
Selesai berkata gadis malang itu, langsung berbaring terlentang kebelakang.
Sehingga tubuhnya dengan cepat langsung melayang kebawah tebing curam.
Dari kejauhan sebelum tubuhnya lenyap tertelan air sungai Yang Tze yang deras luar biasa.
Siao Hung samar samar sempat mendengar suara teriakan Nan Thian dari atas sana,
"Siao Hung jangannnn ...!"
Itu adalah suara terakhir yang Siao Hung dengar, tapi dia menganggap itu hanyalah mimpi kosongnya, yang terlalu berharap Nan Thian akan perduli dengan nya.
Siao Hung memasrahkan diri nya tengelam di sapu air sungai Yang Tze yang deras, tanpa perlawanan.
Dia sudah pasrah ingin segera meninggalkan dunia fana ini, melupakan semua kesedihan dan kepahitan hidup di dunia ini.
Mungkin hanya dengan cepat mati cepat bereinkarnasi, dua baru bisa punya peluang kehidupan yang jauh lebih baik.
Pikir Siao Hung di detik detik akhirnya, sebelum semua berubah menjadi gelap.
Sementara itu di tempat lain nya, beberapa saat setelah Siao Hung pergi.
Nan Thian yang berada dalam pikiran kacau, di mana dia terlalu shock atas semua yang terjadi.
Sehingga dia hanya terdiam di sana, tidak tahu harus lakukan apa.
Setelah beberapa waktu berlalu Nan Thian akhirnya sadar dari lamunannya.
Dia mulai menyadari kekeliruannya.
Dia mulai bisa mencerna semua ucapan terakhir Siao Hung sebelum pergi.
Nan Thian langsung melompat berdiri, dia segera berlari cepat bagaikan orang kesetanan.
Mengejar kearah di mana Siao Hung pergi.
Sambil berlari cepat dia berkata,
"Maafkan aku Siao Hung .."
"Aku terlalu egois, aku kurang mempertimbangkan perasaan mu.."
"Kau maafkan lah aku, Siao Hung .."
"Tunggulah aku, aku akan memberikan mu jawaban yang memuaskan semua pihak.."
Ucap Nan Thian sambil berlari cepat melakukan pengejaran kearah Siao Hung pergi.
Nan Thian mengikuti langkah Siao Hung , dengan mengikuti jejak kaki gadis itu, yang tertinggal.
Akibat tanah masih basah terkena hujan deras.
Jejak kaki Siao Hung akhirnya membawa Nan Thian tiba, di ujung tebing.
Melihat ada sepasang sepatu merah tertinggal dan ada potongan liontin Giok kesayangan Siao Hung di sana.
__ADS_1
Nan Thian segera menyadari sesuatu dia segera berlari ketepi tebing dan berteriak keras,
"Siao Hung jangannnn ...!"
Nan Thian yang melihat ada kain merah melambai lambai di bawah sana.
Dia tanpa pikir panjang, langsung ikut terjun menyusul ke bawah.
"Byuuur..!"
Air muncrat tinggi keatas, saat tubuh Nan Thian meluncur masuk kedalam air.
Nan Thian segera menyelam kebawah, melakukan pencarian hingga ke dasar sungai.
Tapi dia tidak berhasil menemukan apapun di sana, air sungai terlalu deras, baik diatas maupun di bawah.
Sehingga Nan Thian terbawa terombang ambing kesana kemari.
Hingga akhirnya saat kembali ke permukaan sungai dengan nafas hampir habis.
Nan Thian hanya berhasil menemukan sepotong kain merah, bekas sapu tangan nya Siao Hung .
Lainnya tidak berhasil Nan Thian temukan, setelah mencobanya berulang kali tapi tetap nihil.
Akhirnya sambil mengambang diatas sungai Yang Tze yang berarus deras.
Nan Thian berteriak keras, sekuat tenaga,
"Siao Hung ...! Siao Hung ...! kamu di mana...!*
"Siao Hung ...lekas keluarlah...!"
"Aku akan bertanggungjawab penuh padamu..!"
"Keluarlah Siao Hung ..!"
"Kamu tidak boleh pergi...!"
Teriak Nan Thian putus asa.
Karena selain suara angin kencang dan suara ombak sungai.
Tidak ada suara sahutan lain yang terdengar, selain suara pantulan gemanya sendiri yang membalik.
