PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
IM JIAN SAN KOAI


__ADS_3

Dari dalam makam kuno yang terbuka, terlihat melayang keluar 3 orang kakek berwajah menyeramkan.


Sepasang mata mereka bertiga mengeluarkan cahaya merah, seperti mata kelelawar.


Wajah pucat seperti kertas, tidak ada aliran darahnya.


Di bilang manusia, mereka lebih mirip mumi yang di awetkan.


Salah satu diantara mereka berkata dengan suara kaku.


"Ada apa cucu ponakan murid ku..?"


"Apa yang membuat mu sampai nekad datang kemari..?"


Lu Wan dengan wajah gugup dan agak takut takut segera berkata,


"Anu maaf paman kakek guru.."


"Murid nekad kemari, karena murid menemukan seorang jagoan, yang mungkin cocok untuk menjadi uji coba ilmu baru kakek paman guru.."


"Selain itu, jagoan tersebut, juga memiliki Qi dan darah, yang sangat murni, mungkin dia adalah bahan langka yang sangat tepat.."


"Untuk membantu kakek paman guru merampungkan Ilmu menuju hantu sesat abadi.."


Mendengar penjelasan dari Lu Wan, ketiga kakek menyeramkan itu saling pandang.


Sejenak kemudian mereka bertiga mengangguk sepakat, lalu kakek.yang tadi berbicara dengan Lu Wan pun berkata,


"Di mana temuan mu itu.."


"Mari antar kami kesana.."


"Kamu tunjukkan jalan nya cepat.."


Lu Wan mengangguk cepat, lalu dia dengan penuh semangat segera bergerak ingin mengambil jalan darimana dia datang tadi.


Tapi baru saja dia melangkah, terdengar suara kakek paman Guru nya berkata dari belakang.


"Kelamaan lewat sana, kami tidak punya banyak waktu untuk itu.."


"Lebih baik kita naik burung Condor ku saja.."


Selesai berkata, kakek itu langsung mengeluarkan suara siulan nyaring.


Sesaat kemudian seekor burung pemakan bangkai berkepala botak, yang ukurannya sangat besar.


Bergerak cepat menghampiri ketiga kakek itu.


Ketiga kakek itu, hanya menotol ringan kakinya keatas tanah, tubuh mereka bertiga sudah melayang keatas punggung burung pemakan bangkai berkepala botak, yang di panggil burung Condor itu.


Lu Wan yang berdiri bengong, merasa ada tenaga tidak kasat mata melingkari pinggangnya.


Sesaat kemudian tubuhnya pun tersentak ikut naik keatas punggung burung Condor berkepala botak itu.

__ADS_1


Mengikuti petunjuk arah dari Lu Wan, salah satu kakek itu, mengarahkan tunggangan mereka terus bergerak kearah selatan.


Ketiga kakek ini bukan manusia sembarangan, umur mereka sudah 300 tahun lebih.


Bila di gabungkan mungkin mereka menembus usia seribu tahun.


200 tahun yang lalu di saat, mereka bertiga sedang mencapai puncaknya, malam melintang di seluruh daratan tengah.


Langkah mereka terhenti saat secara kebetulan mereka bertemu dengan Wu Ming Lau Jen.


Mereka dengan penuh semangat menantang kakek dewa itu, tapi tidak sampai satu jurus, mereka bertiga di buat keok.


Sejak saat itu, mereka bertiga pun memutuskan untuk mencari tempat tenang.


Meningkatkan Siu Lian dan ilmu mereka, tidak lagi mau terlibat dengan urusan dunia persilatan.


Dalam perjalanan menemukan tempat peristirahatan, mereka menemukan tempat ini.


Mereka menjadi tertarik dengan tempat ini, tapi sayangnya tempat ini sudah ada pemiliknya.


Pemiliknya adalah leluhur Lu Wan, yang bernama Lu Ci Sen dengan julukan Bayangan Hantu.


Setelah berduel sengit, akhirnya leluhur Lu Wan berhasil dikalahkan.


Sejak saat itu leluhur Lu Wan mengabdikan diri pada ketiga kakek itu.


Seterusnya semua keturunan Lu Ci Sen di haruskan memanggil mereka bertiga Kakek paman guru sebagai penghormatan.


