
Siao Hung semakin panik dan ketakutan, dia langsung menjerit kecil.
"Owhhh tidak..! hentikan..! Jangan Nan Thian ke ke..!"
"Sadarlah Nan Thian ke ke..!"
Ucap Siao Hung sedikit terisak , berusaha menyadarkan Nan Thian yang terus mendengus seperti hewan buas.
Nan Thian terus menggumuli nya, menciuminya dengan penuh nafsu.
"Breeet...!"
Kembali terdengar suara kain robek di bagian sebelah bawah, sehingga menampilkan sepasang paha Siao Hung yang putih mulus sedang bergerak gerak lemah.
"Ohhh tidak..!"
"Jangan...! tidak boleh..!"
Jerit Siao Hung semakin ketakutan dan panik.
Suara Isak tangis semakin terdengar jelas.
Sepasang tangan Siao Hung terlihat berusaha menahan tubuh Nan Thian agar menjauh darinya.
Sayangnya tenaganya saat ini terlalu lemah, sehingga dia hanya bisa mencengkram baju di pundak Nan Thian dengan sekuat tenaga, sambil berusaha menahan tubuh Nan Thian agar tidak mendekat lebih jauh.
Tapi keadaan sebaliknya terjadi pada Nan Thian, dia sama sekali tidak merespon atau menjawab sama sekali.
Dia juga tidak memperdulikan peringatan dan suara tangisan Siao Hung .
Dia terus menindih dan menggumuli Siao Hung dengan penuh nafsu.
Seolah-olah tidak memperdulikan dan tidak mendengar suara tangis pilu Siao Hung .
Nan Thian yang di bawah kontrol nafsu birahinya, dia sepenuhnya sudah kehilangan kesadarannya.
Sementara itu di dalam sana sedang mengalami pergumulan berat sebelah.
Di luar sana justru mulai turun hujan gerimis yang semakin lama semakin besar.
Seolah-olah langit ikut bersedih atas kejadian yang menimpa Siao Hung di dalam sana.
Tiba-tiba dari langit menyambar sebuah kilat yang sedikit menerangi bagian dalam Gua yang gelap.
"Blaaarrrr...!"
Sebelum kemudian terdengar suara mengelegar kuat di angkasa sana.
"Ahhhhhhhh...Tidakkkkkk...!"
Sesaat kemudian dari dalam gua terdengar suara teriakan keras Siao Hung yang seperti sedang mengalami kesakitan hebat.
Selanjutnya suasana kembali hening, hanya sesekali terdengar suara dengusan kuat Nan Thian , dan suara rintihan lembut Siao Hung di balik Gua sana.
Dari luar Gua sendiri, tidak terdengar suara apapun.
__ADS_1
Selain suara hujan lebat yang terus berlangsung.
Hingga akhirnya hujan di luar sana mereda, hanya tersisa titik titik sisa air hujan, yang menempel di dedaunan di luar Gua, perlahan-lahan menetes keatas tanah.
Begitu pula dengan suasana di dalam Gua sana, tidak lagi terdengar suara apapun lagi di sana.
Selain suara dengkur halus Nan Thian yang sedang tertidur lelap, di samping Siao Hung .
Siao Hung sendiri terlihat sedang menatap langit langit Gua dengan tatapan mata kosong.
Air bening setitik demi setitik, runtuh bergulir di kedua sisi mata bagian luarnya, lalu bergulir turun ke lubang telinganya.
Siao Hung terbaring pasrah di sisi Nan Thian dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Sedangkan seluruh pakaiannya dan pakaian Nan Thian bercampur aduk berserakan di atas tanah.
Keadaan itu terus berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Siao Hung menutup kembali matanya sejenak.
Sebelum kemudian dia menghela nafas sedih, kemudian dengan susah payah.
Dia berusaha bangkit untuk duduk sejenak, lalu dengan gerakan pelan dan lemah.
Sambil meringis menahan rasa nyeri di perut bawah dan pangkal pahanya.
Siao Hung merangkak, untuk memunguti sisa pakaian nya yang compang camping berserakan di atas tanah.
Setelah memakai nya kembali, dengan langkah sedikit terseok-seok Siao Hung pergi kearah pintu Gua.
