
Lu Wan terus melanjutkan aksinya tanpa henti, dengan penuh semangat.
Tapi berhubung yang dia hajar bolak balik adalah Nan Thian , yang seluruh tubuhnya di penuhi hawa ajaib.
Cukup hawa 9 matahari dan hawa sakti Ih Jin Cing saja, sudah membuat Nan Thian sulit ditembus pertahanan nya.
Karena tenaga sakti 9 matahari adalah ilmu tenaga pelindung tubuh yang sangat kuat,. dengan adanya Ih Jin Cing yang bisa membuat pemiliknya memulihkan kekuatan dan kerusakan tubuh dengan cepat.
Itu sudah merupakan gabungan kekuatan yang sangat kuat.
Kini di tambah dengan berbagai keajaiban, tubuh Nan Thian berisi hawa sakti Qian Kun Im Yang Sen Kung, juga Kekuatan batu panca warna, dan api dan es surgawi.
Jadi sekuat apapun Lu Wan berusaha menghajar Nan Thian , dia hanya mengejutkan Nan Thian .
Tapi tidak akan pernah mampu melukainya.
Sebaliknya dalam satu kesempatan, saat dia menghajar dada Nan Thian .
Sepasang tangan Lu Wan, malah tertangkap oleh Nan Thian.
Tapi saat Nan Thian yang geram, ingin meledakkan energinya.
Menghancurkan sepasang tangan Lu Wan.
Di saat bersamaan.
Lu Wan berubah menjadi kabut asap hijau.
Tangan nya yang berada dalam cengkraman Nan Thian pun ikut lenyap menjadi kabut asap .
Sehingga Nan Thian hanya mencengkram asap kosong saja.
Lu Wan sudah tidak terlihat berada di sana lagi.
Saat Nan Thian mencoba mengedarkan pandangan matanya.
Dia hanya mendapatkan kenyataan tempat itu sudah sepi.
Di saat Nan Thian sedang mencoba mendeteksi keberadaan Lu Wan.
Lu Wan sendiri sudah kabur jauh dari sana.
Lu Wan melesat bagaikan bayangan hantu, membelah malam, dengan cepat bergerak meninggalkan kota Nan Jing.
Lu Wan langsung pergi menemui Zhang Shiyin yang sedang memimpin pasukan nya, menyeberangi sungai Wu Jiang.
Kedatangan Lu Wan seorang diri yang terlihat agak sedikit berantakan, segera mengundang tanda tanya besar dari Zhang Shiyin.
Tapi sebagai seorang yang cerdas dan penuh pengalaman dalam berbagai siasat peperangan.
Meski merasa heran dan penasaran, Zhang Shiyin tidak menunjukkan nya di hadapan Lu Wan.
Dia malahan datang menyambut kedatangan Lu Wan dengan penuh hormat.
Dengan hati hati Zhang Shiyin dengan wajah serius bertanya,
__ADS_1
"Apa yang terjadi senior Lu ?"
"Hingga anda terlihat sedikit terburu-buru.."
Lu Wan menghela nafas panjang dan berkata,
"Pangeran, aku sarankan anda tidak kesana dulu.."
"Di Nan Jing ada jagoan yang sulit di tahlukkan.."
"Pantas saja Fang La dan ke tujuh tetua sekte nya, semuanya berhasil di kalahkan oleh nya ."
"Pemuda berambut putih itu, benar benar memiliki kemampuan yang sulit di ukur.."
Zhang Shiyin menatap Lu Wan dengan serius dan berkata,
"Saran senior Lu, aku tentu saja tidak berani mengabaikan nya.."
"Hanya saja aku berharap senior Lu dalam waktu dekat ini, punya solusi untuk permasalahan ini.."
"Karena perintah dari Yang Mulia sudah keluar, aku tidak mungkin kembali tanpa hasil.."
"Bila di lakukan, hukuman berat militer tentu sedang menanti kita mengambilnya.."
Ucap Zhang Shiyin memberikan pesan serius.
Lu Wan tersenyum pahit dan berkata,
"Pangeran tenang saja, Lu Wan bukan ingin kabur dari tugas.."
"Untuk mengundang bala bantuan, membujuk 3 kakek paman guru Lu Wan, agar bersedia turun gunung membantu kita."
"Aku rasa hanya lewat bantuan kakek paman guru ku, baru bisa menahlukkan pemuda berambut putih, yang sangat lihai itu."
