
Kim Kim ikut berdiri di samping Nan Thian dan berkata,
"Benar sekali kak.."
"Waktu berlalu dengan sangat cepat.."
"Dulu kita masih sama sama sendiri.."
"Kini kita masing masing sudah ada pasangan nya.."
Ucap Kim Kim sambil menatap wajah Nan Thian dari samping.
Seraut wajah yang sangat tampan dewasa, penuh dengan guratan asam garam pengalaman hidup yang penuh dengan duka dan nestapa.
Sehingga membentuk guratan halus di kedua pipinya yang ada lesung Pipit nya.
Juga ada beberapa yang menghiasi kening dan kedua sudut matanya.
Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,
"Adik Kim Kim terus terang saja, cerita ku tadi siang tentang Siao Hung.."
"Itu adalah satu kebohongan terbesar dalam hidup ku.."
Kim Kim mengangguk dan berkata,
"Aku tahu kak, jangan lupa,.. aku adalah mahluk satu satunya, yang paling paham akan pikiran kakak.."
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Adik kamu masuklah sebentar kedalam tubuh ku.."
"Kamu akan paham semua, jadi aku tidak perlu repot bercerita.."
"Dengan berbagi ini dengan mu, mungkin akan sedikit lebih meringankan beban ku.."
Kim Kim mengangguk pelan, lalu dia segera berubah menjadi seberkas cahaya masuk kedalam lubang hidung Nan Thian .
Sedangkan jasad kasar nya, tetap berdiri mematung di samping Nan Thian .
Hingga beberapa waktu berlalu,dia baru kembali keluar dari lubang hidung Nan Thian .
Kembali masuk lagi kedalam tubuh jasad kasar nya.
Nan Thian mengeluarkan sepasang sepatu merah dan setengah potong Giok putih, di pegang di tangan nya dan berkata,
"Aku sungguh bersalah padanya, aku telah mengecewakan nya.."
"Ini adalah barang terakhir peninggalan nya, sebelum dia memutuskan mengakhiri hidupnya di sungai Yang Tze.."
Ucap Nan Thian penuh sesal.
Kim Kim menghela nafas panjang, dia menepuk pundak Nan Thian dan berkata,
"Jangan terlalu di sesali, kesalahan tidak sepenuhnya ada di kakak.."
Nan Thian tidak berkata apa-apa, dia hanya menghela nafas panjang.
Sesaat kemudian Kim Kim menatap kearah Nan Thian dengan serius dan berkata,
"Apa masalah ini, Zi Zi tahu..?"
"Apa dia bisa menerimanya..?"
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Dia sudah tahu semuanya.."
Kim Kim menghela nafas lega, tapi sesaat kemudian dia kembali menoleh kearah Nan Thian dan berkata,
"Kakak bagaimana bila adik Siao Hung ternyata masih hidup..?"
__ADS_1
"Apa yang akan kakak lakukan..?"
Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,
"Aku sudah bersumpah, seumur hidup hanya ada Zi Zi seorang dalam hidup ku.."
"Aku tidak bisa menipunya juga menipu diri ku sendiri, terhadap Siao Hung dari awal hingga akhir, aku tidak punya perasaan apapun..selain perasaan seorang sahabat, seorang kakak, seorang wali yang menggantikan ayahnya, hanya itu saja, tidak mungkin lebih..'
"Bila dia menuntut, maka aku hanya bisa serahkan nyawa ku pada dia.."
"Terserah dia mau lakukan apapun, aku akan menerima konsekuensinya.."
"Karena aku memang sangat berdosa dan berhutang banyak dengan nya.."
Kim Kim menghela nafas panjang dan berkata,
"Kakak,.. tapi itu bukan solusi, bila kakak lakukan itu, apa bibi dan paman bisa menerimanya..?"
"Apa Zi Zi bisa menerimanya..?"
"Bahkan aku pun sulit menerimanya..apalagi mereka.."
"Apa kakak tidak mempertimbangkan Perasaan orang orang yang menyayangi kakak..?"
Nan Thian menoleh kearah Kim Kim dan berkata,
"Lalu menurut mu, apa yang bisa aku lakukan..?"
Kim Kim tersenyum dan berkata,
"Ada guru ada murid, mengapa tidak kamu contoh itu paman tampan cinta pertama ku itu..?"
"Takkk..!"
"Aduhhhhh..sakit kak..!"
Jerit Kim Kim sambil mengelus elus kulit keningnya, yang jadi merah dan agak sedikit benjut.
