
Ying Ying mengangguk pelan.
Tidak banyak protes lagi.
Tangisnya pun sudah berhenti, dia hanya terus melihat kearah wajah Siao Hung dengan tatapan mata cemas.
"Ayah bibi berdarah,.. bibi terluka ya..?"
Tanya Ying Ying tiba tiba.
Nan Thian mengangguk pelan dan berkata,
"Biarlah ibu saja yang akan mengobati nya, Ying Ying anak baik,.. Ying Ying ikut ayah saja dulu.."
Ying Ying mengangguk patuh, dia kembali bangkit berdiri di samping ayahnya.
Nan Thian memberi kode mata ke istrinya agar membantunya mengurus jasad Siao Hung .
Zi Zi mengangguk pelan, menyetujui keinginan suaminya.
Zi Zi segera menggantikan suaminya menggendong tubuh Siao Hung kembali masuk kedalam istana Sekte Diatas Langit Masih Ada Langit.
Zi Zi membantu mengurus jasad Siao Hung hingga rapi dan di masukkan kedalam sebuah kereta yang di temukan di istal kuda milik sekte tersebut.
Seluruh sekte kini kosong, semua pengikut sekte semuanya sudah pergi dari tempat itu.
Mungkin karena terburu-buru semua barang mereka tinggalkan begitu saja.
Termasuk kereta kuda yang berada di istal tersebut dan beberapa ekor kuda lainnya.
Beberapa saat kemudian Nan Thian terlihat mengendarai kereta tersebut di temani oleh Zi Zi, mereka mulai bergerak menuruni puncak gunung Mo Kui Shan.
Sedangkan Ying Ying putri mereka, dia tidur di samping jasad Siao Hung yang sudah di rapikan oleh Zi Zi.
Oleh Nan Thian, mulut Siao Hung di masukkan sebutir mutiara es abadi.
Sehingga jasad Siao Hung bisa awet, tetap seperti orang tidur tidak akan mengeluarkan bau apapun.
Saat tiba di kaki gunung, Nan Thian membawa kereta tersebut berpacu cepat menuju Xu San yang letaknya tidak begitu jauh lagi dari Mo Kui Shan.
Setelah menempuh perjalanan setengah hari Nan Thian sudah memasuki kota Xi An yang merupakan kota terdekat di kaki gunung Xu Shan.
Nan Thian mampir di kota tersebut membeli peti untuk Siao Hung .
Sekalian membawa keluarganya makan enak tidur nyenyak, setelah itu dia baru melanjutkan perjalanan menuju Xu Shan .
Pagi pagi buta Nan Thian sudah membawa kereta berisi keluarganya, meninggal kan kota Xi An.
Menjelang sore Nan Thian dan kereta nya, akhirnya tiba di pos pertama perguruan Xu Shan Pai.
Beberapa murid muda yang berjaga di sana segera menghadang di depan pintu gapura perguruan Xu Shan.
__ADS_1
"Maaf yang datang siapa..?"
"Harap laporkan nama..?"
"Anda telah memasuki kawasan Xu San Pai, tanpa ada ijin dari ketua kami.."
"Perjalanan anda hanya boleh sampai di sini, silahkan putar arah bila tidak ada kepentingan khusus."
Ucap salah satu dari 4 orang pemuda yang berjaga di sana dengan suara sopan.
Nan Thian melompat turun dari kereta nya dan berkata,
"Tolong sampaikan ke ayah ibu ku diatas sana.."
"Putranya Yue Nan Thian menantu dan cucunya yang datang berkunjung.."
Mendengar di sebutnya nama Nan Thian , keempat pemuda itu langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Maafkan kami berempat tuan muda kami orang baru jadi tidak mengenal tuan muda.."
"Mari kami antar tuan muda keras sana sekarang juga .."
Nan Thian sambil tersenyum ramah membantu mereka berempat bangun dan berkata,
"Tak perlu seperti itu, kita masih satu sekeluarga.."
"Kalian teruskan saja tugas kalian di sini, biar aku sendiri yang naik mengunjungi pos kedua dan ketiga.."