Dia duduk disana membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Siao Hung menangis seorang diri di sana, melepaskan semua beban perasaannya, yang tidak menemukan jalan keluarnya, selain lewat tangisan sedihnya.
Nan Thian yang mengira dirinya sedang bermeditasi di dalam Gua yang terletak di balik air terjun.
Dia sangat saat mendapati dirinya ternyata tidak sedang berada di balik air terjun sana.
Dia malah berbaring tidur disini dalam keadaan polos begini.
Nan Thian segera melompat bangun.
Saat pikiran warasnya kembali, kini dia mulai paham apa yang sudah dia lakukan.
Nan Thian diam diam mengeluh dalam hati, ternyata yang bersamanya di dalam mimpi saat sedang fokus bermeditasi, bukanlah Zi Zi bibi guru kecilnya.
Melainkan Siao Hung, selain Siao Hung tidak akan ada gadis lain yang bisa bersama nya, ditempat terpencil seperti ini.
Nan Thian benar benar sangat membenci dirinya sendiri, tanpa sadar Nan Thian menjambak rambut nya sendiri
Lalu dia masih belum puas, dia langsung menampar pipinya sendiri dengan keras.
"Plakkkk..!"
Plakkkk..!"
Plakkkk..!"
__ADS_1
Plakkkk..!"
Nan Thian melakukannya secara berulang-ulang hingga sepasang pipinya bonyok dan lebam lebam.
Gerakan baru terhenti, saat Siao Hung di luar sana mendengar suara Nan Thian sedang menghukum dirinya di dalam sana.
Siao Hung segera masuk kedalam sana, dia yang maju menahan lengan Nan Thian dan berkata dengan suara penuh kesedihan .
"Nan Thian ke ke hentikan..!"
"Aku tidak ingin melihat Nan Thian ke ke, menghukum diri sendiri seperti itu.."
"Aku tahu perasaan Nan Thian ke ke hanya untuk dia.."
"Jadi lebih baik kita lupakan saja.."
"Anggap saja tidak pernah terjadi sesuatu di antara kita.."
"Sehingga Nan Thian Ke ke tidak perlu menyesal dan menyalahkan diri sendiri lagi.."
"Nan Thian ke ke jalani kehidupan terang, biar aku jalani kehidupan gelap ku.."
"Mulai hari ini, kita tidak saling berhutang lagi.."
"Kita jalani saja kehidupan kita masing-masing.."
Selesai berkata, sambil menutupi mulutnya menahan tangis.
Siao Hung langsung berlari keluar dari dalam Gua.
Saat berlari meninggalkan Gua, Siao Hung sebenarnya sangat berharap Nan Thian akan menahannya.
Tapi hingga dia keluar dari dalam Gua, dia tidak mendengar sepatah katapun dari Nan Thian .
Ataupun ada pergerakan Nan Thian mengejarnya dari belakang berusaha untuk menahan kepergiannya.
Akhirnya Siao Hung dengan hati dan perasaan hancur lebur dua terus berlari dan berlari hingga akhirnya dia tiba di sebuah tebing curam.
Di mana di bawah sana adalah batu batu tajam, dan air sungai Yang Tze, yang mengalir deras melewati bagian bawah tebing .
Siao Hung sempat melongok melihat keadaan di bawah tebing, lalu dia sambil.tersenyum sedih.
Membalikkan badannya memunggungi tepian tebing curam.
Siao Hung melepaskan kedua sepatunya di sana, Lalu dia mematahkan liontin giok, yang pernah ayah nya berikan ke dia.
Setengah dia kalung kan di lehernya sendiri, setengah lagi dia letakkan di atas sepatu kanan nya.
Kemudian Siao Hung berdiri tegak lurus dengan sepasang tangan terpentang ke kiri dan kanan.
Dia menatap kearah hutan di belakangnya sambil tersenyum getir.
Airmata mengalir deras membasahi wajahnya, hingga pandang nya menjadi kabur.
Siao Hung berkata pada dirinya sendiri, dengan suara penuh kesedihan mendalam,
__ADS_1
"Selamat tinggal Nan Thian ke ke jaga diri mu baik baik.."
"Ayah aku datang.."