"Siapa suruh kamu bicara sembarangan.."
"Jangan tidak sopan pada kakek paman guru ku.."
Kim Kim sambil bersungut-sungut berkata pelan,
"Ayah mertua mu kali.."
Tapi segera setelah berkata, dia langsung melompat mundur menjauh dengan gaya lucu menyilangkan kedua tangannya di depan keningnya.
Berjaga-jaga Nan Thian akan kembali kumat dan menghukumnya.
Melihat kelakuan Kim Kim, Nan Thian pun menahan senyum dan berkata,
"Sudahlah pergi tidur sana, semakin malam semakin ngawur.."
Kim Kim menjulurkan lidahnya, meledek Nan Thian, lalu dia segera berlari meninggalkan tempat itu.
Nan Thian sesaat tersenyum menatap kearah bayangan punggung sahabat baiknya itu.
Tapi senyum Nan Thian hanya sesaat saja, sesaat kemudian dia sudah kembali tersenyum pahit.
Lalu wajahnya kembali muram, menatap dua benda yang ada di tangan nya.
Setelah menghela nafas panjang berulang kali, dia kemudian menyimpan kedua benda itu kedalam gelangnya.
Nan Thian terlihat mencoba berulang kali tersenyum sambil melihat pantulan wajahnya diatas air.
Hingga dia menemukan senyuman nya sudah lebih natural.
Nan Thian baru meninggalkan tempat itu, berjalan santai kembali ke kamarnya.
Sampai di dalam kamar, melihat Zi Zi istrinya sedang tertidur pulas.
__ADS_1
Nan Thian akhirnya membantu merapikan selimut nya, baru ikut berbaring di sebelah nya.
Setelah memberikan ciuman lembut di keningnya, Nan Thian baru ikut memejamkan matanya.
Dengan satu kibasan tangan, api penerangan kamar pun padam, kamar menjadi remang remang.
Bias cahaya rembulan yang masuk lewat celah celah jendela, yang membantu memberikan penerangan untuk kamar itu.
Saat keningnya di cium lembut oleh Nan Thian, Zi Zi pun bergumam pelan.
"Mmmphhh..!"
Lalu Zi Zi melakukan gerakan manja memeluk dan menyusupkan wajahnya di dalam dekapan Nan Thian .
Melihat gaya istri kecilnya, Nan Thian yang matanya sedang terpejam, terlihat tersenyum bahagia.
Sesaat kemudian mereka berdua pun sudah larut dalam mimpi mereka.
Saat mulai terdengar suara kicau burung di depan pintu jendela kamar.
Nan Thian membuka matanya, dia menoleh kearah Zi Zi, melihat Zi Zi masih tidur nyenyak meringkuk di dalam dekapan nya.
Nan Thian tidak berani banyak bergerak, takut menganggu tidur nyenyak istri kecilnya.
Tiba-tiba terdengar suara Zi Zi berkata pelan dengan suara sedikit serak, tanda dia baru bangun.
"Semalam sampai jam berapa ?"
"Mengapa begitu malam, kalian obrolin apa ?"
Nan Thian mengeratkan pelukannya dan berkata,
"Diatas Kentungan ketiga ."
"Tidak banyak, dia bisa membaca sendiri jalan pikiran ku, jadi tak perlu aku bercerita.."
Zi Zi masih dengan sepasang mata terpejam berkata,
"Jadi saat itu apa yang sedang kamu pikirkan..?"
"Aku kah,.. atau dia..?"
Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,
"Keduanya.."
"Seumur hidup pun aku tidak bisa melunasi hutang ku pada kalian.."
"Maafkan aku sayang.."
Zi Zi membuka matanya, dia sedikit menengadah keatas, agar bisa menatap kearah wajah suaminya.
Lalu dia berkata,
"Bila aku ijinkan dia menjadi yang kedua, hidup berbahagia bersama kita.."
"Apa itu akan membuatmu merasa jauh lebih baik..?"
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Itu tidak mungkin terjadi, dia sudah tiada.."
"Kalaupun dia ada, aku juga tidak bisa menerimanya.."
"Karena di hatiku hanya ada kamu seorang selama lamanya.."
"Itu tidak akan pernah berubah.."
"Tokkk..! Tokkk..! Tokkk..!"
"Adik...! Adik...!."
__ADS_1
Tiba tiba terdengar suara ketukan dari luar, di sambung dengan suara panggilan dari Yue Lin.