
Wanita baju putih itu, tidak menanggapi ucapan Ying Ying, melirik pun tidak.
Dia tiba-tiba melihat keatas dan berkata,
"Keluarlah kalian berdua,..mau sampai kapan kalian bersembunyi seperti maling diatas sana..!?"
Sikap dan ucapan wanita baju putih itu, tentu saja membuat Siao Lung dan Ying Ying menjadi heran dan bingung.
Karena mereka jelas tidak melihat ada siapa pun di sana.
Tapi sesaat kemudian dari balik awan melayang turun dua sosok bayangan.
Kedua bocah itu baru berseru kaget, dan langsung menunjuk keatas
"Ehh itu lihat..!"
Teriak Siao Lung dan Ying Ying hampir berbarengan.
Mereka sampai lupa akan urusan mereka dengan ibu Siao Lung yang belum selesai.
Sementara itu kedua sosok yang melayang turun dari balik awan itu adalah Nan Thian dan Zi Zi istrinya.
Nan Thian sejak tiba di tempat itu, dia bisa melihat dengan sangat jelas siapa wanita baju putih itu.
Tentu dia sangat mengenalinya, karena wanita itu adalah wanita yang selalu membuat nya di hantui rasa bersalah mendalam.
Perubahan sikap Nan Thian tentu juga di sadari oleh Zi Zi.
Sehingga Zi Zi dengan suara pelan berbisik,
"Apa yang terjadi, ? kamu kenapa..?"
"Siapa dia..?"
Nan Thian sambil memejamkan matanya menenangkan guncangan perasaannya sejenak.
Sejenak kemudian dia baru menghela nafas panjang dan berkata,
"Dia lah Siao Hung yang dulu pernah aku ceritakan pada mu.."
Zi Zi langsung terdiam tidak tahu mau berkata apa.
Dia hanya bisa diam dengan hati dan pikiran kacau balau.
Sekian lama gadis itu menghilang, dia sudah anggap gadis itu mungkin sudah meninggal.
Tidak di sangka ternyata belum dan hari ini mereka bertemu secara tidak terduga di tempat ini.
Lebih parahnya lagi, wanita itu adalah penolong putrinya, selain itu wanita itu kelihatannya menemukan suatu keajaiban sehingga kini ilmu silatnya kemungkinan tidak berada di sebelah bawah suaminya.
Yang jelas jauh diatas kemampuan nya.
Hal ini tentu membuat Zi Zi jadi cemas dan galau pikirannya.
Hingga teguran langsung dari Siao Hung yang seolah olah suaranya meledak di samping mereka.
__ADS_1
Mereka berdua mau tidak mau harus keluar dari tempat persembunyian mereka.
Nan Thian dengan kesaktiannya dia bersembunyi di balik awan, mengikuti perjalanan Siao Lung tanpa bocah itu menyadarinya.
Tapi setiba di sana, dia tidak mampu bersembunyi dari Siao Hung, yang kini memiliki kesaktian begitu luar biasa.
Nan Thian saat mendarat di atas tanah, sambil tersenyum canggung dia berjalan menghampiri Siao Hung dan berkata pelan,
"Siao Hung apa kabar mu,.. syukurlah kamu masih hidup dan baik baik saja.."
"Kemana saja kamu selama ini menghilang..?"
Tanya Nan Thian sambil melangkah maju.
Tiba-tiba Siao Hung melompat berdiri, di tangan nya muncul sebatang pedang cahaya biru, yang mengeluarkan hawa dingin mengerikan.
Dengan suara sedingin es Siao Hung berkata,
"Tahan Langkah mu..!"
"Jangan mendekat..!"
"Aku bukan Siao Hung mu,..!"
"Siao Hung mu,.. sudah lama mati..!"
"Aku kini adalah Pai Yi Mo Ni,! Wanita Iblis Berbaju Putih..."
"Jadi menjauhlah atau aku akan membunuh mu..!"
Nan Thian terpaksa menghentikan langkahnya, dia hanya bisa menatap kearah Siao Hung dengan tatapan mata penuh sesal.
Semua rasa bersalah, semua kejadian dulu seolah olah muncul menari nari di depan matanya.
