PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
KEMBALI DI CEGAT


__ADS_3

Jalur menuju wilayah barat memang lebih banyak pegunungan, tebing tinggi, celah sempit, juga Padang gurun dan Padang stepa.


Paman Jiang termasuk kusir yang bernyali, karena dia tadinya adalah kusir kereta perang.


Dia juga menguasai ilmu bela diri, meski hanya sebatas ilmu bela diri ketangkasan dan kekuatan tenaga luar seperti kaum militer.


Tapi itu sudah lebih baik lah dari pada orang biasa, ataupun tukang pukul jalanan.


Kereta terus melintasi celah tebing yang sepi dan agak remang remang.


Karena berada di jalan celah, cahaya bulan tidak sepenuhnya bisa tembus hingga ke jalan yang terletak di dasar celah .


Nan Thian keluar dari dalam kereta, ikut duduk menemani paman Jiang.


Sedangkan Zi Zi dan putrinya, mereka berdua sehabis makan, mereka sudah tertidur pulas di dalam kereta.


Menjelang tengah malam mulut celah tebing mulai melebar dan terus melebar hingga akhirnya daerah luas dan terbuka mulai terlihat oleh Paman Jiang dan Nan Thian .


Saat kereta semakin mendekati mulut lembah, di depan sana tiba tiba muncul lima bayangan hitam menghadang perjalanan mereka.


Nan Thian yang bermata tajam segera bisa memastikan siapa yang muncul di depan sana, menghadang perjalanan nya.


Nan Thian segera mengenali tiga diantara lima orang itu adalah tiga orang dari partai diatas langit masih ada langit


Mereka adalah tiga orang yang mengantar undangan untuk nya.


Sedangkan dua yang lainnya, Nan Thian tidak kenal.


Tapi Nan Thian yakin dua orang itu adalah orang sakti, yang kemungkinan sengaja di datangkan oleh ketiga orang yang pernah berhadapan dengan nya, beberapa waktu yang lalu.


Nan Thian yang merasa kedatangan mereka tidak mengandung niat baik.


Nan Thian segera mengeluarkan pedang Panca Warna di tangan nya.


"Zi Zi waspadalah ada musuh menghadang, jaga Ying Ying dengan baik.."


Ucap Nan Thian lewat pesan suara yang dia kirimkan ke istrinya.


Nan Thian yang khawatir dengan lawan yang mungkin akan mengincar keluarganya.


Dia juga mengirim pesan telepati, untuk menghubungi sahabatnya Kim Kim yang jauh bersembunyi di daerah selatan sana.


Meski jarak cukup jauh pulang pergi butuh waktu.


Tapi Nan Thian tidak berpikir demikian.


Karena Kim Kim memiliki kecepatan yang bisa di luar nalar, bila di perlukan.


Lagipula kehadiran Kim kim hanya buat cadangan dan berjaga jaga saja.


Nan Thian sambil berdiri gagah di bagian depan kereta, dia berkata, "Paman Jiang, hentikan kereta bergerak mundurlah dalam radius satu Li kebelakang.."


Ok aman Jiang mengerti situasi, dia segera menghentikan laju kuda.


Kemudian segera menarik tali kendali kudanya, membuat kudanya bergerak berbalik arah.

__ADS_1


Selagi kereta kuda sedang bergerak berbalik arah, Nan Thian sudah hilang dari kereta kuda.


Saat muncul lagi dia sudah mendarat ringan di hadapan kelima orang yang datang menghadang perjalanan nya.


Nan Thian menatap tajam kearah mereka dan berkata,


"Kalian bertiga lagi,..apa yang kalian inginkan..!?"


"Aku berikan peringatan terakhir jangan menganggu ku, atau kalian jangan menyesal..!"


Bentak Nan Thian serius.


Nan Thian mulai menganggap mereka terlalu memaksa dan sudah sangat keterlaluan.


"Pendekar muda, tak perlu kamu marah marah.."


"Mereka hanya menjalankan tugas saja.."


"Kami semua tidak ada maksud buruk, kami hanya ingin mengundang anda menghadiri acara di gunung hantu iblis, yang masih merupakan bagian dari Kunlun Shan.."


"Aku rasa itu juga tidak akan menganggu perjalanan mu, karena kalian juga pasti melewati tempat itu.."


