
Kedatangan Thian Yi tepat waktu dia berhasil menyambut tubuh malang sahabat setianya dengan kedua tangannya.
"Chi Ming tahan mereka sejenak..!"
Ucap Thian Yi sambil melesat mundur menjauhi arena pertempuran.
Sesaat kemudian dia sudah menghilang dari sana.
Chi Ming mengangguk pelan, memalangkan pedang di depan dada.
Sambil bergerak mundur pelan pelan meninggalkan tempat tersebut.
Tadi saat Kim Kim kembali menyerang nya dengan kibasan ekor dan lemparan potongan sayap Feng Huang Xiong.
Dia tidak berani menahan ataupun menangkisnya.
Dia buru buru bergerak menghindarinya.
Makanya dia terlihat baik baik saja, mampu menutup jalan mundur untuk Thian Yi dan Feng Huang Xiong yang terluka parah.
Melihat hal ini, Kim Kim pun berkata dalam syara telepati,
"Kakak, dua lepas."
"Yang ini tidak boleh lagi terlepas, dia akan menjadi ancaman serius kelak.."
Nan Thian mengangguk setuju, lalu menghilang dari posisinya, muncul lagi tepat di belakang Chi Ming menutup jalan mundurnya.
Sedangkan Kim Kim selesai berbicara, tanpa menunggu tanggapan Nan Thian .
Dia sudah melesat kedepan mengejar Chi Ming.
Kim Kim terbang meliuk liuk cepat, menerjang kearah Chi Ming.
Tidak punya jalan mundur, Chi Ming dengan sangat terpaksa, langsung mengangkat tangannya, membentuk sebuah perisai cahaya yang terdiri dari 3 lapis.
Untuk menghalau terjangan Kim Kim.
"Bangggg...!"
Terjadi tabrakan keras, perisai lapis pertama langsung pecah, perisai lapis kedua retak retak.
Kim Kim setelah melakukan tabrakan keras, dia berputaran satu kali di udara.
Sebelum kemudian berubah menjadi seberkas cahaya emas.
Melesat dengan kecepatan tinggi, kembali menabrak kearah perisai pelindung Chi Ming, dengan menggunakan sepasang tanduk di kepalanya.
"Banggggg..!"
"Brakkkk...!"
Perisai kedua dari ketiga pecah berantakan, Chi Ming yang menggunakan pedangnya berusaha menahan laju tanduk Kim Kim.
Terpental mundur kebelakang, Chi Ming memanfaatkan tenaga dorongan tersebut, berbalik menerjang kearah Nan Thian dengan jurus lautan pedang nya.
Lautan pedang bergerak mendahului Chi Ming menerjang kearah Nan Thian bagaikan gulungan ombak besar, ingin menyapu Nan Thian .
__ADS_1
Nan Thian menghadapi nya dengan tenang, dengan memutar pedangnya satu kali, Nan Thian melepaskan satu tebasan pedang.
Gabungan kekuatan api dan es surgawi, melesat kedepan. Menyambut serangan gelombang lautan pedang, yang sedang menghampirinya.
Seekor mahluk gabungan Naga dan Phoenix melesat cepat membelah lautan pedang, lurus tertuju kesatu jurusan.
"Wusssshhh.!"
Ombak lautan pedang yang datang berseliweran terbelah dua, oleh kekuatan terjangan mahluk gabungan tersebut.
Seluruh ok. bak lautan yang di lewatinya bagian kanan membeku, bagian kiri di selimuti oleh api putih yang luar biasa panas.
Semua bayangan pedang di buat meleleh sirna tak berbekas.
Mahluk itu sendiri mempercepat laju geraknya, setelah berhasil menembus lautan pedang.
Mahluk itu saking cepatnya, telah berubah menjadi cahaya hitam putih melesat kearah Chi Ming.
"Krekkk..!"
"Pyaaarrr..!"
Pedang Chi Ming yang di gunakan untuk menahan kedatangan mahluk tersebut.
Awalnya mengalami retak-retak, sebelum kemudian akhirnya hancur pecah berkeping keping.
Chi Ming berusaha secepatnya melayang mundur menjauh, agar tidak terkena sambaran pecahan pedang nya sendiri.
Saat berhasil menjauh, dan menghindari patahan pedangnya sendiri.
Chi Ming merasa dadanya sedikit perih dan dingin,..secara reflek dia menundukkan kepalanya untuk melihat kebawah sana.
Seketika Chi Ming merasa pandangan nya menjadi gelap, tubuhnya langsung jatuh terkapar di atas tanah.
