
"Tuan ini makanan nya,.
?!"
"Bagaimana bila di bungkus saja..!?"
Tanya pelayan restoran heran.
Karena masakan yang baru di sajikan, masakan terbaik mereka yang masih panas mengepulkan asap aroma masakan yang begitu wangi.
Tanpa di sentuh langsung di tinggalkan begitu saja.
Makanya pelayan itu buru buru bertanya ingin memastikannya.
"Bagikan saja ke yang mau.."
Jawab Bing Han dingin.
Sambil bergerak mengejar kearah Zi Zi pergi.
Sesaat saja Bing Han sudah berhasil menyusul Zi Zi.
Tapi dia paham sifat gadis itu, jadi dia tidak mendekati nya.
Dia memilih membayanginya dari jarak aman, tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh.
Zi Zi yang juga murid orang sakti dari pulau pelangi yang misterius.
Di tambah lagi gurunya Wu Fei Hsia, adalah murid langsung dari Dewa Sadis Lu Fan.
Tentu saja dia langsung menyadari Bing Han menguntitnya nya dari belakang.
Tapi Zi Zi yang tahu Bing Han hanya mengkhawatirkan dirinya, tidak ada maksud lain.
Dia pun bersikap pura pura tidak tahu, tidak mengambil tindakan apapun, ataupun menegurnya.
Zi Zi hanya fokus mengintil Ping Ping dan Nan Thian yang sedang berjalan santai, menuju ke sebuah toko obat.
Zi Zi tentu tidak ikut masuk, dia hanya diam diam mengawasi dari kejauhan.
Menunggu dengan penuh kesabaran, hingga Nan Thian akhirnya kembali muncul lagi.
Dia terlihat membawa sejumlah bungkusan obat di kedua tangannya.
Mengikuti Ping Ping yang berjalan di depan bersama seorang pria setengah tua.
Dari gaya dan penampilannya yang membawa sebuah kotak obat bersamanya.
Zi Zi menduga pria setengah tua itu pastilah seorang tabib, yang di undang oleh Ping Ping .
Tidak tahu mau di bawa kemana dan untuk apa.
Saat Nan Thian keluar dari dalam toko obat, dia sempat melirik kearah Zi Zi dan Bing Han, yang dia tahu secara terpisah sedang mengintil dirinya dan Ping Ping .
__ADS_1
Tapi Nan Thian sengaja membiarkan nya, dia juga tidak memberitahu Ping Ping .
Dia berpura-pura tidak tahu, Nan Thian ingin tahu apa yang mereka inginkan.
Nan Thian meski lupa ingatan, terlihat seperti orang tidak tahu apa apa.
Tapi kemampuannya yang sudah mendarah daging, semuanya bergerak secara otomatis tanpa perlu dia pikirkan.
Sehingga bila ada yang kurang beres, insting dan pendengarannya, bisa membantunya mengetahui tanpa harus melihat langsung.
Setelah keluar dari toko obat pun, Nan Thian tetap berpura-pura tidak tahu.
Dia terus bergerak mengikuti Ping Ping yang kembali mampir ke restoran sebentar.
Untuk mengambil dan membayar pesanan masakan buat kakeknya, yang dia pesan sebelum meninggalkan restoran tadi.
Setelah itu mereka baru melanjutkan perjalanan kembali kedesa Nelayan ikan.
Tabib dan Ping Ping duduk diatas gerobak, Nan Thian lah yang bertindak mendorong gerobak itu.
Zi Zi yang menguntit dari jauh, melihat hal itu, hatinya semakin kesal dengan Ping Ping .
Dia benar benar tidak rela, melihat kekasih pujaan hatinya, di suruh mendorong gerobak reyot, yang sekali tendang pun pasti hancur.
Sehingga Zi Zi terus mengomel dan menyumpahi Ping Ping sepanjang jalan dia menguntit mereka.
Ada dua hal yang membuat Zi Zi bertanya tanya, pertama dia dari awal tidak melihat hadirnya Kim Kim di sana.
Padahal mereka biasanya tidak terpisahkan, bila bukan sangat mengenal Kim Kim, bisa jadi, dia juga akan cemburu dengan Kim Kim.
