
Sun Jian mengangguk dan berkata,
"Baguslah bila kamu tahu, itu akan jauh lebih baik daripada tidak.."
Baru saja Sun Jian menegur putrinya, segera terlihat seorang pelayan datang menghampiri mereka dan berkata dengan penuh hormat.
"Tuan Sun,.. Nona Sun..aku di minta tuan ku, untuk mengantar tuan dan nona ke kamar tamu, untuk beristirahat.."
"Mari silahkan tuan dan nona, biar hamba tunjukkan letak kamarnya.."
Ucap pelayan itu sambil membungkuk bungkuk penuh hormat.
Sun Jian dan putrinya segera bangkit berdiri membalas menjura dengan penuh hormat.
Lalu mereka segera bergegas mengikuti pelayan muda itu, meninggalkan bangunan peristirahatan di tengah kolam itu.
Mereka kembali di ajak melewati jembatan, yang mirip dengan koridor panjang, berkelak kelok.
Kemudian mereka melewati area taman, dengan berbagai hiasan jejeran batu alam dan pepohonan rindang.
Tak lama kemudian mereka di antar kesebuah bangunan memanjang yang terlihat banyak kamar berderet deret menghadap kearah taman .
"Tuan ini kamar tuan dan di sebelah sini ini kamar nona.."
"Boleh di lihat lihat kedalam, bila ada yang kurang sesuai, hamba akan membantu menyesuaikan nya."
Ucap pelayan itu sambil mendorong pintu kamar buat Sun Jian hingga terbuka lebar.
Dia mempersilahkan Sun Jian untuk masuk kedalam.
Setelah itu dia baru membantu mendorong pintu kamar untuk Siao Hung secara bergantian, dan mempersilahkan Siao Hung untuk memasuki kamarnya.
Dia sendiri memilih menunggu di luar kamar, menunggu pesan dari Sun Jian dan Siao Hung.
Saat dia sedang berdiri menunggu, seorang pelayan muda lainnya, datang menghampirinya dan berkata,
"A Cuan Tuan ada pesan, surat ini tolong di sampaikan ke tuan Sun, besok pagi jam 6 jemput lah tuan Sun.."
"Antarkan dia ke halaman samping menemui Liu Cong Kuan.."
Pelayan yang menunggu di depan kamar yang bernama A Cuan mengangguk cepat.
Dia kemudian menerima sebuah amplop surat dari temannya dengan hati hati.
Sedangkan temannya yang lain setelah menyelesaikan tugas, tanpa banyak bicara dia segera berlalu dari sana.
Sesaat kemudian saat Siao Hung keluar dari dalam kamar, pelayan itu segera berkata,
"Bagaimana nona apa ada yang bisa saya bantu..?"
Siao Hung tersenyum lembut dan berkata,
"Terimakasih, sampai saat ini semua nya sangat baik.."
"Saya belum membutuhkan bantuan.."
"Saat ini saya hanya ingin mengunjungi ayah saya di dalam sana.."
Pelayan itu mengangguk penuh hormat dan berkata,
"Ohh begitu syukurlah.."
"Nona nama saya A Cuan, saya memang di tugaskan tuan saya, secara khusus untuk melayani semua keperluan nona dan ayah Nona..."
"Jadi tidak perlu sungkan, bila ada keperluan apa sampaikan saja ke saya.."
"Ohh iya nona ini ada sepucuk surat dari tuan ku, untuk di sampaikan ke ayah nona.."
__ADS_1
"Selain itu, besok pagi jam 6 saya akan kemari untuk menjemput tuan dan nona, untuk di antarkan, kepala pengurus dinas luar, Liu Cong Kuan."
Siao Hung mengangguk cepat dan berkata,
"Baiklah saudara A Cuan terima kasih banyak, saya akan sampaikan semuanya ke ayah ku.."
"Permisi .."
Ucap Siao Hung sambil memberi hormat,
Acuan juga membalasnya dengan penuh hormat, setelah itu dia segera mengundurkan diri dari sana.
Setelah Acuan pergi, Siao Hung baru menutup pintu kamar ayahnya.
Di dalam kamar, dia melihat ayahnya sedang duduk termenung, menatap sepotong giok yang di pegang di tangan nya.
"Ayah.."
Tegur Siao Hung pelan.
"Hmmm.."
Jawab Sun Jian pelan tanpa menoleh.
