PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
KEMBALI BERTEMU


__ADS_3

Nan Thian saat ini bukan Nan Thian seperti sebelumnya lagi.


Setelah dia berhasil menyerap khasiat dari batu panca warna, batu api dan es surgawi, untuk di satukan sepenuhnya kedalam tubuh Dewa nya.


Dia kini sudah menembus titik batas manusia dewa, sama seperti gurunya Li Fei Yang dan Xue Lian.


Di mana kini Nan Thian juga bisa terbang bebas di angkasa sesuka hatinya.


Kekuatan dan kemampuan nya kini, sudah mencapai batas yang sulit di ukur tingginya.


Perjalanan menuju Kai Feng menjadi jauh lebih cepat, karena dia dan Zi Zi menempuhnya melalui jalur udara.


Tidak butuh waktu lama, mereka berdua telah tiba di kota tersebut.


Saat benteng pertahanan kota, yang terdiri dari dua lapis tembok pertahanan, sudah mulai terlihat oleh Nan Thian .


Nan Thian segera terbang ke bawah, dia langsung membawa istrinya mendarat ringan di depan pintu gerbang kota.


Kedatangan Nan Thian dan Zi Zi secara tiba tiba, segera mengagetkan pasukan Monggolia yang bertugas menjaga keamanan pintu gerbang kota.


Komandan pasukan dan beberapa bawahannya yang mengenali Nan Thian , mereka segera berteriak dalam bahasa yang Nan Thian tidak paham.


Sesaat kemudian barisan pasukan yang berbaris rapi, segera muncul menghadang di depan pintu gerbang.


Dari bagian menara pengawas pintu gerbang, juga terlihat penuh dengan pasukan Monggolia yang bersiaga dengan anak panah dan busur di tangan.


Nan Thian terlalu mudah di ingat dan di kenali, rambutnya yang putih semua, dengan raut wajah yang tampan dan masih muda.


Di tambah dengan kesaktiannya yang mengerikan, hal itu membuat dia menjadi momok menakutkan bagi militer Monggolia.


Seluruh militer Monggolia sangat mewaspadainya, dari atas hingga kebawah tidak ada yang tidak pernah mendengar tentang, Nan Thian yang di juluki oleh seluruh rakyat Han sebagai pahlawan Pendekar Api dan Es Surgawi.


Terkadang ada pula yang memanggilnya sebagai Tai Ping Wang, Raja Perdamaian..


Tapi ini semua hanya terkenal di kalangan rakyat Han, sedangkan di kalangan Mongolia, mereka menyebutnya sebagai Iblis Api dan Es Berambut Putih.


Nan Thian dan Zi Zi yang berdiri tenang di bawah kepungan pasukan Monggolia mereka berdua bersikap tenang tenang saja.


Nan Thian berkata pelan,


"Bila masih sayang nyawa, segera tinggalkan kota ini.."


"Panggil Padri setan itu, agar keluar menemui ku.."


Salah satu pimpinan pasukan yang berjaga di sana,sambil tersenyum dingin berkata dengan bahasa Han yang kaku.


"Kamu pikir dengan kemampuan mu, kami akan takut..!?"


"Kamu jangan mimpi, hari ini kamu bisa membantai ratusan ribu dari kami.."


"Besok jutaan hingga ratusan juta pasukan di belakang kami akan tiba.."


"Saat itu kamu akan tergilas tanpa sisa.."


Nan Thian tersenyum dingin dan berkata,


"Maka kamu boleh duluan mencobanya.."


Selesai berkata Nan Thian memberi kode mata ke istrinya, Zi Zi mengangguk pelan.

__ADS_1


Tanpa banyak cakap, Zi Zi menunjuk dengan ujung jari kelingkingnya yang lentik kearah kepala pimpinan pasukan tersebut.


"Crittttt...!'


"Blaaarrrr..!"


Seberkas sinar merah melesat keluar dari ujung jari kelingking Zi Zi.


Melesat cepat, langsung meledakkan kepala pimpinan pasukan itu, sebelum dia sempat berteriak.


Pimpinan kepala pasukan, yang hanya tersisa tubuh tanpa kepala, perlahan-lahan tubuhnya ambruk kebawah.


Pasukan di sekitarnya yang terkena percikan darah segar dari pimpinan mereka yang tewas itu.


Mereka terlihat panik syok ribut sendiri.


Nan Thian sambil tersenyum dingin berkata,


"Hayo siapa yang mau men..."


