PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
GADIS CANTIK TAK DI KENAL


__ADS_3

Mengejar kearah Hartawan Coa, mata tombak langsung menancap di lubang anusnya.


"Arrggghhh...!"


Hartawan Coa langsung menjerit ngeri, tubuhnya langsung jatuh tengkurap di atas tanah.


Kini dia juga ikutan merintih rintih tidak mampu berdiri.


"Wah kakak kamu kejam juga,.."


"Seminggu kedepan, dia tidak bakalan bisa buang air besar..!"


"Bahkan kentut pun sulit.."


Ucap Ping Ping sambil berusaha menahan tawa.


Nan Thian hanya tersenyum tipis menanggapi guyonan Ping Ping .


Lalu dia berkata dengan wajah polos,


"Selanjutnya kemana kita sekarang..?"


"Ayo kita pergi dari sini, aku akan mengajak mu pergi makan enak.."


Ucap Ping Ping bersemangat.


Karena kini dia punya uang cukup banyak di tangan.


Pertama dia memang sudah sangat lapar, karena jatah makan siangnya di habisi Nan Thian .


Kedua dia sudah lama ingin makan enak, di restoran paling besar di kota terdekat dari desa mereka ini.


Selama ini, setiap kali ke kota jual hasil ikan bersama ayah dan kakeknya..


Dia hanya bisa melihat dari jauh sambil menahan liur, tapi tidak pernah bisa masuk kesana.


Hari ini adalah perkecualian, dia benar benar akan masuk dan menikmati semua masakan di sana hingga puas.


Nan Thian mengikuti saja, tarikan tangan Ping Ping yang mengajaknya meninggalkan tempat keributan itu.


Mereka berdua langsung menuju restoran yang bagi Ping Ping mungkin sudah sangat istimewa.


Tapi bagi Nan Thian bila ingatannya pulih, tentu restoran itu tidak ada apa apanya.


Di bandingkan berbagai restoran kota besar yang pernah dia singgahi bersama Kim Kim.


Tidak usah jauh jauh, cukup salah satu restoran di kota wilayah yang menjadi kekuasaan nya.


Kota An Hui atau kota yang dia ganti namanya jadi Chang An, di bandingkan salah satu restoran kecil di sana saja.


Restoran ini jelas tidak akan ada apa apanya.


Sementara di pasar sana ramai orang memperbincangkan kejadian yang Nan Thian lakukan terhadap Hartawan Coa.


Hingga menarik perhatian seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan yang kebetulan melewati tempat tersebut.

__ADS_1


Terutama si gadis cantik itu, dia terlihat terus bertanya tanya dengan sangat antusias.


Kepada orang orang yang menjadi saksi keributan tersebut.


Gadis cantik itu terus bertanya tanya ciri ciri Nan Thian .


Bahkan dia sampai menggunakan tangannya menggambarkan tingginya Nan Thian .


Terakhir dia mengeluarkan sebuah kertas bergambar sketsa wajah Nan Thian .


Dia menunjukkan ke orang orang yang hadir di sana dan berkata,


"Apa ini orangnya..?"


Salah satu di antara mereka memperhatikan dengan cepat, lalu dia mengangguk cepat membenarkan sambil menunjuk gambar di tangan gadis tersebut dia berkata,


"Benar benar.. itu dia.."


"Hanya saja rambutnya berbeda, pria yang menghajar Hartawan Coa, rambutnya putih semua.."


"Tidak ada hitamnya sama sekali.."


"Dia mirip kakek tua, tapi wajahnya justru seperti gambar nona..'


Gadis itu menoleh kearah pria di sebelahnya, pria itu hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua bahunya.


Tidak berkomentar apapun.


Melihat respon teman laki lakinya, gadis itu mencemberutkan bibirnya dan berkata,


"Dasar patung,.. meminta pendapat mu hanya akan makan hati.."


Dengan langkah uring uringan, dia terus berjalan menuju restoran yang di tunjukkan oleh beberapa orang yang berpapasan dengan nya.


Bahwa pria yang sedang dia cari, sesuai dengan gambar di tangannya itu.


Saat ini sedang ada di restoran tersebut.


Pria berwajah dingin, berambut biru putih, tapi sangat tampan itu.


