang dia lakukan terhadap Liu Cong Kuan sebelumnya.
Hanya saja berbeda pergerakan nya saja, yang satu dengan bergulingan menyerang bagian bawah, yang ini memberikan tikaman secara langsung.
"Creebbb...!"
"Dessss ..!"
Golok pemuda itu dengan cepat menembus punggung Sun Jian, hingga ujungnya muncul di depan dada Sun Jian.
Sebelum Sun Jian sempat beraksi, sebuah tendangan di lepaskan oleh penghadang bertubuh tinggi besar itu dari belakang.
Hingga tubuh Sun Jian jatuh terguling dengan dada dan punggung berlubang, darah muncrat kemudian mengenang di sekitar tubuh Sun Jian, yang tergeletak miring diatas tanah.
Tanpa memperdulikan Sun Jian, penghadang bertubuh tinggi besar itu berkata,
"Cepat bereskan harta harta ini,!"
"Segera kalian cepat..! bawa pergi dari sini .!"
Selesai berpesan, dia segera berlari mengejar menyusul kearah Siao Hung melarikan diri.
Saat dia berhasil menyusul paman nya, dia melihat Siao Hung sudah jatuh tergelatak miring, dalam posisi tertotok jalan darahnya, tidak mampu bergerak.
"Keparat lepaskan aku,..!"
"Jangan mendekat..!"
Teriak Siao Hung ketakutan.
Saat dia melihat pemuda bertubuh tinggi besar itu sedang berjalan menghampirinya.
Pemuda itu melepaskan penutup wajahnya, sehingga kini terlihat jelas wajahnya.
Tidak salah lagi, dugaan Siao Hung sebelumnya.
Memang dia lah pemuda asing, yang pernah di hajar oleh Siao Hung dulu.
"Kuda binal ku yang manis, segera aku aku akan menunggangi mu.."
"Aku mau lihat setelah ini kamu masih mampu binal lagi tidak..?'
"Ha...ha...ha..ha..!"
Siao Hung semakin ngeri dan ketakutan, saat mendengar ancaman, yang lebih menakutkan dari maut itu sendiri.
Pemuda itu tanpa malu malu langsung memikul tubuh Siao Hung di pundaknya.
Lalu sambil tertawa tawa, dia membawa Siao Hung menuju balik semak belukar.
__ADS_1
"Lepaskan aku..!"
Teriak Siao Hung ketakutan.
"Plokkk..!"
Pemuda itu menampar bokong Siao Hung yang padat dan kenyal.
"Tenang saja, nanti pasti akan saya bantu lepaskan semua.."
"Saya akan membuat mu merasakan sorga dunia, yang belum pernah kamu rasakan..Ha..ha..ha...!"
"Jangan...! Jangan..! lepaskan aku bangsat...!"
"Tolong Jangan...!"
Teriak Siao Hung semakin ketakutan, saat pemuda itu membaringkan dirinya terlentang di rerumputan.
Setelah itu pemuda dengan tidak sabar segera melepaskan bajunya sendiri.
Sehingga terlihat dada dan lengannya yang kekar penuh dengan bulu halus.
Saat pemuda itu melepaskan celana yang di kenakan nya.
segera terlihat rudalnya, yang kekar berotot .
Dengan ukurannya yang super XXXL berdiri mengacung tegak.
"Ahhhh...!"
"Jangan tidak...!"
"Binatang,.. kamu apa...!?"
Teriak Siao Hung semakin pucat ketakutan saat melihat perkakas si pemuda asing itu yang begitu menyeramkan.
Seumur hidup, dia belum pernah membayangkan akan melihat mimpi buruk itu.
Apalagi sampai merasakan nya, ahh dia sungguh tidak berani membayangkan nya.
Bendanya yang imut dan selalu di jaganya dengan sangat hati hati, akan di masuki rudal up normal itu apa jadinya.
Siao Hung benar benar mengalami ketakutan hebat.
"Breeet...!"
"Ahhh...Jangan...!"
"Bajingan lepaskan aku ..!"
"Jangan ..!"
"Tolong Ahhh jangan Nan Thian ke ke..tolong...!"
"Breeet...!"
"Ahhhhhhh...!"
"Breeet ..!"
"Jangan...Ahhhh,.lepaskan aku...!"
"Lepaskan binatang..!"
"jangan,.. Aduhhhh sakit....!"
"Breeet..!"
Terdengar suara kain robek dari balik semak belukar, lalu selembar demi selembar pakaian merah Siao Hung, beterbangan keluar dari balik semak.
"Nan Thian ke ke...! Tolong...!
"Ahhhh jangan....!"
"Jangan di sana tidak boleh..!"
"Tolong...!"
"Hu...hu..hu..hu..!"
"Arggggghhh...!"
__ADS_1