Itu adalah momen terakhir yang Chi Ming ingat sebelum nyawanya pergi meninggalkan tubuhnya.
Mahluk gabungan setelah berhasil menembus tubuh Chi Ming, mahluk itu berbalik arah, kemudian masuk kembali kedalam tubuh Nan Thian .
Setelah berhasil menewaskan Chi Ming, Nan Thian pun berkata pelan.
"Kim Kim sebentar lagi dia mungkin akan kembali untuk balas dendam.."
"Kamu jangan meladeni nya, serahkan saja dia pada ku.."
"Kamu jadi penonton sambil melindungi mereka yang ada diatas tembok kota saja.."
Kim Kim yang sudah kembali ke bentuk manusia mengangguk pelan dan berkata,
"Berhati hatilah, kalau bisa tangkap hidup hidup.."
"Dia bisa jadi suami cadangan kedua, selain si tampan dari barat sana.."
Mendengar ucapan Kim Kim, Nan Nan Thian langsung terbatuk batuk tersedak air ludahnya sendiri.
Melihat keadaan Nan Thian, Kim Kim sambil tersenyum lebar berkata,
"Jangan nafsu begitu,.."
__ADS_1
"Tenang saja, bila kamu mau aku bisa lahirkan satu anak naga khusus untuk mu.."
Nan Thian batuk nya semakin keras, wajahnya merah padam mendengar ocehan sahabatnya yang mulai kelewatan lagi.
Kim Kim sambil tertawa, sudah melayang menjauh keatas wuwungan menara pengawas yang sebagian telah di rusak oleh Chi Ming.
Kim Kim buru buru menjauh, sebelum batuk Nan Thian reda dan akan menyemprotkannya dengan kata kata pedas.
Benar saja setelah batu mereda, Nan Thian yang ingin menyemprot Kim Kim terpaksa menelan kembali kata kata di ujung lidahnya.
Karena Kim Kim sudah pergi menjauh darinya.
Di tempat lain di tepi sungai Wu, Terlihat Thian Yi sambil memangku tubuh sahabatnya yang berlumuran darah.
Dia terus membantu menyalurkan energi nya, berusaha untuk menolong nyawa sahabatnya.
Burung Hong sahabatnya terlihat menggeleng gelengkan kepalanya dengan pelan.
Dia merintih pelan dan terus menatap kearah tuan, sekaligus sahabatnya dengan tatapan mata yang semakin memudar.
Dalam satu tarikan dan hembusan nafas panjang, burung malang itu akhirnya pergi untuk selama-lamanya.
Kepalanya terkulai lemah kebawah, sepasang mata indahnya, kini telah tertutup selama lamanya.
Thian Yi langsung berteriak keras sambil memeluk tubuh sahabatnya dengan erat.
"Tidakkkkkk..!"
"Ohhh tidak...! jangan...jangan..! jangan pergi Feng Huang Xiong...!"
"Bangunlah sahabat ku..!"
"Jangan...!"
Teriak Thian Yi sambil memeluk tubuh sahabatnya itu erat erat.
Beberapa saat kemudian di sana hanya terlihat Thian Yi yang sedang menangis dalam diam.
Hingga tubuhnya gemetaran. Menahan kesedihannya, yang telah kehilangan sahabat terbaiknya itu.
Sebuah makam sederhana berupa gundukan tanah, terlihat berada di hadapan Thian Yi yang sedang menangis tanpa suara.
Dari matahari terbit hingga matahari tenggelam, Thian Yi baru meninggalkan tempat tersebut.
Melesat cepat kembali ke kota Nan Jing untuk menuntut balas.
Thian Yi seperti itu bukan tanpa alasan.
Jurus pedangnya Ming Yue Cien Fa baru akan mencapai titik puncaknya bila sedang malam hari.
Terutama seperti saat ini, di mana bulan sedang purnama dan bersinar gemilang.
Ini merupakan titik puncak kekuatannya, bila dia memainkan Ming Yue Cien Fa.
Thian Yi yang menunggu hampir satu harian, tetap tidak melihat batang hidung cucu muridnya Souw Chi Ming.
Dia yakin cucu muridnya Souw Chi Ming pasti sudah tewas di tangan pemuda rambut putih dan Naga Emas nya.
__ADS_1
Saat Thian Yi tiba di luar tembok kota Nan Jing, dia melihat Nan Thian sudah berdiri gagah di depan pintu gerbang kota, bersiap menyambut kedatangan nya.