Sebagai imbalannya, mereka membantu menyempurnakan ilmu Lu Ci Sen dan keturunannya dari generasi ke generasi.


Kini Ketiga kakek itu bersedia keluar dari sarang mereka, hal ini semata mata karena mereka bertiga tergiur oleh ucapan Lu Wan, yang berhasil memancing rasa penasaran dan keserakahan mereka yang haus ilmu abadi.


Agar suatu hari nanti mereka bisa pergi mencari dan menebus kekalahan mereka dari Wu Ming Lau Jen 200 tahun yang lampau.


Mereka bertiga di masa lampau adalah tiga kakak beradik, yang di kenal dengan Im Jian San Koai, Tiga Siluman Neraka


Orang pertama biasa di panggil Thian Koai, Siluman langit . Orang kedua di panggil Ti Koai, Siluman Bumi. Orang ketiga di panggi Sui Koai, Siluman Air.


Dengan keluar nya tiga kakek ini kedunia, Nan Thian sekali ini akan bertemu masalah besar.


Dengan menaiki Condor kepala botak, tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di kota Nan Jing.


Setelah berputar-putar sejenak di udara, Condor kepala botak, mengikuti arahan tuannya.


Segera meluncur turun menuju halaman depan menara Pagoda tingkat 9, di mana Nan Thian berada.


Ketiga kakek itu, bisa mencium aura kekuatan terpendam, yang dahsyat bersembunyi di puncak menara.


Makanya mereka memerintahkan si burung Condor botak, untuk mendarat di depan halaman menara Pagoda.


Nan Thian yang juga bisa merasakan aura berbahaya, yang sangat menekan datang mengancam.


Dia segera bergerak melayang dari puncak menara, kemudian mendarat ringan di depan halaman menara.

__ADS_1


Melihat Lu Wan hadir dibelakang ketiga kakek itu, Nan Thian segera sadar.


Ketiga kakek ini hadir sebagai backing nya Lu Wan, yang tidak tahu bagaimana cara nya, dengan licik berhasil meloloskan diri dari nya.


"Lu Wan kamu bagus, masih berani kembali.."


"Tapi sekali ini aku tidak akan biarkan kamu lolos lagi."


Ucap Nan Thian dingin.


Lu Wan menanggapi ancaman Nan Thian dengan tersenyum mengejek dan berkata,


"Tak perlu sesumbar, tunjukkan saja dulu kemampuan mu.."


"Sebaiknya kamu yang harus lebih berkhawatir, bisa lolos atau tidak kamu hari ini.."


"Kakek paman guru, pemuda inilah yang aku maksudkan.."


Ucap Lu Wan mengingatkan ulang.


Kakek Sui Koai kembali buka suara, mewakili kedua kakaknya yang tidak banyak bicara.


"Anak muda, sebelum kami bertindak menyakiti mu.."


"Ada baiknya kamu menyerah saja, sehingga tidak perlu mengalami siksa derita daging dan kulit.."


Nan Thian bersikap tenang menanggapi ucapan kakek tua renta yang aneh itu.


"Apa yang sebenarnya kakek inginkan dari seorang junior seperti saya..?"


Tanya Nan Thian dengan sikap tenang.


"Serahkan Qi dan darah mu, setelah itu kamu boleh pergi dengan tenang.."


Ucap kakek Sui Koai ringan.


Seolah olah itu adalah wajar, seakan akan yang dia minta itu adalah haknya.


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Maaf bila itu permintaan kalian aku belum bisa memenuhinya..'


"Bila kalian ingin bertarung, aku sarankan, lebih baik kita lakukan di luar tembok kota saja.."


"Di sana akan lebih pas, tanpa harus merusak bangunan dan mengancam nyawa penduduk kota ini.."


Selesai berkata tanpa menunggu jawaban dari ketiganya,


Nan Thian sudah menghilang dari sana.


Bergerak cepat menuju kearah pintu gerbang benteng kota.


Sambil bergerak pergi, Nan Thian masih sempat mengirimkan pesan suara ke Kim Kim.

__ADS_1


"Kim Kim bila bangsat bernama Lu Wan berani macam macam, aku serahkan dia untuk mu.."


"Kamu bebas menikmatinya.."


__ADS_2