
Setelah berjumplitan di udara, saat meluncur turun kebawah Nan Thian langsung meluncur bagaikan mata bor.
Nan Thian langsung mengerahkan jurus tiada awal tiada akhir untuk segera mengakhiri pertarungan tersebut.
Kakek itu di bawah sana merasa pergerakannya terkunci, sulit untuk bergerak.
Dia segera menghimpun seluruh kekuatannya memunculkan sebuah bayangan Iblis bertanduk yang mengeluarkan cahaya emas.
Mendukung pergerakan nya menusukkan Toya di tangannya keatas untuk menyambut datangnya ujung pedang Nan Thian .
Ujung pedang dan ujung Toya akhirnya bertemu di udara.
"Boooommm..!"
"Boooommm..!"
"Boooommm..!"
Terjadi ledakan dahsyat di sekeliling pusat pertemuan pedang dan Toya.
Ujung pedang Nan Thian dan tubuh dalam posisi terbalik tertahan di udara
Saat Nan Thian mengempos kekuatan nya menghentak sekali lagi pedang Panca Warna di tangan nya.
"Boooommm..!"
"Boooommm..!"
"Boooommm..!"
Sekali lagi terjadi lingkaran ledakan dalam radius yang lebih luas hingga Goa tempat mereka bertempur mulai bergetar hebat seperti akan runtuh.
Sekali ini Toya di tangan kakek itu mulai retak retak, tapi kakek itu masih mati matian bertahan dengan bantuan dukungan kekuatan dari iblis cahaya emas.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama kekuatan alam semesta yang terus berputar memasuki tubuh Nan Thian .
Kemudian di pergunakan oleh Nan Thian secara terus menerus memberikan tekanan.
Akhirnya Toya pecah hancur berantakan, pedang Panca Warna kini di tahan oleh bola cahaya emas dari sepasang telapak tangan kakek itu.
"Blaaarrrr..!"
Bola cahaya emas meledak, tubuh kakek itu terpental mundur menjauhi arena pertarungan.
Tapi ujung pedang Nan Thian dan tubuhnya tidak meluncur menghantam tanah tempat posisi kakek itu bertahan sebelum nya .
Nan Thian dan pedangnya berbelok arah melakukan gerakan melengkung cepat mengejar kearah tubuh kakek itu yang sedang terpental bersama bayangan iblis cahaya yang mendukungnya.
Tanpa bisa kakek itu cegah, tubuhnya terpental kesana kemari ditembus oleh Nan Thian dan pedangnya.
Hingga akhirnya tubuh kakek itu meledak hancur berkeping-keping di udara bersamaan dengan suara teriakan keras iblis cahaya yang ikut meledak hancur bersama tuan nya.
Seiring hancurnya kakek itu bersama bayangan iblis cahaya emas.
Goa tempat mereka bertarung bergetar hebat.
Seolah olah hendak runtuh, bebatuan mulai berguguran berjatuhan kebawah.
Nan Thian setelah menuntaskan perlawanan kakek itu, melihat keadaan Goa hampir runtuh.
__ADS_1
Dengan perlindungan energi panca warna melindungi seluruh tubuhnya.
Tanpa menghiraukan batu yang berguguran menimpa kearahnya.
Nan Thian berlari cepat menghampiri jasad Siao Hung yang masih tergeletak di sana.
Pedang pusaka Siao Hung Nan Thian simpan kedalam cincin penyimpanan nya.
Sedangkan tubuh Siao Hung Nan Thian panggul di bahunya , lalu dengan pedang Panca Warna Nan Thian melesat keatas menembus langit langit Goa yang sedang ambruk kebawah.
Di mana di bagian atas sana Nan Thian melihat ada secercah cahaya yang bersinar terang.
Nan Thian segera meluncur menerobos keatas, pedang panca warna membantu menghancurkan bebatuan besar yang menghalangi pergerakan mereka meluncur keatas.
Sedangkan gabungan tiga energi surgawi, membentuk perisai pelindung, membungkus seluruh tubuh Nan Thian dan Siao Hung .
Setelah berulang kali menerobos dan menghancurkan batu besar yang menimpa nya.
Nan Thian akhirnya berhasil keluar dari Goa yang sudah ambruk.
