
Nan Thian tanpa melihat lagi, dia langsung terus berjalan keluar dari dalam ruangan khusus tersebut.
Kim Kim sambil bersungut-sungut, tentu saja harus berlari menyusul nya.
Tapi sebelum pergi, dia masih sempat meraih beberapa potong kue, yang sekaligus di jejal kan kedalam mulutnya yang kecil.
Ajaibnya mulutnya meski kecil, tapi muatan di dalam nya besar, seperti botol labu saja.
Nan Thian terus bergerak melewati ruangan umum lantai dua, kemudian menuruni anak tangga menuju ruangan umum lantai satu.
Saat melewati meja kasir, di mana pemilik restoran berada,
Nan Thian melempar beberapa Tael emas, yang langsung berjejer rapi di depan meja
Pemilik restoran dengan wajah gembira, buru buru menyimpan nya kedalam laci.
Lalu dia dengan tubuh terbungkuk bungkuk mengantar Nan Thian hingga di depan pintu keluar restoran dan berkata dengan penuh hormat,
"Terimakasih kunjungan nya Tai Ping Wang.."
"Hati hati di jalan,.. ada waktu mampirlah lagi kemari.."
Nan Thian tidak menanggapinya hanya terus melanjutkan langkahnya.
Di dalam hati Nan Thian berkata, andai saja sepuluh tahun yang lalu saat aku terusir dari Qing Hai Pai, datang kemari.
Bahkan sekedar duduk di undakan anak tangga mu pun, kamu tidak akan memperbolehkan nya.
Dasar sifat manusia memang seribu ragam jenis.
Nan Thian saat melewati sebuah kedai mie kecil di tepi jalan, dia secara tidak sengaja melihat pria setengah tua tadi dan putrinya sedang duduk di sana.
Nan Thian membelokkan langkahnya menghampiri pemilik kedai, dia lalu memberikan sekantung uang perak ke pemilik kedai tersebut.
Setelah itu dia meneruskan langkahnya meninggalkan kedai tersebut, dengan tatapan mata lurus kedepan.
Siao Hung yang sedang iseng menunggu mie pesanannya, secara tidak sengaja, dia melihat Nan Thian .
Sepasang matanya yang jeli menatap kearah wajah Nan Thian hingga lupa berkedip.
Sesaat kemudian setelah Nan Thian berlalu dia baru berkata,
"Ayah mengapa di dunia ini ada orang yang berparas begitu tampan, masih begitu muda."
"Tapi rambutnya sudah putih semua, melebihi rambut seorang kakek tua..?"
Pria setengah tua itu berkata,
"Di dunia ini tidak ada yang perlu di herankan, apapun ada.."
"Sedangkan mengapa begini mengapa begitu, bila tidak berhubungan dengan kita.."
"Kurangi mengurus orang lain, akan jauh lebih baik buat kita.."
__ADS_1
Siao Hung meski mengangguk tapi dia bersungut sungut tidak puas.
Tidak lama kemudian mie pesanan mereka pun datang.
Si pemilik kedai dengan sigap menyajikan mie di hadapan Siao Hung dan ayahnya.
Si pemilik kedai, kemudian mengeluarkan sebuah kantung kain hitam .
Dia meletakkannya diatas meja dan berkata,
"Tuan,.. mie ini sudah di bayar oleh Tai Ping Wang, dan bungkusan ini adalah titipan Tai Ping Wang tadi buat tuan.."
Pria setengah tua itu sedikit kaget, dia segera menatap kearah pemilik kedai dengan wajah heran, dan berkata,
"Maaf saya tidak mengenal yang namanya Tai Ping Wang, mengapa bisa.."
Pemilik kedai sambil tersenyum ramah berkata,
"Tai Ping Wang menolong orang tidak pernah pilih pilih, juga tidak perlu saling kenal dengan nya.."
"Kejadian ini sudah sering terjadi, tidak ada yang perlu di buat heran."
"Tai Ping Wang adalah putra langit.."
"Tentu saja tindak tanduk seperti kaisar langit, yang menitis kedunia, memberikan pertolongan kesemua orang tanpa pamrih apapun.."
Ucap pemilik kedai menjelaskan dengan penuh semangat.
