PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
Manusia patung emas


__ADS_3

Es beku yang mengerucut seperti mata bor, dengan Siao Hung berada di poros tengah meluncur cepat kebawah.


Saat jaraknya tinggal 3 meter dari sasaran, es beku berbentuk mata bor, dari warna putih berubah menjadi warna biru.


Sebelum kemudian menghantam keras ke Genta Berlian di bawah sana.


Siao Hung sangat khawatir dengan keadaan putranya, dia ingin lekas menyusul kedalam istana.


Tapi kedua lawannya ini, terus menghadang langkahnya, tiada pilihan lain.


Siao Hung akhirnya memutuskan membereskan dulu mereka berdua secepatnya.


Baru menyusul kakek tua berbaju hitam yang membawa putranya.


Dia sempat melihat kakek itu menolong putranya dari serangan Pimpinan Sekte ketiga .


Siao Hung memperkirakan putranya tidak sedang dalam bahaya.


Hanya saja dia tetap harus mendapatkan putranya kembali.


Dia tidak perduli dengan apapun yang di tawarkan oleh sekte ini.


Kedatangan nya, memang karena ingin agar putranya bisa meluaskan pengalaman bertarung.


Selain itu dia juga curiga dengan kemunculan sekte dadakan ini yang mungkin saja mengandung niat tidak baik.


Dia tidak ingin sekte ini menganggu dan mengacau di dunia persilatan.


Hal lainnya boleh di bilang dia tidak tertarik sama sekali.


Saat benturan kuat terjadi, suara yang jauh lebih dahsyat lagi, membuat perisai pelindung di arena dan istana sekte hancur.


Bagian depan bangunan istana dan 5 arena di bawah sana semuanya hancur.


Sisa penonton yang bertahan sudah tidak ada, terkecuali Zi Zi dan putrinya Ying Ying mereka di lindungi oleh kubah cahaya pelangi yang di ciptakan oleh Nan Thian .


Di lokasi pertempuran Siao Hung melawan ketua sekte kedua terlihat yang satu berusaha bertahan yang satu berusaha menekan.


Siao Hung yang melihat Genta Berlian itu meski mulai retak retak tapi belum berhasil di tembusnya.


Siao Hung menarik kembali pedangnya keatas sebelum akhirnya dia menghantamkan nya sekali lagi.


"Hawa pedang Es Biru penghancur semesta..!"


"Blaaarrrr...!"


Sekali ini Genta berlian pecah hancur berantakan, tidak mampu bertahan lagi.


Pimpinlah Sekte Kedua dan Ketiga melesat keluar dari balik perisai.

__ADS_1


Mereka terbang kedua arah berbeda, sebelum kemudian masing masing kembali menyerang dari dua sisi berbeda.


Ketua sekte kedua menjadi pembuka serangan sedangkan ketua sekte ketiga menjadi serangan susulan.


Nan Thian di tempat lain tidak berani ikut campur, dia hanya fokus dengan lawannya.


Sambil melindungi keluarganya, agar tidak mengalami cedera akibat efek pertarungan dahsyat tingkat atas tersebut.


Nan Thian juga tahu Siao Lung di bawa pergi, tapi dia juga tidak berdaya pergi menolong.


Karena selain di halangi pimpinan Sekte pertama, dia juga ragu untuk pergi menolong Siao Lung , tapi meninggalkan keluarganya dalam posisi tidak ada yang menjaga.


Nan Thian yang khawatir hal buruk kembali menimpa keluarganya.


Jadi dia terpaksa memilih tidak kemana mana dan terus melayani Pimpinan Sekte pertama yang termasuk tidak mudah di hadapi.


Di arena pertarungan Siao Hung , pertarungan sudah hampir mencapai titik puncaknya.


Hal ini terlihat pimpinan sekte kedua tidak tanggung tanggung, dia sudah mengerahkan kemampuannya untuk melepaskan jurus.


"Kesaktian Buddha tiada Tara..!'


Sesosok bayangan Buddha Emas Raksasa turun dari langit barat, menyatu di belakang pimpinan sekte kedua.


Sebelum kemudian mereka meluncur kearah Siao Hung dengan sepasang telapak tangan terbuka.


