
Wajah Li Sun semakin lama semakin cerah dan bersinar, senyum yang merekah semakin lama semakin lembut dan penuh pengertian.
Semua kebencian, ketidakpuasan, dendam, kecewa, marah, sedih, sudah, senang, bahagia , gembira.
Semuanya satu persatu hilang tak berbekas, yang ada adalah wajah dan seluruh tubuh Li Sun semakin lama semakin terang.
Cahaya lembut memancar keluar dari seluruh tubuhnya.
Wajahnya yang penuh rambut panjang dan kasar, perlahan-lahan mulai rontok, begitu pula dengan rambut panjang di kepala Li Sun.
Perlahan-lahan juga mulai rontok.
Lengan kanan Li Sun yang hilang, muncul sebilah pedang, yang merupakan bentuk gabungan dari 9 senjata Buddha.
Itulah wujud dari senjata ke 10 Buddha, perlahan-lahan pedang itu mengeluarkan cahaya emas menyilaukan.
Saat cahaya menyilaukan hilang berganti dengan cahaya lembut dan halus.
Di posisi bagian kanan pundak Li Sun, muncul sebuah lengan baru, lengan yang selalu di selimuti oleh cahaya emas yang lembut dan halus.
Saat seluruh rambut di wajah dan kepala Li Sun rontok semua,mengikuti seluruh kemelekatan duniawi yang terlepas dari tubuh suci Li Sun.
Li Sun akhirnya melayang keluar dari bagian tengah kolam berair jernih.
Li Sun melayang keluar dalam posisi duduk bersila bunga teratai.
Bayangan bunga teratai yang sedang mekar, kembali muncul di bawah sebagai alas duduknya.
Awan cahaya emas menjadi alas bagi bayangan bunga teratai raksasa yang menjadi tempat alas duduk Li Sun.
Seluruh tubuh Li Sun yang duduk bersila di atas bunga teratai, terlihat memancarkan cahaya yang terang tapi lembut.
Di bagian belakang kepala Li Sun muncul sebuah bayangan bulan purnama berukuran lebih besar sedikit dari ukuran kepala Li Sun.
Saat sepasang mata Li Sun kembali terbuka, tatapan matanya kini terlihat begitu lembut dan penuh pengertian.
Li Sun telah mencapai penerangan sempurna, setelah menjalani siksa kesalahan jalan selama tujuh tahun.
Dia akhirnya berhasil menyadarinya, di detik detik terakhir keputusasaannya.
Setelah sadar dan kembali kejalan Buddha, Li Sun berhasil melepaskan seluruh kemelekatan duniawi yang ada pada dirinya.
Kini dia telah terlahir kembali dengan tubuh barunya yang telah mencapai tingkat kebuddhaan.
Setelah dia menyadari sepenuhnya hukum kesunyataan dan perputaran roda Dharma.
Li Sun dalam usia yang sangat muda, telah mencapai penerangan sempurna.
Sesuatu yang bahkan tidak berhasil di capai oleh legenda Pendekar Suling Hitam Wu Song.
__ADS_1
Ini adalah suatu keajaiban yang luar biasa, Wu Song masih terbentur oleh kemelekatan perasaan dan cinta duniawi.
Tapi tidak dengan Li Sun, dia sudah berhasil melepaskan nya, mengubah perasaan cinta fana nya, menjadi Cinta kasih dan welas asih terhadap semua mahluk hidup.
Li Sun mengedarkan pandangan matanya kearah pohon bodhi tua di bawah sana tempat dia bertapa dan kolam suci, tempat dia membersihkan diri nya dari semua kekotoran batinnya.
Li Sun bergumam pelan,
"Terimakasih Pohon Bodhi Tua.."
"Terimakasih Kolam Suci.."
"Terimakasih Pohon buah.."
"Terimakasih semuanya.."
"Selamat tinggal.."
Selesai berkata, Li Sun masih dalam posisi duduk bersila, dia langsung terbang menuju langit barat..
Saat telapak tangan kanan Li Sun yang mengeluarkan cahaya di dorongkan kedepan.
Muncul sebuah pintu portal cahaya di depan sana, melayang layang di angkasa.
Sesaat kemudian Li Sun menghilang masuk kedalam portal cahaya tersebut.