Nan Thian tidak bisa berkata, meski sebenarnya begitu banyak yang ingin dia sampaikan.
Akhirnya hanya dua patah kata saja yang keluar dari mulutnya.
"Maaf aku..."
Dia tidak sanggup melanjutkannya, selain menatap kearah Siao Hung dengan perasaan bersalah yang mendalam.
Siao Hung mengerti itu, dua berusaha mengeraskan hati nya dan tersenyum dingin.
"Siao Lung Ying Ying ayo kita pergi.."
Ucap Siao Hung sambil membalikkan badannya dan berjalan pergi.
Meski sikap dan ucapannya terkesan dingin, tapi saat dia berbalik badan memunggungi Nan Thian.
Tetap saja air bening yang mengembang di sepasang mata nya yang indah, jatuh menitik tak terkendali, membasahi sepasang pipinya yang halus.
Kemudian mengalir masuk kedalam bibirnya yang indah mempesona.
Siao Hung merasakan asin nya matanya sendiri, se asin hatinya yang sedang terluka dan berdarah darah.
__ADS_1
Saat dia melihat Nan Thian datang bersama seorang wanita yang sangat cantik, yang bisa dia tebak itu pasti istri Nan Thian yang bernama Zi Zi.
Bibi kecil nya yang sangat Nan Thian cintai, seperti yang dia tahu dari dulu.
Ying Ying tentu saja terlihat bingung dengan kehadiran orang tuanya secara tiba tiba.
Kini bibi cantiknya malah mengajak dia pergi dari sana.
Ying Ying bingung mau ikut dengan bibi cantiknya, atau kembali ke sisi ayah ibunya.
Bila memilih kembali ke ayah ibunya, dia harus siap menerima kehilangan kakak Siao Lung, yang sangat dia sayangi dan selalu menjadi teman sahabat dan kakak, yang sangat menyayangi dan memanjakan nya itu.
Tapi bila memilih ikut dengan bibi cantik, dia belum siap harus kembali berpisah dengan ayah ibunya.
Di saat Ying Ying sedang bingung dia akhirnya berkata,
"Bibi cantik,.. kenapa kita tidak bisa bersama sama saja.."
"Mereka ini ayah ibu ku, mereka bukan orang jahat.."
Mendengar ucapan Ying Ying, langkah kaki Siao Hung langsung terhenti.
Dia selama ini memang tidak banyak bertanya ke Ying Ying soal asal usulnya.
Juga siapa orang tuanya, kenapa dia bisa di tangkap oleh Sesam dan Samoke.
Siao Hung hanya merasa suka dan cocok dengan gadis cilik itu, yang tidak tahu kenapa sangat menarik hatinya untuk menyayanginya.
Di tambah lagi, saat dia melihat putra tunggalnya yang kasihan dan tidak punya teman selama ini.
Ternyata begitu cocok dan akrab dengan Ying Ying , maka dia pun semakin menginginkan bocah itu ikut dengan perjalanan mereka.
Dia benar benar tidak pernah menyangka, ternyata bocah itu adalah putrinya Nan Thian .
Kini Siao Hung paham mengapa dia bisa langsung suka dan tertarik saat bertemu dengan bocah itu.
Hingga dia tidak sungkan untuk bentrok dengan Sesam dan Samoke.
Ternyata semua ini karena dia masih belum bisa melupakan ayahnya anak itu, mereka memiliki kemiripan sehingga tanpa dia sadari begitu bertemu dia langsung tertarik dan menyukainya.
Siao Hung tiba-tiba mengeluarkan suara tawa penuh kepedihan dan berkata dengan suara sedih..
"Baiklah Ying Ying bibi mengerti, kembalilah ke orang tua mu.."
"Itu sudah seharusnya.."
"Siao Lung ayo kita pergi..!"
Ucap Siao Hung yang kembali menjadi dingin saat dia berbicara dengan putranya.
Siao Lung hanya bisa tersenyum sedih menatap kearah Ying Ying yang sedang memegang erat tangannya .
Siao Lung meski berat berpisah dengan adik yang dia sayangi itu, tapi dia sangat berbakti.
Dia tidak berani membantah ibunya.
__ADS_1