"Ayah kenapa ? memikirkan ibu ya..?"
Tanya Siao Hung hati hati.
Sun Jian menghela nafas panjang dan berkata,
"Siao Hung kamu datang, kemarilah nak.."
Siao Hung segera menghampiri ayahnya duduk di samping ayahnya.
Dia melingkarkan tangannya memeluk lengan ayahnya yang kokoh, sambil menyandarkan dagunya di sana.
Siao Hung melirik untuk melihat ekspresi wajah ayahnya dari samping .
Sun Jian tersenyum pahit dan berkata,
"Selama ini ayah mewakili ibu mu menyimpannya untuk mu.."
"Kini kamu sudah dewasa, sudah saatnya ayah menyerahkan nya ke kamu untuk kamu simpan."
"Jagalah dia dengan hati hati, seperti kamu, dia juga adalah harta tak ternilai ayah, yang selama ini, sudah mengikuti ayah berlari ke timur barat Utara Selatan.."
Ucap Sun Jian sambil memberikan giok pipih bulat berwarna putih, dengan hiasan gantungan renda merah itu, ke putrinya.
Siao Hung menerimanya dengan hati hati dan berkata,
"Bukankah ini barang kenangan ayah satu satunya dari ibu, bila di berikan ke Siao Hung."
"Lalu ayah gimana..?"
Sun Jian tersenyum pahit dan berkata,
"Biarlah ayah juga sudah tua, kamu juga sudah besar.."
"Biarlah kamu saja yang bantu ayah menyimpannya.."
Siao Hung sambil tersenyum manja berkata,
"Ayah ini, bicara seperti kakek kakek saja..'
"Ayah tahun ini baru berusia 50, lagipula kita selalu bersama."
"Ayah simpan Siao Hung simpan bukankah sama saja.."
__ADS_1
"Ayah bicara seolah olah ingin mengusir Siao Hung aja.."
"Atau jangan jangan..?"
Ucap Siao Hung sambil tersenyum nakal.
Sun Jian menoleh menatap Putri nya dengan wajah heran berkata,
"Atau apa..?"
"Kamu ini bocah nakal, banyak ide ide konyol.."
Tegur Sun Jian sambil menahan senyum.
Siao Hung sambil menahan tawa berkata,
"Tapi bila ayah menginginkannya, Siao Hung pasti mendukungnya.."
"Ayo katakan gadis mana yang ayah tertarik, biar Siao Hung pergi."
"Ngawur.."
Tegur Sun Jian.
"Udah sana kembalilah ke kamar mu, jangan ganggu ayah.."
"Bicara gak pernah benar.."
Siao Hung malah menutupi mulutnya menahan tawa, melihat sikap ayahnya.
Dia tetap tidak beranjak dari sana.
Sesaat kemudian dia baru berkata,
"Baiklah ayah ingin bicara serius mari kita bicara serius."
Siao sambil berbicara, dia segera memperbaiki posisi duduknya dan berkata dengan nada serius.
"Begini ayah, tadi pelayan tuan penolong kita, meminta ku untuk menyerahkan surat ini buat ayah.."
"Katanya ini titipan dari tuannya.."
"Selain itu dia juga berpesan, besok pagi jam 6, dia akan menjemput kita, untuk di antarkan ke Liu Cong Koan.."
"Siapa Liu Cong Kuan itu..?"
Tanya Sun Jian heran.
"Ohh Liu Cong Kuan itu katanya adalah kepala pengurus bagian dinas luar.."
Ucap Siao Hung menjelaskan.
Sun Jian mengangguk, dia kemudian menyimpan surat tersebut dan berkata,
"Surat ini pastilah surat rekomendasi buat kita ke Yang Mulia Chu Yuan Zhang."
"Sedangkan Liu Cong Koan, kemungkinan dia adalah kepercayaan tuan penolong kita."
"Beliau pasti yang bertugas mengurus pengiriman barang ke Nan Jing.."
"Kita akan di titipkan ke dia, untuk melakukan perjalanan bersama menuju Nan Jing."
Ucap Sun Jian dengan analisanya.
Siao Hung mengangguk dan berkata,
"Kemungkinan besar sih seperti itu.."
__ADS_1
"Ya sudah ayah beristirahatlah, aku mau kembali kekamar ku dulu ."
Ucap Siao Hung sambil bangkit berdiri.