
Sun Jian yang menyadari tingkah konyol putrinya, dia segera menendang kaki putrinya di bawah sana.
Siao Hung segera menyadari kekeliruannya, dia buru-buru menunduk dengan wajah merah padam.
Sun Jian setelah menegur putrinya, dia segera mengeluarkan kantong uang pemberian Nan Thian .
Dia meletakkannya di atas meja, kemudian dia sorongkan kehadapan Nan Thian dan berkata,
"Tai Ping Wang maaf hadiah ini terlalu besar dan banyak jumlahnya.."
"Hamba tidak berani menerimanya, niat baik Tapi Ping Wang lebih baik hamba terima di hati saja.."
"Maksud tujuan kedatangan kami, hanya untuk mengembalikan ini, tiada maksud lainnya.."
Ucap Sun Jian sopan.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Paman Sun, panggil saja saya Nan Thian .."
"Tak perlu pakai Tai Ping Wang segala, itu hanya gelar kosong yang tidak nyaman di pergunakan.."
"Ini adalah sedikit niat tulus saya, menolong sesama orang yang hidup di dunia sungai dan telaga yang sedang membutuhkan.."
"Saya harap paman tidak menolaknya bila menghargai niat tulus persahabatan ini.."
Ucap Nan Thian sambil menyorongkan kembali kain kantung uang itu kehadapan Sun Jian.
Sungai dan telaga sering diartikan dari kata Ciang Hu, yang konotasinya adalah dunia persilatan.
Sun Jian terlihat ragu dan serba salah, Siao Hung melirik tingkah ayahnya.
Dia akhirnya sambil tersenyum manis, mengulurkan tangannya mengambil kantung kain itu.
Lalu dia masukkan ke dalam kantung baju ayahnya dan berkata,
"Nan Thian ke ke tulus ingin menjalin persahabatan dengan kita.."
"Bila ayah menolaknya bukan kah itu sangat tidak baik dan kurang menghargai niat tulus Nan Thian ke ke.."
"Benar tidak Nan Thian ke ke.."
Ucap Siao Hung sambil tersenyum kearah Nan Thian .
Tapi saat melihat kearah Nan Thian , tanpa bisa di cegah, secara tidak sengaja matanya kembali tertuju kearah kepala Nan Thian .
Nan Thian selain tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa.
Di dalam hati dia kembali mengutuk habis habisan ulah Kim Kim sahabatnya itu.
Sun Jian segera menjura kearah Nan Thian dengan penuh hormat dan berkata,
"Budi baik dan niat tulus saudara Nan Thian , aku Sun Jian selama nya akan mengingatnya."
"Kapan pun saudara Nan Thian membutuhkan tenaga kami, meski harus berkorban nyawa sekalipun kami tidak akan mundur.."
Nan Thian tersenyum lembut dan berkata,
__ADS_1
"Paman Sun terlalu serius, tentu tidak perlu sampai seperti itu.."
"Nan Thian hanya ingin menjalin persahabatan saja, tidak ada niat lainnya.."
"Paman Sun kalau boleh tahu, kemana sebenarnya tujuan nya Paman Sun ingin pergi..?"
Sun Jian menghela nafas panjang dan berkata,
"Kami berdua sebenarnya adalah korban kekejaman bangsa penjajah Mongolia.."
"Harta kami di jarah, rumah kami di bakar, ibunya di culik selagi dia masih kecil."
"Aku yang tidak punya kemampuan, sehingga dia harus ikut menderita kehilangan kasih sayang ibu di usia muda.."
"Kini mendengar di wilayah Nan Jing ada pemimpin bijaksana Zhu Yuan Zhang.."
"Aku dan putri ku ingin ikut bergabung kesana, menyumbangkan sedikit kemampuan kami.."
"Untuk mengusir penjajah dari negeri ini.."
Nan Thian mengangguk dan menatap dengan tatapan penuh simpati kearah Sun Jian.
Sesaat kemudian Nan Thian pun berkata,
"Bila Paman Sun dan nona Sun ingin bergabung dengan pejuang rakyat Zhu Yuan Zhang.."
"Kebetulan aku punya hubungan baik dengan nya, begini saja.."
"Bila Paman Sun dan nona Sun tidak berkeberatan malam ini beristirahat saja di sini, di kediaman ku.."
"Nanti saya akan berikan surat pengantar ke,paman, sebagai rekomendasi ke Yang Mulia Zhu Yuan Zhang.."