Ternyata saat Nan Thian keluar dari balik reruntuhan, posisinya tepat di tengah tengah arena. Di depan halaman istana sekte Diatas Langit Masih Ada Langit.
Setelah berhasil mendarat di tempat aman Nan Thian baru menurunkan Siao Hung dari pondongan nya.
Nan Thian dengan hati hati menurunkan Siao Hung kebawah.
lalu dia menghapus dua butir airmata nya yang runtuh, dan menggantung di pipinya.
Nan Thian hanya bisa mematung disana, sambil menatap sedih kearah Siao Hung yang berada dalam pangkuan nya.
"Maafkan aku adik Hung.."
"Kamu beristirahatlah dengan tenang.."
Dari kejauhan sana, Ying Ying yang melihat ayahnya muncul dari balik reruntuhan.
Dia segera menunjuk kearah Nan Thian dan berkata,
"Ibu lihat ayah ada di sana, bersama bibi.."
"Ayo kita lihat kesana.."
"Bibi sepertinya terluka.."
Ucap Ying Ying sambil menarik narik tangan Zi Zi.
Zi Zi mengangguk cepat, menjawab putrinya.
"Ayo kita lihat kesana.."
Sambil menggendong Ying Ying , Zi Zi segera melesat cepat kearah Nan Thian berada.
Zi Zi menggendong putrinya mendarat ringan di sisi Nan Thian dan berkata,
"Suami ku apa yang terjadi ? mengapa adik Hung dia..?"
"Mana Siao Lung putra nya..?"
Ying Ying tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya, dia sudah merosot turun dari gendongan ibunya.
__ADS_1
Gadis kecil itu segera berlutut di samping Siao Hung dan berteriak sambil menangis sedih.
"Bibi Hung..apa yang terjadi..?"
"Kamu jangan tidur..ayo bangunlah.."
"Kita harus pergi selamatkan Lung ke ke dari tangan penjahat penjahat itu.."
"Bibi..ayo bangun.."
Panggil Ying Ying sambil mengguncang guncang tubuh Siao Hung yang tidak lagi bisa merespon nya.
Nan Thian kembali menghapus airmatanya yang runtuh dan berkata,
"Siao Hung dia telah meninggal.."
"Dia berkorban nyawa untuk ku.."
"Sedangkan Siao Lung anak ku, dia menghilang dalam portal cahaya, aku tidak tahu dia dikirim kemana.."
"Aku aku..sungguh tidak bertanggung jawab dan tidak berguna.."
Ucap Nan Thian yang kini setelah berada di hadapan istri dan anaknya.
Dia baru melepas tangis kesedihan hati nya, yang selama ini dia tahan tahan.
Nan Thian sesaat larut dalam tangisan dukanya, sambil memeluk erat erat tubuh Siao Hung, Nan Thian membenamkan wajahnya di dada Siao Hung yang berlepotan darah.
"Tidak..itu tidak benar..!"
"Ayah pasti salah..!"
"Bibi sangat hebat..! dia tidak mungkin bisa meninggal..!"
"Bibi dia hanya tidur saja..!"
"Benarkah ayah..? bibi dia hanya sedang tidur saja..!?"
"Bibi masih hidup kan ayah ? bibi hanya sedang lelah saja..?"
Tanya Ying Ying sedikit histeris dan sulit menerimanya.
Zi Zi tidak berkata apa-apa, dia hanya ikut berlutut di sana merangkul suami dan putrinya dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya.
Meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi melihat kesedihan suami dan putrinya, Zi Zi jadi ikutan sedih dan tidak bisa menahan airmata nya.
"Ayah jawab Ying Ying , bibi dia hanya tidur kan..?!"
Ucap Ying Ying yang masih saja belum bisa menerima kenyataan.
Nan Thian setelah melepaskan kesedihannya, dia segera bisa menguasai perasaan nya.
Dia segera mengangkat wajahnya menatap putrinya dan berkata,
"Kamu benar Ying Ying , bibi mu dia terlalu lelah.."
"Sebaiknya kita carikan tempat peristirahatan yang baik untuk nya.."
"Agar dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan.."
__ADS_1
"Mari kita bawa bibi kembali ke Xu San, di sana bibi pasti bisa beristirahat dengan lebih baik.."
Ucap Nan Thian pelan.