PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
SIAO LUNG MAJU KE ARENA


__ADS_3

Petugas Arena Kedua yang membuang diri kebelakang, segera di kejar oleh pedang Ji Lian Chu yang masih terus mengincar perutnya dengan serangan mematikan.


Tiba-tiba Petugas Arena Kedua sehabis bergerak menghindar, dia langsung membalas dengan serangan tebasan pedang cahaya merah.


Cahaya pedang merah bergerak cepat meledakkan tanah di bawah menyerang kearah bagian bawah tubuh Ji Lian Chu.


Ji Lian Chu menarik kembali pedangnya untuk di tusukkan keatas tanah.


Dengan mengandalkan daya pantul tusukan pedang nya keatas tanah, Ji Lian Chu melejit kesamping menghindari serangan, sekaligus bergerak maju menyerang Petugas Arena Kedua dari arah samping.


"Breeettt..!"


Kerah baju di dekat leher Petugas Arena Kedua robek oleh Tebasan pedang Ji Lian Chu.


Untung nya Petugas Arena Kedua cepat melompat mundur, bila tidak lehernya kalaupun tidak putus tentu akan mengalami luka serius.


Putaran hawa dan angin berkesiur, mewarnai pergerakan Ji Lian Chu yang terkesan lambat tapi kokoh.


Meski pergerakannya lambat Petugas Arena Kedua yang sudah mencicipi keganasan ilmu pedang Ji Lian Chu, dia sama sekali tidak berani memandang rendah ilmu pedang lambat dan luwes itu.


Petugas Arena Kedua setelah mengatur posisinya, sambil menghimpun energi sejatinya.


Dia kembali melesat datang memberikan tebasan energi kuat dari atas kebawah.


Melihat serangan tersebut, Ji Lian Chu menghadapinya dengan tenang.


Dia menggeser langkahnya kesamping sehingga tebasan pedang Petugas Arena Kedua mengenai tempat kosong.


Saat tangan petugas arena kedua yang memegang gagang pedangnya menebas ke bawah.


Pedang Ji Lian Chu tiba tiba muncul mengetuk buku buku jari Petugas Arena Kedua .


Saking nyeri nya, pedang di tangan Petugas Arena Kedua sampai terlepas jatuh keatas tanah.


Di saat bersamaan pedang Ji Lian Chu, melejit keatas mengancam tenggorokan Petugas Arena Kedua .


Petugas Arena Kedua di paksa melompat mundur menjauhi Ji Lian Chu.


Ji Lian Chu dengan ujung kakinya melakukan gerakan mencungkil, pedang Petugas Arena Kedua yang di tendang nya.


Langsung melesat kembali ke arah Petugas Arena Kedua.


Petugas Arena Kedua segera menyambut pedangnya yang di kembalikan oleh Ji Lian Chu.


Ji Lian Chu langsung menjura kearah Petugas Arena Kedua dan berkata,


"Terimakasih anda telah mengalah.."


Petugas Arena Kedua dengan senyum malu, balas menjura kearah Ji Lian Chu.


"Silahkan ..!"


Ucap Petugas Arena Kedua singkat.


Dia menggunakan tangan nya mempersilahkan Ji Lian Chu naik ke arena bagian tengah.


Sedangkan hadiah kemenangan Ji Lian Chu langsung di hantarkan oleh panitia pelayan, ke bangku tempat duduk murid murid Wu Dang berada.

__ADS_1


Ji Lian Chu melayang ringan naik keatas mimbar di arena tengah.


Di sana kini Tin Siok yang lututnya sudah sembuh, muncul menggantikan Siangkoan Li yang baru saja di buat keok oleh Khong Sim He Shang.


Tin Siok sambil tersenyum ramah berkata,


"Silahkan saudara Ji,.. tak perlu sungkan.."


Ji Lian Chu menatap Tin Siok yang tidak membawa senjata, dia segera berkata,


"Saudara Tin,.. di mana senjata anda..?"


Tin Siok sambil tersenyum berkata,


"Sepasang tangan dan kaki ku adalah senjata..."


Ji Lian Chu mengangguk paham, dia menyimpan pedangnya dan berkata,


"Kalau begitu kita beradu tangan kosong saja.."


Selesai berkata, Ji Lian Chu langsung memainkan jurus pembukaan pukulan Tai Chi nya.


Setelah melakukan beberapa pergerakan pelan tanpa tenaga.


Ji Lian Chu segera melompat maju menyerang dengan tinju Tai Chi nya.