Tidak berkomentar apapun atas ucapan gadis temannya yang sepertinya sedang kesal itu.


Dia memilih mengikuti langkah gadis itu dari belakang, tanpa banyak komentar .


Sedangkan gadis itu, saat tiba di depan restoran, dia mendongak sebentar keatas.


Melihat restoran sederhana yang terdiri dari dua lantai itu.


Setelah itu dia baru melangkah masuk kedalam restoran.


Begitu masuk kedalam restoran tanpa memperdulikan sambutan dan ucapan pelayan dan pemilik restoran yang menyapanya dengan penuh hormat.


Gadis cantik itu, langsung mengedarkan sepasang matanya yang sangat indah dan menakjubkan itu mencari cari, keberadaan orang yang di cari nya.


Di lantai satu dua tidak berhasil menemukan nya, gadis itu langsung berjalan menuju tangga, lalu bergerak menuju lantai dua.

__ADS_1


Pelayan dan pemilik restoran yang mau menghampiri gadis itu, menyertainya menuju lantai dua.


Langkah mereka tertahan oleh pemuda berambut biru, berwajah sedingin es, yang menghadang di hadapan mereka.


Tanpa basa basi, pemuda itu melempar sekeping uang emas, kearah pemilik restoran dan berkata,


"Siapkan yang terbaik.."


Setelah itu dia langsung bergerak menyusul Gadi cantik temannya, yang kini sudah tiba di lantai dua.


Pemilik restoran mencoba mengigit keping emas ditangannya.


Saat dia memastikan itu benar Tael emas, sepasang matanya langsung berbinar.


Dengan penuh hormat, dan tubuh membungkuk bungkuk, dia segera pergi menyiapkan pesanan buat pemuda rambut biru itu.


Gadis cantik yang memiliki sepasang mata yang sangat indah itu.


Saat dia tiba di lantai dua sepasang matanya yang indah, langsung tertuju lekat lekat pada wajah Nan Thian , yang sedang duduk di depan Ping Ping .


Nan Thian sendiri tidak menaruh perhatian nya sama sekali terhadap kehadiran gadis cantik, seperti Dewi kahyangan itu.


Nan Thian hanya fokus ngobrol dengan Ping Ping, sambil sesekali membantu menyumpitkan makanan buat Ping Ping .


Selain itu dia juga berulang kali mengisi cawan di hadapan Ping Ping agar Ping Ping yang sedang asyik makan jangan sampai tersedak.


Nan Thian sendiri hanya makan sedikit sedikit saja, sambil menonton Ping Ping makan.


Melihat situasi itu, gadis cantik itu dadanya sampai bergelombang turun naik.


Wajahnya terlihat merah padam, menahan emosinya yang hampir meledak.


Sepasang alisnya yang lentik dan indah seperti di ukur itu, sampai berdiri.


Sepasang matanya yang indah terlihat berapi-api terus menatap kearah Ping Ping dan Nan Thian secara bergantian.


"Dasar kucing, tidak bisa melihat ikan.."


"Baru di tinggal sebentar saja, ikan asin hitam pun di sosor.."


Umpat gadis cantik itu kesal mendumel di dalam hati.


Sikap gadis cantik itu, yang terus berdiri di sana menatap kearah Ping Ping dan Nan Thian lekat lekat.


Tentu saja akhirnya menarik perhatian Ping Ping yang sedang asyik makan.


Dia sejenak menghentikan makannya, setelah memasukkan suapan terakhir sepotong daging sapi.


Dia kunyah sebentar lalu dia telan, dengan bantuan dorongan secawan air putih, yang Nan Thian berikan.


Ping Ping membalas menatap gadis cantik itu penuh percaya diri.


Ping Ping sekarang berbeda dengan Ping Ping yang dulu, sekarang dia sangat percaya diri.


Di sampingnya kini ada tuan bank berjalan, selain itu tuan bank berjalannya masih memiliki segudang kesaktian.

__ADS_1


Tentu saja Ping Ping kini tidak perlu takut dengan gertakan siapa pun.


Termasuk gadis cantik itu, yang dia tidak kenal, tapi terus menatap kearah penuh kebencian, seolah olah bila tidak menelannya, dia tidak akan pernah puas.


__ADS_2