"Kalian tak perlu repot mengantar segala, aku bisa sendiri.."
mereka berempat mengangguk cepat, tidak berani banyak membantah.
Mereka tidak berani sok memaksa, karena bisa jadi Nan Thian ingin menikmati perjalanan tanpa gangguan.
Mereka sudah sering mendengar cerita tentang hebatnya kedua putra ketua mereka.
Yang satu menjadi menantu kaisar, yang lainnya menjadi pendekar luar biasa, dengan julukan Pendekar Api dan Es Surgawi.
Julukan yang hampir sama dengan julukan mertuanya, yang masih terhitung paman guru dari guru mereka.
Keempat pemuda itu segera membuka jalan untuk Nan Thian dan kereta nya lewat.
Setiba di Xu Shan, Ying Ying memaksa ingin duduk di depan.
Sehingga Zi Zi pun ikut duduk di depan menjaganya di sebelah Nan Thian yang sedang sibuk mengendalikan langkah kereta kuda mereka.
Setiba di pos kedua, perjalanan kereta kuda mereka terpaksa di hentikan di sana.
Selanjutnya Nan Thian dan anak istrinya harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki, menaiki undakan tangga kecil.
Hingga mereka tiba di pos pemeriksaan ketiga, setelah melewati pos pemeriksaan ketiga, tak lama kemudian mereka bertiga sudah tiba di depan halaman perguruan Xu San.
__ADS_1
Kedatangan Nan Thian langsung di sambut gembira oleh murid murid senior di Xu Shan.
Mereka segera mengirim orang masuk kedalam untuk melapor, sisanya mereka mengawal Nan Thian masuk kedalam bangunan pusat perguruan mereka.
Saat Nan Thian istri dan anaknya sampai di halaman depan bangunan induk perguruan Xu Shan.
Yue Feng dan Ye Hong Yi pasangan orang tua Nan Thian .
Mereka berdua terlihat bergegas menuruni undakan anak tangga.
Ye Hong Yi dengan wajah gembira dan penuh kerinduan, nenek yang masih terlihat cantik itu.
Segera menghampiri menanti kesayangan nya, memeluk dan menciuminya dengan penuh rindu.
Sedangkan Yue Feng maju memeluk putranya, lalu dia menggendong cucunya.
Mengajak mereka semua mengikutinya masuk kedalam bangunan induk suasana gembira mewarnai pertemuan membahagiakan itu.
Nan Thian mengikuti acara yang di atur oleh ibunya dengan sabar.
Dia menjalani reuni kumpul keluarga itu tanpa banyak berbicara.
Dia sebenarnya sangat ingin membicarakan separuh hatinya yang kini tertinggal di kereta di pos kedua.
Tapi dia tidak berani merusak suasana gembira reuni keluarga itu.
Sehingga dia memilih untuk menunggu waktu yang tepat baru membicarakan nya.
Yue Feng yang lebih peka akan tabiat putra keduanya, yang tidak pandai bicara .
Bila ada masalah, lebih suka menelan nya sendiri.
Melihat sikap dan gerak gerik Nan Thian dia segera menebak Nan Thian pasti ingin bicara sesuatu yang serius.
Hanya dia tidak berani mengungkapkan nya begitu saja, terutama di depan orang banyak.
Yue Feng segera mendekati putranya, dia menepuk pundak putranya dengan lembut dan berkata,
"Thian er,.. ikutlah dengan ayah.."
"Kita bicara di taman belakang saja..di sana lebih tenang.."
Nan Thian mengangguk pelan, sambil tersenyum kecut. Dia segera mengikuti ayahnya menuju taman belakang rumah.
Di sebuah Ting,.. tempat peristirahatan terbuka, Yue Feng duduk berhadapan dengan Nan Thian .
"Thian er,.. katakanlah bila ada yang ingin kamu katakan.."
"Di sini hanya ada ayah dan kamu.."
Ucap Yue Feng sambil menatap putranya penuh perhatian.
__ADS_1
Nan Thian mengangguk pelan, dia segera menceritakan semua tentang hubungan nya dengan Siao Hung .
Termasuk tentang Siao Lung, Nan Thian juga menceritakan dengan jujur semuanya tanpa ada yang dia tutupi.."