
Tapi begitu jarinya menyentuh titik jalan darah di dada kiri, Petugas arena kedua.
Lu Siao Fung segera di buat terkejut, karena ujung jarinya tidak menemukan jalan darah di sana.
Dia hanya menemukan gumpalan daging lunak yang tidak ada nadi dan ototnya.
Jari nya langsung tergelincir, melesak kedalam, tenggelam kedalam daging di dada kiri Petugas arena kedua.
Lebih parahnya lagi, saat dia ingin menarik kembali tangannya.
Hal itu tidak bisa dia lakukan.
Jarinya yang tenggelam langsung terhisap kedalam, tidak bisa di tarik kembali.
Seolah olah sudah menyatu di sana. Tidak bisa di tarik kembali, bagaimana pun dia berusaha tetap saja sia sia.
Jarinya tetap saja tenggelam di dalam sana.
Sebelum Lu Siao Fung sempat melakukan sesuatu, sepasang telapak tangan yang mengeluarkan cahaya, telah mendarat tepat di dadanya.
Dari mulut Lu Siao Fung langsung menyemburkan darah, sebelum tubuhnya terpental mundur.
Li Siao Fung masih sempat melepaskan seberkas cahaya putih transparan dari ujung jari kirinya yang masih bebas bergerak, menyerang kearah mata
Petugas arena kedua.
Petugas arena kedua bertindak sigap, dia membuang diri berputaran di udara kesamping.
Sehingga serangan Lu Siao Fung lewat begitu saja, di udara.
Tidak mengenai sasaran apapun.
Sedangkan Lu Siao Fung sendiri terpental mundur jauh kebelakang hingga ujung kakinya menyentuh garis di bagian tepi arena.
Sedikit lagi dia hampir saja, di buat terpental keluar lapangan dan dinyatakan kalah.
Lu Siao Fung menghembuskan nafas lega, saat melihat posisinya masih bertahan di tepi arena.
Dia belum terhitung kalah, karena kaki nya masih bertahan di garis batas.
Tapi keadaan itu tidak bertahan lama, belum juga rasa sesak dan sakit di dadanya, yang terkena pukulan lawannya hilang.
Petugas arena kedua, sudah kembali datang dengan serangan sinar merah mengincar nya.
Tidak bisa menghindar kesamping ataupun keatas, karena cahaya merah itu datang mengurung nya.
Lu Siao Fung yang lihai dan berotak encer, dengan kaki masih bertumpu di garis.
Dia membuat dirinya jatuh terlentang kebelakang, seperti orang sedang berbaring.
Saat serangan cahaya merah lewat di atas tubuh nya.
__ADS_1
Li Siau Fung, yang sepasang tangannya terpentang kesamping.
Segera memberi pukulan udara kosong keatas lantai di bawah arena.
Daya dorong pukulan itu, membantu Lu Siao Fung kembali ke posisi semula.
Tapi Lu Siao Fung yang menyadari posisinya bertahan disana, sangat rawan tidak aman.
Di mana, menghindar satu kali dengan cara tersebut mungkin masih bisa, tapi bila ingin menghindar dua kali dengan cara sama itu mustahil.
Begitu berhasil kembali ke posisi semula, dia langsung menjejakkan kedua kakinya keatas lantai arena.
Membiarkan dirinya terbang keatas, dari atas sana Lu Siao Fung, langsung memberikan serangan energi cahaya putih, yang keluar dari ujung jarinya .
Dua berkas sinar putih transparan, secara berganti ganti, terus menerus menyerang kearah Petugas Arena Kedua.
Petugas Arena Kedua memilih memilih membendung serangan tersebut dengan membentuk perisai pelindung cahaya merah di depan.nya.
Dengan bertahan di balik perisai pelindung Petugas Arena Kedua menggunakan lengan lainnya membentuk cahaya merah berbentuk bulan sabit.
Dengan menghentakkan sepasang kakinya diatas arena Petugas Arena Kedua yang berlindung di balik perisai energi.
Bergerak meluncur ke atas, menyusul kearah Lu Siao Fung diatas sana.