Belum selesai ucapan Nan Thian , terlihat pimpinan pasukan lainnya berteriak,


"Serangggg...!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"


Panah berhamburan memenuhi tempat tersebut, semuanya terarah ke Nan Thian dan Zi Zi.


Semuanya tertahan di udara, oleh lapisan energi tidak kasat mata, yang terpancar keluar dari tubuh Nan Thian .


Nan Thian segera mengeluarkan suara tertawa bergelak dan berteriak keras berulang ulang.


"Ha..ha...ha...ha..ha...ha...!"


"Ha..ha...ha...ha..ha...ha...!"


"Ha..ha...ha...ha..ha...ha...!"


"Ha..ha...ha...ha..ha...ha...!"


"Padri Setan Keluar lah...!!"


"Jangan menjadi kura kura pengecut...!"


"Ha..ha...ha...ha..ha...ha...!"


"Ha..ha...ha...ha..ha...ha...!"


"Padri Setan Keluar lah...!!"


"Jangan menjadi kura kura pengecut...!"


"Ha..ha...ha...ha..ha...ha...!"

__ADS_1


"Ha..ha...ha...ha..ha...ha...!"


"Padri Setan Keluar lah...!!"


"Jangan menjadi kura kura pengecut...!"


Suara tawa dan suara Nan Thian memanggil Samsara, dengan pengerahan tenaga Chi nya.


Segera membuat barisan pasukan Mongolia yang sedang mengepungnya.


Dalam radius satu Li, semuanya tumbang bergulingan diatas tanah.


Masing masing menggunakan kedua telapak tangan mereka, menutupi lubang telinga masing masing.


Pasukan Mongolia yang bertumbangan tidak sampai satu menit, banyak yang meregang nyawa, dengan mata, hidung, mulut, telinga dan lubang anus mengeluarkan darah.


Sisanya yang berdiri nya masih cukup jauh dari Nan Thian , mereka merintih rintih bergulingan kesana kemari diatas lantai.


Tidak ada satupun di antara mereka yang mampu bangkit berdiri.


Kini pasukan Mongolia yang masih tersisa, mereka mulai terlihat ragu ragu untuk maju.


Mereka terlihat berusaha untuk bergerak mundur menjauhi Nan Thian dan Zi Zi.


Sesaat mereka sedang terlihat bingung, YeSe Bu Hua terlihat tiba di lokasi di kawal oleh Samsara dan Empu Ranubhaya.


Di belakang mereka terlihat hadir Jendral Yo Ku, bersama barisan pasukan besarnya yang bersenjata lengkap, siap tempur.


Melihat YeSe Bu Hua telah tiba di lokasi, sisa pasukan yang berjaga di sana.


Segera bergerak mundur memberi jalan kepada YeSe Bu Hua dan rombongan pasukan Jendral Yo Ku.


Samsara saat melihat Nan Thian, dia langsung tersenyum gembira.


"Bocah kamu masih hidup, aku pikir sudah ..!?"


Samsara sengaja tidak melanjutkan ucapan nya yang menggantung.


Dia ingin meledek Nan Thian .


Nan Thian menanggapinya dengan menghentakkan energi pelindungnya.


Segera semua anak panah yang tertahan di udara, kini sebagian berhamburan membalik kearah rombongan YeSe Bu Hua yang baru saja tiba.


Sebagian lagi berhamburan keatas tembok menara pengawas.


Menghujani pasukan penjaga di atas menara, yang sebagian besar banyak ikut tergeletak tak berdaya, lumpuh oleh serangan suara Nan Thian sebelumnya.


Melihat datangnya serangan anak panah, Samsara segera membentuk sebuah Lonceng hitam raksasa melindungi dirinya dan sekitarnya.


YeSe Bu Hua dan tokoh dari tanah Jawa ikut terlindungi di dalam sana.


Adalah Jendral Yo Ku, dia segera memberi kode agar pasukan nya, segera mengangkat tameng sebagai pelindung diri.


Sehingga panah returan Nan Thian tidak ada yang mampu melukai dirinya dan anak buahnya.


Melihat situasi di depan Zi Zi berbisik pelan,


"Nan Thian ke ke, kakek dan gadis Mongolia itu, biar aku menahannya.."

__ADS_1


"Nan Thian ke ke fokus saja dengan Padri itu,.."


"Berhati hati lah.."


__ADS_2