Hingga tenggorokan serak, dan dirinya juga sudah terseret jauh meninggalkan daerah tebing.
Tempat Siao Hung mengakhiri hidupnya dengan penuh nestapa .
Nan Thian akhirnya mendarat di tepi sungai yang cukup jauh dari lokasi tebing.
Setelah berganti pakaian, Nan Thian segera melesat kembali ke arah tebing, melalui jalan darat.
Meski cukup jauh menempuh lewat jalur darat yang berliku liku, tanpa kesulitan berarti Nan Thian akhirnya berhasil kembali ke tepi tebing.
Di sana Nan Thian hanya mendapatkan sepasang sepatu merah dan potongan 1/2 potong liontin giok kesayangan Siao Hung .
__ADS_1
Nan Thian duduk termenung di tepi tebing dengan wajah di penuhi kesedihan dan penyesalan.
Dia terus menatap kosong kearah bawah tebing, di mana sungai Yang Tze di bawah sana mengalir dengan deras, di sertai ombak bergulung gulung, yang menghantam bebatuan tebing di bawah sana dengan sangat kuat.
Sepasang tangan Nan Thian memegang erat sepasang sepatu dan potongan liontin giok putih peninggalan terakhir Siao Hung sebagai kenang kenangan penuh kesedihan dan penyesalan seumur hidup bagi dirinya.
Hingga matahari mulai tenggelam, langit menjadi merah di kala senja mulai tiba.
Nan Thian akhirnya sambil menghela nafas berat penuh rasa sesal, dia menyimpan semua benda kenang kenangan dari Siao Hung kedalam cincin penyimpanan nya.
Setelah itu dengan wajah lesu, untuk terakhir kalinya, Nan Thian menatap ke bawah tebing dan berkata,
"Siao Hung maafkan aku, aku memang lelaki pembawa sial..!"
"Semua wanita yang bersama ku, pasti akan mengalami kemalangan, hingga meninggal dengan cara mengenaskan..!"
"Xue Xue Semei adalah yang pertama, bibi kecil Li Meng Zi adalah yang kedua, dan kini adalah yang ketiga..!"
"Mulai hari ini, aku bersumpah kamulah yang terakhir, aku tidak akan berdekatan dengan wanita..!"
"Bila aku melanggar sumpah ku hari ini, biarlah aku mati dengan cara mengenaskan tanpa kubur..!"
Teriak Nan Thian melepaskan sumpahnya dengan di penuhi kesedihan dan penyesalan mendalam.
Sesaat kemudian Nan Thian menatap ke angkasa yang berwarna lembayung, dan berkata,
"Paman Sun Jian, maafkan aku tidak bisa menjalani wasiat terakhir mu dengan baik.."
", Maafkan aku paman, biarlah di kehidupan mendatang Nan Thian menjadi sapi dan kuda untuk membayar semua hutang ku di kehidupan ini.."
"Sekali lagi maaf paman.."
Ucap Nan Thian sambil bersujud tiga kali di sana.
Beberapa saat Nan Thian termenung di tepi tebing curam, setelah menghela nafas berat berulang kali.
Saat langit mulai gelap Nan Thian akhirnya memutuskan meninggalkan tempat tersebut.
Kini hanya ada satu tujuan Nan Thian , yaitu secepatnya membantu Zhu Yuan Zhang mengusir bangsa penjajah Mongolia dari tanah airnya.
Kemudian menepati janjinya pada sahabatnya Kim Kim membantunya menemukan saudaranya Siluman Naga Hijau Semesta.
Setelah itu dia akan kembali ke Gua Api Surgawi, untuk menghabiskan sisa hidupnya, mengasingkan diri dari dunia fana yang penuh dengan ketidak bahagian ini.
Benarkah Siao Hung telah mati, setelah terjatuh kedalam sungai Yang Tze yang berarus deras.
Secara logika semua orang juga akan berpikir sama seperti Nan Thian , dia mati mengenaskan hingga jasad pun tidak di temukan.
Tapi semua itu adalah kehendak dari yang maha kuasa, bila yang maha kuasa menghendaki seseorang mati.
Meski bersembunyi di istana yang di jaga dengan ketat sekalipun akan tetap mati, begitu pula sebaliknya.
Meski ada di tempat yang menurut semua orang pasti mati, bola Yang kuasa mengatakan tidak
Maka berbagai keajaiban bisa saja terjadi.
__ADS_1