Ucap Lu Wan menjelaskan.
Zhang Shiyin langsung mengangguk dan berkata,
"Baiklah, kalau begitu aku setelah berhasil mendarat di tepi sungai Wu Jiang."
"Aku akan membuat perkemahan, sambil menunggu kabar baik dari senior.."
"Sebelum ada kabar baik dari senior, aku akan menahan serangan ku ke Nan Jing.."
Lu Wan mengangguk dan menepuk pundak Zhang Shiyin dengan hangat.
"Percayalah padaku pangeran, aku pasti akan memberikan jawaban, yang memuaskan atas kesabaran mu hari ini.."
Zhang Shiyin mengangguk sambil tersenyum dan berkata,
"Pergilah senior Lu, aku percaya penuh pada mu.."
Lu Wan mengangguk, lalu menjura memberi hormat kearah Zhang Shiyin.
Sesaat kemudian dia sudah melesat melayang di atas air sungai Wu Jiang, lalu menghilang di kejauhan sana.
__ADS_1
Zhang Shiyin melanjutkan pelayarannya, hingga mendarat di tepi sungai Wu Jiang.
Dia kemudian menginstruksikan kepada bawahan nya, untuk segera membuat pertahanan dan perkemahan, tidak jauh dari tepi sungai Wu.
Lu Wan sendiri bergerak dengan sangat cepat, hingga akhirnya dia berhasil tiba kembali di istana hantu, di puncak tertinggi gunung Piao Miao.
Sebuah bangunan istana tua yang angker di bangun persis di sebuah puncak tebing batu gunung, yang berdiri tegak lurus menembus Mega.
Lu Wan saat tiba di sana, dia mendongakkan kepalanya keatas, melihat kearah bangunan yang berada di puncak sana.
Lu Wan dengan wajah agak ragu dan takut takut, dia akhirnya terbang juga naik keatas puncak tebing batu, yang menjulang menembus Mega .
Dengan berlompatan menjejak tonjolan batu, yang ada pada tebing tegak lurus itu.
Sambil sesekali meraih akar rotan, yang bergelantungan di tebing itu.
Lu Wan terus berlompatan naik menuju puncak batu gunung itu.
Lu Wan terlihat seperti seekor monyet besar, sedang memanjat naik keatas tebing.
Setelah menghabiskan waktu setengah hari untuk melakukan pendakian.
Lu Wan akhirnya berdiri di hadapan sebuah istana besar, yang berdiri kokoh di sana.
Lu Wan dengan langkah tenang terus berjalan memasuki istana tersebut.
Istana yang terlihat sepi, tapi sangat terawat, segera di.lewati oleh Lu Wan begitu saja.
Hingga akhirnya dia tiba di halaman paling belakang istana.
Di mana terlihat sebuah taman bebatuan dan air pancuran alam, mengalirkan air yang sangat jernih.
Kemudian di tampung oleh sebuah kolam.kecil, dan di alirkan menuju sebuah sungai dangkal, yang terus bergerak memasuki sebuah Gua gelap.
Kemungkinan besar aliran sungai itu, akan menjadi aliran sungai bawah tanah, menyatu dengan anak sungai bawah tanah lainnya, baru meluncur dari ketinggian menjadi sumber mata air terjun.
Tidak jauh dari depan Gua besar itu, ada sebuah makam kuno yang sangat besar bangunan nya.
Lu Wan segera maju menghampiri tempat itu, lalu berlutut di depan makam kuno itu.
"Kakak Paman guru Yang Mulia..!"
"Maaf hari ini Lu Wan terpaksa datang kemari, untuk mengganggu meditasi kakek paman guru bertiga.!"
"Paman kakek guru bertiga, kiranya kalian Sudi meluangkan sedikit waktu, untuk mendengar cerita Lu Wan..!"
"Derrrrtttt..! Derrrrtttt.!" Derrrrtttt.!"
"Derrrrtttt..! Derrrrtttt.!" Derrrrtttt.!"
"Derrrrtttt..! Derrrrtttt.!" Derrrrtttt.!"
Selesai suara Lu Wan berkumandang, segera terdengar suara makam kuno berderak hebat.
Sebelum kemudian makam yang menimbulkan getaran hebat seperti gempa,. akhirnya makam kuno itu terbuka dengan sendirinya.
__ADS_1