Sepasang tapak raksasa cahaya emas meluncur mengawali serangan mereka menerjang kearah Siao Hung .


Masing masing bayangan melepaskan satu tebasan cepat,. yang tidak menimbulkan suara, bentuk, dan rupa.


"Alam semesta tanpa wujud pemusnah..!"


Siao Hung dan ke empat puluh sembilan bayangan nya, bergerak sendiri sendiri melepaskan tebasan yang sepertinya tidak menimbulkan efek apapun.


Siao Hung dan bayangan nya, seperti sedang bersilat sendiri saja, tanpa hasil jelas.


Baru setelah tebasan nya menemui sasaran terjadi ledakan bertubi-tubi di sekitar tubuh pimpinan sekte kedua, dan di sekujur tubuh bayangan Buddha sebagai pendukung kekuatan serangan pimpinan sekte kedua.


Dari arah lain pimpinan sekte ketiga, yang memberikan serangan susulan .


Di terima oleh Siao Hung dengan ilmu perisai cangkang kura kura hijau.


Serangan cakar ketua ketiga jadi tertahan di sana, oleh perisai energi cangkang kura kura hijau.


Tentunya jauh lebih kuat daripada perisai yang di buat oleh anaknya.


Pimpinan sekte ketiga hampir tidak ada peluang sama sekali, meski dia mencuri menyerang Siao Hung dengan cara curang.


Sambil menahan serangan, Siao Hung segera melepaskan ilmu.

__ADS_1


"Selaksa Hawa pedang biru.."


Segera terlihat jutaan cahaya pedang biru menerjang kesegala arah, menghujani kedua lawannya yang sedang dalam posisi kurang baik.


Secara hampir bersamaan ketua pimpinan kedua dan ketiga, tubuh mereka berdua di tembus oleh cahaya pedang biru.


Tapi sebelum tubuh kedua orang itu sempat di ledakan oleh hawa pedang Siao Hung .


Sebuah energi kuat bergulung gulung seperti kabut transparan, muncul melilit tubuh ketua kedua dan ketiga.


Setelah itu kabut tersebut dengan cepat menarik tubuh mereka berdua menghilang dari sana, langsung di bawa masuk kedalam istana sekte bagian tengah yang besar dan megah.


Melihat dua lawannya menghilang dari hadapannya, Siao Hung menoleh sejenak kearah Nan Thian .


Melihat Nan Thian baik baik saja, dia melihat kearah Ying Ying dan ibunya.


Melihat mereka semua dalam keadaan baik baik saja.


Tanpa banyak berkata, Siao Hung segera melesat menghilang dari sana.


Saat muncul lagi Siao Hung sudah mendarat ringan di pintu masuk istana sekte bagian tengah.


Tempat pimpinan sekte kedua dan ketiga menghilang.


Dengan langkah ringan dan waspada, Siao Hung mencoba memasuki ruangan tersebut.


Baru saja dia masuk kedalam tebaran Jala berhamburan datang dari atas ingin menangkap'nya.


Siao Hung menghilang dari sana, muncul di tengah ruangan, sebelum jala berhasil menyentuhnya.


Sehingga jala jala yang di jatuhkan dari atas dengan penggerak rahasia.


Semuanya menemui tempat kosong.


Tapi di ruangan tengah juga bukan tanpa resik. Di tempat tersebut Siao Hung harus melompat kesana kemari.


Berusaha menghindari serangan hujan anak panah dan tombak, yang berhamburan di gerakkan oleh alat rahasia, di lontarkan untuk menyerangnya.


Tapi lagi lagi serangan senjata yang digerakkan oleh alat rahasia itu, tidak ada yang mampu. menyentuh tubuh Siao Hung .


Siao Hung dengan lincah bisa menghindari serangan serangan tersebut.


Serangan berhenti secara otomatis saat Siao Hung mendarat di anak tangga, yang akan membawanya mendekati 3 buah kursi kebesaran yang berada di atas sana.


Begitu Siao Hung tiba di sana, dua manusia patung emas. Segera bergerak menyerangnya dengan sepasang pedang mereka.


"Wuttt...!"


Dua serangan itu luput diatas kepala Siao Hung yang sudah bergerak turun kebawah.

__ADS_1


.


__ADS_2