Saat posisi mereka sejajar dalam jarak kurang dari 3 meter, Petugas Arena Kedua langsung melepaskan serangan cahaya merah berbentuk bulan sabit, diarahkan ke Lu Siao Fung .
Jarak yang begitu dekat, membuat Lu Siao Fung, dengan terpaksa menggunakan sepasang telapak tangannya menahan serangan dari Petugas Arena Kedua .
Lu Siao Fung lagi lagi kalah tenaga, dia dipaksa terpental mundur oleh kekuatan ledakan benturan tersebut.
Di saat Lu Siao Fung sedang terpental mundur kehilangan keseimbangan nya.
Petugas Arena Kedua menebaskan sepasang telapak tangannya yang di katupkan menjadi satu. Bergerak cepat dari atas kebawah.
Sebentuk golok cahaya merah melesat mengejar kearah Lu Siao Fung .
Menyusul suara bentakan dari Petugas Arena Kedua ,
"Golok Darah Pemusnah..!"
Lu Siao Fung berusaha sebisa mungkin, membentuk perisai energi untuk menahan serangan tersebut .
Sayangnya kekalahannya dalam hal tenaga dalam, memaksanya kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Tubuhnya terpental keluar arena, tapi Lu Siao Fung masih bisa mempertahankan wajahnya sebagai seorang tokoh besar.
Lu Siao Fung saat tubuhnya akan terbanting keatas lantai, dia menggunakan sepasang tangannya menekan lantai.
Lalu tubuh'nya melenting kebelakang membuat salto mundur kebelakang dua kali.
Sehingga dia bisa kembali berdiri dengan sempurna.
__ADS_1
Lu Siao Fung segera menjura kearah Petugas Arena Kedua dan berkata,
"Saya mengaku kalah.."
"Kemampuan tidak sebanding dengan orang tidak ada yang bisa saya katakan."
"Mulai saat ini saya hanya bisa mengikuti pengaturan sekte anda.."
Selesai berkata, Lu Siao Fung segera melangkah mundur kembali ketempat duduknya.
Saat dia baru berjalan beberapa langkah, dia kembali batuk batuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Lu Siao Fung seketika merasa pandangan matanya sesaat menjadi gelap.
Tubuhnya pasti' akan jatuh terjerambab keatas tanah, bila tidak di sangga oleh keempat istrinya, yang datang tepat waktu menyambutnya.
Dengan wajah cemas keempat istri nya bekerja sama membantu memapahnya kembali ke kursi bangku penonton .
Keempat pelayan muda cantik dan seksi Lu Siao Fung juga ikut maju membantu si Flamboyan kembali ketempat duduknya.
Zi Zi yang melihat hal itu, sambil menahan senyum, dia memberi kode mata ke Nan Thian dan berkata,
"Kamu lihat Ilmu tidak se upil bila mau di bandingkan dengan mu.."
"Tampang juga kalah jauh, menang kumis doang, tapi begitu banyak wanita rela menjadi istrinya.."
"Nasibnya sungguh beruntung.."
Nan Thian tahu itu sindiran, dia tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum kecut.
Sambil menghela nafas panjang tanpa ada yang tahu, apa yang membuatnya merasa sesak dan harus menghela nafas.
Sedangkan di posisi lain, Siao Hung mendengus dingin dan berkata pelan,
"Bajingan tak berguna, kamu besar kelak tidak boleh meniru nya.."
"Paham..?"
Siao Lung yang sedang asyik bercanda dengan adiknya, tanpa tahu apa yang ibu nya maksud.
Agar tidak membuat ibu nya marah dan kesal, dia langsung menganggukkan saja kepalanya dan menjawab pelan,
"Baik Bu.."
Siao Hung membelai kepala putranya dengan lembut, lalu juga membelai lembut kepala Ying Ying .
Setelah itu, dia diam diam mencuri pandang sejenak kearah Nan Thian , sebelum kemudian dia memejamkan kembali mata nya sambil menghela nafas sedih.
Nan Thian yang merasakan hal itu,dia balas menoleh kearah Siao Hung sejenak.
Sayangnya mereka berselisih waktu, Siao Hung sudah terlanjur memejamkan matanya, wajahnya kembali terlihat kaku dan dingin, mirip patung es yang cantik.
__ADS_1