Kemudian portal cahaya juga menyusul hilang dari sana.
Hingga akhirnya saat muncul lagi,.dia sudah berada di hadapan Buddha Ru Lai .
Buddha Ru Lai terlihat tersenyum lembut dan berkata,
"Selamat datang Li Sun, mulai saat ini, gelar mu adalah Buddha Manjusri.."
"Kamu telah berhasil mencapai penerangan sempurna, terbebas dari penderitaan dan Tumimbal lahir."
"Kamu kini berhak ikut tinggal di Surga Tusita, Alam Nirwana yang kekal dan abadi.."
"Sebelum kamu meninggalkan semuanya, apakah ada harapan ataupun keinginan terakhir mu yang belum terwujud.."
"Coba sampaikan saja.."
Li Sun memberi hormat dengan sepasang tangan di rangkapkan di depan dada, dan berkata,
"Dalam penerawangan murid saat mencapai penerangan sempurna.."
"Murid melihat ada satu kekuatan dahsyat yang penuh Angkara murka dari dunia lain di luar tata Surya kita.."
"Kekuatan besar bernama Chi Le Thian itu, kelihatannya ajan segera datang mengacau di tiga alam.."
__ADS_1
"Untuk itu, sekiranya guru berkenan.."
"Bila waktu itu tiba, ijinkanlah murid kembali ke dunia, untuk menolong umat manusia dari kehancuran.."
Buddha Ru Lai sambil tersenyum lembut, mengangguk kan kepalanya dan berkata,
"Kamu punya niat mulia, bagaimana mungkin aku bisa melarang mu..'
"Silahkan saja, tapi satu hal kamu harus ingat baik baik, kembali kedunia jangan pernah sampai kembali terikat oleh cinta fana.."
"Itu bisa menghancurkan segala pencapaian yang kamu raih hari ini.."
Li Sun menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian dia sudah menghilang dari hadapan Buddha Ru Lai.
Saat muncul lagi, Li Sun muncul di tengah tengah sebuah lautan luas tak bertepi.
Di mana mana sepanjang mata memandang hanya ada bunga teratai yang mengambang di sana.
Diatas setiap bunga teratai, pasti ada satu sosok berkepala botak, yang seluruh tubuh dan kepala nya memancarkan sinar kuning lembut.
Sama persis seperti yang terjadi pada Li Sun saat ini.
Semua sosok itu terlihat duduk dalam posisi bersila bunga teratai.
Dari mulut mereka semuanya, melantunkan bacaan sutra,
"Om Man Padme Hum...!*
Secara berulang ulang dan begitu ramai suaranya, hingga terdengar seperti suara kawanan lebah sedang berdengung.
Li Sun memilih satu tempat kosong, lalu dia ikut duduk bergabung di sana, beralaskan bunga teratai miliknya.
Li Sun memejamkan matanya, melanjutkan meditasi dan membaca ayat ayat parita Buddha yang menenangkan pikiran.
Sambil menunggu hari kekacauan besar yang datang dari dunia lain itu tiba.
Sementara Li Sun sedang larut dalam meditasi nya, di Surga Tusita bersama para Buddha dan Bodhisatva lainnya.
Di dunia, tepatnya di ruangan aula besar istana kerajaan Yuan.
Di tengah tengah ruangan sidang, kini terlihat Hulagu Khan pimpinan tertinggi kerajaan Yuan di wilayah Persia.
Dia datang bersama seorang kakek tua yang tidak bergigi, alias ompong dan kempot wajahnya.
Kakek tua yang terlihat kurus dan ringkih itu, hanya mengenakan baju kain putih panjang, yang di lilitkan begitu saja di tubuhnya yang kurus kerempeng.
Kepalanya juga mengenakan potongan kain putih yang di lilitkan.
Kubilai Khan terlihat langsung meninggalkan kursi singgasana, turun kebawah untuk menyambut kedatangan adiknya dengan penuh hormat.
__ADS_1
Dia segera membimbing adik nya untuk ikut naik keatas mimbar di mana kursi singgasana nya berada.
Di sana Kubilai Khan meminta bawahan nya, untuk menyiapkan kurasi khusus untuk Hulagu Khan.