
Lorong gelap itu ternyata cukup panjang dan banyak cabang, untungnya Nan Thian selalu menandai setiap pilihan lorong yang sudah di lewatinya.
Sehingga akhirnya dia berhasil menemukan sebuah ruangan luas.
Di mana kakek misterius yang menculik Siao Lung putranya, akhirnya berhasil di temukan.
Kakek itu terlihat duduk santai di kursi singgasana kebesarannya, yang terletak di posisi yang jauh agak tinggi. Di bandingkan dengan posisi nya saat ini.
Untuk mencapai posisi kakek itu harus melewati undakan anak tangga yang cukup tinggi.
Di tengah tengah ruangan tersebut, di bawah undakan anak tangga terlihat Siao Hung sedang berdiri menghadap kearah kakek itu.
Siao Hung terlihat berdiri diam tidak bergerak di sana dengan kepala tertunduk.
Melihat keanehan yang terjadi,Nan Thian segera melangkah memasuki ruangan tersebut.
"Siao Hung,..!"
"Siao Hung,..!"
"Kamu kenapa..?"
Tegur Nan Thian yang merasa heran dan curiga, saat melihat Siao Hung yang di panggil panggil terlihat diam saja.
Padahal sebelum ini, hubungan mereka sudah membaik.
Tidak lagi sedingin awal awal pertemuan mereka sebelumnya.
Nan Thian sedikit curiga, jangan jangan Siao Hung kembali di pengaruhi oleh kakek itu, dengan sempritan nya.Seperti beberapa waktu yang lalu.
Nan Thian dengan langkah hati hati menghampiri Siao Hung dari arah belakang.
Nan Thian menghunus Pedang Panca Warna di tangannya, bersiap siap bila kembali terjadi sesuatu pada Siao Hung .
Sambil melangkah mendekati Siao Hung, Nan Thian kembali mencoba memanggilnya.
"Siao Hung ..!"
"Siao Hung,..!"
Lagi lagi tidak ada respon meski jarak mereka begitu dekat.
Nan Thian akhirnya menghentikan langkahnya, dia mengalihkan perhatian kearah kakek misterius itu dan berkata,
"Siapa kamu sebenarnya..!?"
"Mana anak yang kamu culik itu..!?'
Kakek itu dengan wajah tanpa berekspresi dia berkata,
"Apa kamu pernah dengar tentang Chi Lek Thian..?"
Nan Thian langsung tertegun, dia pernah dengar hal ini dari Kim Kim juga dari Wu Ming Lau Jen gurunya.
Dengan wajah sangsi Nan Thian berkata,
"Apa kamu Chi Lek Thian..?"
Kakek itu masih dengan wajah tanpa ekspresi berkata,
"Bila aku Chi Lek Thian, apa kalian berdua masih bisa hidup..?"
__ADS_1
"Tidak,.. aku hanya salah seorang pelayannya saja.."
"Kamu serahkan jantung dan hati mu yang mengandung batu Panca Warna.."
"Maka aku Siao Nu akan melepaskan mereka berdua.."
Siao Nu artinya adalah pelayan kecil, kelihatannya kakek itu benar benar menganggap dirinya hanyalah seorang pelayan kecil dari Chi Lek Thian mahluk immortal dari alam lain itu.
Batin Nan Thian dalam hati.
Nan Thian tersenyum dingin, dia mana mungkin bersedia memenuhi permintaan kakek itu.
Bila dia lakukan maka tamatlah riwayatnya.
Setelah dia tewas, kakek itu tepat janji atau tidak, mana dia bisa tahu lagi.
Nan Thian sambil tersenyum dingin berkata,
"Permintaan konyol,..kamu lepaskan dulu mereka baru kita berunding.."
"Bila tidak, maka hari ini aku akan membuat mu tidak bisa kembali lagi ke tuan mu.."
Kakek itu tetap dengan wajah tanpa ekspresi, dia berkata dengan suara datar.
"Kamu tidak memberi pilihan yang benar.."
"Silahkan buktikan saja.."
Nan Thian segera bersiap untuk menyerang kakek itu.
Kakek itu tiba tiba berkata,
"Habisi dia..jangan beri ampun.."
Pedang biru kembali terhunus di tangan nya.
Perlahan-lahan dia mengangkat kepalanya, sepasang matanya mengeluarkan cahaya hijau terang.