"Jadi keinginan paman akan lebih mudah terwujud.."
"Bagaimana menurut paman Sun dan nona Sun..?"
"Ini tentu saja sangat baik dan kami tentunya sangat berterima kasih.."
"Tapi menginap di sini, kami jadi akan merepotkan saudara Nan Thian .."
Ucap Sun Jian ragu.
"Paman tak perlu sungkan, ya sudah kita putuskan begitu saja, nanti pelayan akan saya tugaskan untuk mengatur segala sesuatu nya.."
"Paman Sun dan nona Sun silahkan saja bersantai, jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri .."
"Saya mohon permisi dulu, untuk pergi menyiapkan surat rekomendasi, dan hal lainnya. Untuk keperluan besok pagi.."
Ucap Nan Thian sambil memberi hormat dengan sopan.
Setelah itu dia segera berlalu dari sana.
Siao Hung terus menatap kearah bayangan punggung Nan Thian hingga hilang dari pandangan nya.
Dia tidak bisa lagi menutupi rasa kagumnya dan penasarannya terhadap Nan Thian .
Di matanya Nan Thian adalah sosok yang begitu sempurna tapi sangat misterius dan sepertinya di balik sikap ramah sopan dan senyuman nya yang menawan, tersimpan suatu luka penderitaan masa lalu yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
Dan hal itu sangat mengundang rasa penasaran Siao Hung untuk mengetahuinya lebih dalam dan kalau diijinkan, dia sangat ingin pergi menghibur dan mengobati luka tersebut.
Tapi semua itu adalah angan angan pribadi gadis muda itu.
Sebagai ayah yang membesarkan putrinya, Sun Jian tentu yang paling pertama menyadari hal itu.
Dari awal pertemuan mereka, di mana putrinya yang biasanya selalu bersikap cuek terhadap pria manapun.
Tapi terhadap Nan Thian, dia begitu berbeda dan sangat menaruh perhatian , dari sana saja, Sun Jian sudah menyadari putrinya mulai dewasa.
Sepertinya diam diam sangat menyukai Nan Thian .
Setelah Nan Thian pergi, Sun Jian menatap putrinya dengan lembut dan berkata,
"Siao Hung dengarkan ayah, Nan Thian memang pemuda pilihan yang jarang ada dua nya.."
"Tapi kamu jangan menaruh harapan terlalu tinggi padanya, agar saat gagal dan jatuh tidak terlalu menyakitkan.."
"Ayah tidak bermaksud mengecilkan perasaan mu, ayah hanya tidak ingin melihat kamu terluka dan sakit karena nya.."
Ucap Sun Jian sambil menatap kearah putri tunggal nya itu dengan sangat serius.
Dia juga pernah muda, tentu dia juga pernah melewati hal itu, jadi sebisa mungkin, dia ingin memberikan nasehat terbaik untuk putrinya.
Siao Hung wajahnya langsung merah padam, rahasia hati nya tertangkap basah oleh ayah nya.
Sambil melengos membuang muka, dia segera berjalan menuju tepi kolam memunggungi ayahnya dan berkata,
"Ayah jangan berpikir terlalu jauh.."
"Siao Hung hanya bersimpati dan ingin berteman saja, tidak lebih dari itu ."
Ucap Siao Hung mencoba berkilah.
Sun Jian menghela nafas panjang dan berkata,
"Baguslah bila kamu punya pemikiran seperti itu.."
"Kamu sudah dewasa, ayah tidak akan ikut campur terlalu jauh ."
"Sebaiknya melakukan segala sesuatu, hendaklah di pikirkan dengan matang, baik buruknya, dengan segala resiko dan akibatnya.."
"Jangan sampai kelak menyesal, tapi semuanya sudah terlambat.."
Ucap Sun Jian sekali lagi mencoba memberikan nasehat ke putrinya.
Siao Hung menyimpan rapat rapat, apa yang di rasakan dan pikirkan, dia segera membalikkan badannya menghampiri ayahnya, sambil berpura pura tertawa dan merengek manja.
Dia segera berkata,
"Ayah ini pikir sampai kemana,..? ayah tenang saja.."
"Siao Hung tahu mana baik, mana tidak, mana pantas, mana tidak."
"Siao Hung jamin, Siao Hung tidak akan pernah jadi seperti yang ayah cemaskan."
__ADS_1