"Hanya sekedar hadir turut berpartisipasi meramaikan nya saja.."


Nan Thian tersenyum dingin dan berkata,


"Aku sudah katakan dari awal, aku tidak tertarik.."


"Silahkan cari orang lain saja, jangan lagi menganggu ku.."


Salah satu dari kedua pria yang hadir di sana, di mana dia adalah seorang pria berusia 40 an dengan kepala botak di tengah, tapi rambut di sekitarnya masih ada.


Sepasang mata nya mengeluarkan cahaya merah menyala.


Dia menatap tajam dan melepaskan aura menekan kearah Nan Thian.


Sesaat kemudian dia dengan tenang berkata,


"Tidak apa apa bila kamu tidak berminat, asalkan kamu mampu mengalahkan kami berdua.."


"Kami tidak akan menganggu mu lagi.."


"Sesam memohon pengajaran dari mu.."


Ucap pria berkepala botak yang bernama Sesam itu sopan.


Ucapan nya memang terdengar sopan, tapi senyum ekspresi dan tatapan matanya, jelas menunjukkan dia tidak lah datang untuk bersahabat.


Sebatang golok cahaya merah kehitaman, tiba tiba muncul di dalam genggaman tangannya.


Sebelum kemudian dia melesat kedepan menyerang Nan Thian dengan tebasan golok cahaya merah nya.


"Trangggg...!"


"Trangggg...!"

__ADS_1


"Trangggg...!"


Benturan senjata keras lawan keras, segera terjadi berulang ulang di udara.


Mereka berdua saling berusaha menindih dan menekan kekuatan lawan mereka, dengan jurus andalan masing masing.


Setelah beberapa kali benturan, lawan Nan Thian Sesam terlihat keteteran menghadapi serangan pedang tanpa wujud yang Nan Thian lepaskan.


Melihat kondisi ini, rekannya Sesam, Seorang pria yang juga berumur40 an.


Berpakaian kuning pupus, dengan bagian dada sedikit terbuka, dia memegang sebatang tombak yang tercipta dari cahaya biru


Dia juga memegang sebuah tameng perisai segitiga yang juga terbuat dari cahaya biru


Pria yang memilki bola mata biru ini, bernama Samoke.


Sambil berteriak keras,


"Samoke memohon pengajaran..!"


Dia langsung maju menerjang kearah Nan Thian membantu rekan nya Sesam menyerang Nan Thian dari sisi lain.


Tombak cahaya birunya berdesing membelah udara menyerang Nan Thian dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan tebasan serangan balasan Nan Thian langsung dia tangkis dengan tameng perisai cahaya..


"Singggg...,!"


"Singggg...,!"


"Singggg...,!"


"Trangggg..!"


"Trangggg..!"


"Trangggg..!"


Dalam beberapa gebrakan, masing masing sudah bisa saling mengukur kekuatan masing masing.


Nan Thian yang merasakan tekanan pengeroyokan kedua orang itu cukup berat.


Nan Thian mulai menggunakan tiga energi surgawi nya, untuk menghadang dan balas menyerang kedua lawannya.


Pada awalnya berjalan cukup stabil, di mana Nan Thian selalu terlihat memimpin memberikan tekanan tekanan memaksa lawannya harus bergerak mundur..


Tapi keadaan mulai berubah dan membuat Nan Thian menjadi jauh lebih sibuk, saat tiga lawan pertama Nan Thian .


Mereka bertiga tidak bergerak menyerang Nan Thian , melainkan mereka diam diam mengambil jalan memutar, bersiap untuk menyerang Zi Zi.


Melihat hal itu, Nan Thian tentu jadi terbagi konsentrasinya.


Di satu sisi dia ingin pergi mencegah ketiga orang jahat itu, mendekati Zi Zi dan putri mereka.


Tapi kedua rival beratnya itu selalu mengirim serangan mengurungnya, mencegah dia pergi mengejar ketiga orang itu.

__ADS_1


Serangan tebasan Golok cahaya merah, yang dilepaskan oleh Sesam terlihat berkesiuran di sekitar badan Nan Thian .


Membuat Nan Thian harus extra hati hati dan sibuk menghadapi serangan Golok cahaya merah.


__ADS_2