Tapi karena dia sudah tahu dan hapal karakter kekasihnya, juga naga emas nya.
Jadi dia mengabaikan nya tidak pernah menaruh pikiran bukan bukan terhadap mereka berdua.
Kedua adalah kenapa kekasihnya kini penampilannya, jadi mirip ayahnya.
Rambutnya yang tadinya sebagian putih sebagian hitam, kini sepenuhnya putih .
Sama persis dengan ayahnya, apa yang telah terjadi, batin Zi Zi penasaran.
Saat memasuki desa Nelayan ikan, yang tidak terlalu ramai jalannya.
Zi Zi terpaksa mengendorkan jaraknya, agar tidak ketahuan oleh orang yang dia ikuti.
Di depan sana, Nan Thian terus mendorong gerobak reyot itu, menuju rumah kediaman Ping Ping .
Saat Ping Ping membawa tabib masuk kedalam rumah, Nan Thian memilih tidak ikut masuk.
Agar ruangan tidak penuh dan menjadi semakin sumpek.
Nan Thian memilih duduk santai berselonjoran di teras rumah Ping Ping .
Sementara itu, ternyata kakek Ping Ping setelah sadarkan diri dari pingsan.
__ADS_1
Kakek itu dengan susah payah, akhirnya berhasil kembali kedalam kamarnya.
Berbaring di tempat semula, sebelum Ping Ping dan Nan Thian mengunjunginya.
Kini saat Ping Ping kembali bersama tabib, kakek itu terlihat sedang tidur.
Sesekali dia batuk batuk di sela sela tidurnya.
Tabib undangan Ping Ping yang dia bayar mahal, segera melakukan pemeriksaan dengan teliti.
Sesaat kemudian dia baru mengajak Ping Ping keluar dari dalam kamar.
Tabib menjelaskan kondisi kakek Ping Ping , kemudian dia membukakan resep untuk di tebus di toko obatnya di kita sana.
Sedangkan obat sementara yang sudah di beli Ping Ping , tabib itu ajarkan cara memasaknya, dan cara meminumkan nya ke pasien.
Obat obat yang sudah di beli itu, bisa membantu meredakan batuk juga untuk menguatkan kembali keadaan kakek Ping Ping yang terlalu lemah.
Sesaat kemudian Nan Thian lah yang kembali mengantar si tabib pulang kekota, sekaligus bertugas menebus resep.
Sedangkan Ping Ping tidak bisa ikut, karena dia harus mengurus makan kakeknya, serta memasak dan menyiapkan obat untuk di minum oleh kakeknya.
Nan Thian mengantar tabib kembali kekota tanpa Ping Ping di sisinya.
Zi Zi lah yang paling gembira melihat kondisi ini.
Nan Thian awalnya sedikit curiga dan khawatir dengan keadaan Ping Ping dan kakeknya.
Bila saat dia pergi, kedua penguntit itu melakukan sesuatu pada Ping Ping dan kakeknya.
Tapi saat dia menemukan kedua penguntit itu ternyata, tidak menargetkan Ping Ping dan kakeknya.
Mereka justru menarget dirinya, Nan Thian pun menjadi jauh lebih tenang.
Dengan gerakan santai, Nan Thian mengantar tabib itu, hingga ke tokonya.
Setelah menebus resep nya, Nan Thian pun langsung pulang kembali ke Desa Nelayan ikan.
Saat Nan Thian dalam perjalanan pulang inilah, Zi Zi muncul menghadang di jalan, yang akan Nan Thian lewati untuk bisa kembali ke Desa Nelayan ikan.
Nan Thian sambil tersenyum berkata,
"Setelah sekian lama menguntit ku, tanpa kenal lelah, akhirnya kalian keluar juga.."
"Nah sekarang katakanlah, apa yang kalian inginkan dari ku.."
"Katakan saja, terus terang.."
"Apa dulu, di antara kita ada permusuhan?"
"Atau kalian adalah utusan dari Padri Setan itu..?"
Tanya Nan Thian sambil tersenyum tenang.
__ADS_1