Lalu dia mendorong kantung itu mendekati pria setengah tua itu, dan berkata,
"Permisi.."
Pria setengah tua itu terpaksa menerimanya, dia lalu mencoba melihat isi kantung tersebut.
Begitu tutup kantung di buka, dia langsung terbelalak, saat melihat isi kantung yang terisi, uang perak begitu banyak.
"Ini terlalu banyak, selesai makan kita harus mengembalikan uang ini ke Tai Ping Wang.."
Ucap pria itu sambil menatap kearah putrinya.
Siao Hung mengangguk pelan dan berkata,
"Terserah ayah, Siao Hung ikut saja.."
Mereka berdua menyelesaikan makan dengan cepat, setelah itu pria setengah tua itu.
Segera pergi menghampiri pemilik kedai dan berkata,
"Kakak numpang tanya, di mana letak kediaman Tai Ping Wang berada..?"
Pemilik kedai tersenyum ramah dan berkata,
"Dari jalan ini tuan lurus kedepan, saat bertemu perempatan jalan, tuan belok kanan.."
__ADS_1
"Dari sana lurus saja, nanti akan ketemu istana lama, di sanalah Tai Ping Wang tinggal.."
Pria setengah tua itu mengangguk paham, dia segera berkata,
"Terimakasih banyak informasi nya, kamu permisi dulu.."
Pria setengah tua itu dan putrinya, menjura memberi hormat kepada pemilik kedai.
Setelah itu mereka berdua segera berlalu dari sana.
Pemilik kedai menanggapinya dengan membalas menjura dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah.
Setelah itu dia kembali melanjutkan pekerjaan nya, memasak mie untuk pelanggannya yang lain.
Tanpa kesulitan pria setengah tua itu dan putrinya, mereka berhasil menemukan kediaman Nan Thian .
Tapi mereka hanya bisa berdiri di depan pintu gerbang, tidak bisa masuk.
Karena tempat kediaman Nan Thian berada di tengah tengah komplek yang di kelilingi oleh tembok benteng pertahanan istana.
Di pintu gerbang ada beberapa penjaga yang bertugas jaga di sana.
Tidak sembarang orang bisa bebas keluar masuk kedalam komplek istana kediaman Nan Thian .
Pria setengah tua itu, akhirnya memberanikan diri maju menghampiri penjaga pintu gerbang dan berkata dengan penuh hormat.
"Maaf tuan tuan prajurit sekalian, nama saya Sun Jian dan ini putri saya Sun Siao Hung.."
"Kami berdua ada sedikit urusan ingin bertemu dengan Tai Ping Wang.."
"Bolehkah tuan tuan sekalian membantu kami masuk kedalam menemui beliau.."
Keempat prajurit itu memandang mereka berdua dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan sikap curiga.
"Ada urusan apa kalian berdua ingin bertemu dengan Yang Mulia, Tai Ping Wang..?"
Tanya salah satu prajurit itu sambil menatap tajam kearah Sun Jian dan putrinya Sun Siao Hung.
Sun Jian setelah berpikir sejenak tanpa menemukan alasan tepat.
Akhir nya dia berkata sejujurnya, sambil mengeluarkan bungkusan kain hitam dari Nan Thian .
"Kedatangan kami adalah untuk mengucapkan terimakasih dan mengembalikan bungkusan ini, kepada Tai Ping Wang."
Prajurit penjaga yang bertanya tadi segera mengulurkan tangannya dan berkata,
"Serahkan saja pada kami, nanti biar kami yang sampai kan kembali kepada Yang Mulia.."
Bungkusan itu berisi uang yang cukup banyak, Sun Jian tentu saja tidak bisa saja menitipkan kepada prajurit yang tidak tahu bisa di percaya atau tidak.
Bila dia titipkan tapi mereka tidak mengembalikan kepada Tai Ping Wang, semua usahanya jadi sia sia.
Dia yang memikul hutang Budi besar dari Nan Thian, tapi prajurit prajurit ini yang akan menikmatinya.
__ADS_1
Setelah mempertimbangkannya matang matang, akhirnya Sun Jian berkata,
"Maaf tuan prajurit, hal itu tidak bisa saya lakukan, mohon pengertian dari tuan tuan prajurit sekalian.."