Nan Thian tidak melihat ada pupil hitam di sana, semuanya adalah putih.
Nan Thian sudah pernah menghadapi Siao Hung, dia tahu persis bagaimana bahayanya jurus jurus yang Siao Hung miliki.
Semuanya adalah ilmu khusu untuk menangkal kelebihan dari ilmu andalannya.
Bila dia mengerahkan seluruh kemampuan nya tanpa belas kasih sekalipun.
Maka hasilnya mereka berdua akan mati bersama, tidak ada siapapun yang bisa melebih siapapun.
Tapi dalam kondisi ini, dia sadar Siao Hung tidak maka kejadian kemarin pasti akan terulang.
Sekali ini kemungkinan untuk bisa bertahan tetap hidup peluangnya akan sangat kecil.
Kecuali dia membunuh Siao Hung , bila tidak dia pasti akan mati di sini.
Batin Nan Thian penuh keraguan.
Sementara Nan Thian sedang ragu Siao Hung malah sudah mulai bergerak menyerangnya.
Begitu pedang berkelebat selaksa energi pedang langsung melesat menyerangnya.
Nan Thian harus bergerak cepat menghindar kesana kemari sambil menggunakan pedang Panca Warna menangkis serangan dari Siao Hung .
__ADS_1
Nan Thian bergerak cepat mendekati Siao Hung , dengan ilmu totokkan jari tanpa wujud.
Nan Thian masih berusaha sebisa mungkin menahlukkan Siao Hung dengan cara teraman.
Meski dia tahu kemungkinan berhasilnya kecil.
Benar saja begitu melihat serangan nya berhasil Nan Thian gagalkan dan kini Nan Thian sedang mendekatinya.
Dengan wajah tanpa ekspresi Siao Hung langsung menebaskan pedangnya kearah Nan Thian tanpa ampun.
"Tebasan Pedang Es Pemusnah Semesta..!"
Bayangan Dewi es muncul mendukung Siao Hung yang sedang melakukan gerakan menebaskan pedangnya kearah Nan Thian .
Nan Thian pernah menghadapi jurus itu, dia tahu persis bagaimana kuatnya jurus itu.
Nan Thian tidak mau menangkisnya seperti dulu.
Nan Thian memilih melompat mundur menghindar dari serangan tersebut.
"Blazzz..!"
Serangan Siao Hung menghantam tempat kosong, membuat tempat itu dan sekitarnya langsung membeku.
Sebelum kemudian meledak hancur berkeping-keping.
Nan Thian yang sedang melompat mundur pun ikut tertolak mundur, oleh data ledak dahsyat serangan tersebut.
Nan Thian membiarkan dirinya melayang mundur menjauh.
Begitu kakinya menyentuh tanah, Nan Thian langsung melesat menghilang.
Mencoba mengambil jalan memutar untuk menyerang kakek bernama Siao Nu itu.
Karena kakek itulah penyebab semua ini, melumpuhkan kakek itu adalah cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit Siao Hung .
Sayangnya rencana Nan Thian baru berjalan tidak sampai seperempat jalan.
Sudah terlanjur di kandaskan oleh Siao Hung yang menghadang langkahnya dengan muncul di hadapannya sambil memberikan tebasan kilatan pedang es cahaya biru.
Melesat menyerang Nan Thian tanpa ampun.
Beberapa Tebasan kilatan cahaya biru di lepaskan dengan sangat cepat.
Mencoba menghalau kecepatan pergerakan Nan Thian .
Tapi Nan Thian yang lincah masih saja bisa bergerak menyelinap kesana kemari.
Lalu membalasnya dengan satu tebasan pedang yang mengeluarkan cahaya pancawarna menyerang Siao Hung .
Siao Hung membentuk perisai es membentengi diri dari serangan Nan Thian .
Sehingga serangan Nan Thian hanya berhasil meledakkan beberapa lapisan es tebal.
Sebelum akhirnya tertahan di sana tidak mampu melewati perisai es Siao Hung .
Nan Thian diam diam mengeluh dalam hati, atas kemampuan Siao Hung yang begitu tinggi, tapi justru malah harus menjadi.lawannya.
Setelah berhasil menahan serangan Nan Thian , Siao Hung langsung melesat ke udara.
Dari atas sana, dia kembali memberikan Tebasan pemusnah.
__ADS_1
Tapi sekali ini berbeda dengan sebelumnya.