Sambil bergerak menyerang, kali Ji Lian Chu bergerak dengan cara di geser geser diatas lantai arena.


Meski serangannya termasuk lambat mudah di deteksi.


Tapi Tin Siok sangat kuat dan berpengalaman setiap pukulan nya, mengandung kekuatan yang sangat mengintimidasi.


Membuat lawan yang di targetnya jadi susah bergerak.


Ji Lian Chu terpaksa menyambut pukulan telapak tangan Tin Siok yang mengeluarkan cahaya kuning yang sangat menyilaukan mata.


Tapak Tin Siok setelah bertemu dengan tapak Ji Lian Chu di udara.


Ji Lian Chu berhasil mengalihkan pukulan keras itu menyerang tempat lain.


Lalu dia memanfaatkan tenaga dorongan serangan Tin Siok untuk menarik tubuh Tin Siok kedepan.


Baru dia memberikan dorongan balik dengan benturan bahu nya yang terisi tenaga sakti, menyerang dada Tin Siok.


Tidak melakukan gerakan perlawanan dua hanya mengikuti saja kemauan Ji Lian Chu.


Tapi begitu Ji Lian Chu menggunakan bahunya untuk menyerang.


Tin Siok segera melapisi tubuhnya dengan cahaya kuning tipis.


Sehingga serangan Ji Lian Chu membentur dinding energi tipis tak kasat mata yang tidak bisa di tembusnya.


Tetapi memiliki kekuatan daya dorong balik yang sangat kuat dan sulit tertahankan.


"Blaaarrrr..!"


Tubuh Ji Lian Chu terpental mundur oleh dorongan hawa pelindung dari Tin Siok.

__ADS_1


Saat tubuh Ji Lian Chu terlempar ke udara, Tin Siok dengan cepat meresponnya dengan menangkap pergelangan kaki Ji Lian Chu.


Lalu dia menggunakan tinju kerasnya untuk menghantam telapak kaki Ji Lian Chu dengan kuat.


"Brakkkkk..!"


Ji Lian Chu terpental keluar dari arena, hingga terjatuh bergulingan diatas lantai di bawah arena.


Ji Lian Chu saat mencoba untuk bangkit berdiri, dia terpaksa harus membatalkan niatnya.


Karena rasa sakit luar biasa yang menyerang bagian telapak kakinya.


Ji Lian Chu akhirnya di papah oleh anak murid murid nya kembali ke kursi penonton, untuk di rawat dan di berikan pil teratai salju oleh panitia petugas pelayan.


Setelah berhasil mengalahkan Ji Lian Chu, Tin Siok segera mengedarkan pandangan matanya untuk melihat kearah bangku penonton dan berkata,


"Apa ada yang lainnya bersedia untuk maju..!?"


Sesaat keadaan menjadi hening, tidak terlihat ada tanda tanda dari yang hadir di sana, berkeinginan untuk maju, mencoba keempat arena yang terlihat kosong melompong.


Setelah menunggu beberapa waktu tidak ada yang buka suara ingin maju.


Dengan penasaran Tin Siok menatap kearah bangku sebelah selatan dan berkata


"Apa dunia persilatan daratan tengah, kemampuannya hanya sampai di sini saja..!?"


"Apa orang bernyali di daratan tengah sudah habis semuanya..!?"


Ucap Tin Siok dengan nada mengejek.


Siao Lung yang di bangku penonton sana, sedang bercanda dengan adiknya Ying Ying.


Dia segera menghentikan bercandanya, sikapnya tiba tiba berubah serius.


Anak 8 tahun itu menoleh kearah ibunya dan berkata,


"Ibu, Lung er ingin maju mencobanya boleh..?"


Siao Hung tanpa membuka matanya dia mengangguk pelan dan berkata,


"Pergilah.."


Suaranya terdengar tenang, tidak ada kecemasan sama sekali.


Siao Lung sepasang matanya langsung bersinar gembira, saat ibunya mengijinkan dia untuk ikut meramaikan suasana.


Begitu mendapatkan persetujuan dari ibunya, Siao Lung menoleh kearah Ying Ying dan berkata,


"Ying er kakak mau maju dulu cari hadiah, kamu mau ikut ibu boleh.."


"Mau kembali ke ayah ibu mu juga tidak apa apa.."


"Kakak pergi dulu.."


"Kakak hati hati.."


Ucap Ying Ying terlihat agak cemas.

__ADS_1


__ADS_2