
Setelah menyerahkan kantung keempat ke pemilik restoran, bocah itu tampak berpikir sebentar dan berkata,
"Uang di dalam kantung ada lebih 35 Tael perak.."
"Lebihan nya tolong bungkusan makan untuk ku. "
"Bisa kan paman..?"
Pemilik restoran langsung mengangguk seperti burung beo dan berkata,
"Bisa.. bisa...tentu saja bisa.."
"Harap duduk dan tunggu sebentar di dalam tuan penolong.."
"Biar kami siapkan semua nya.."
Ucap pemilik restoran dengan senyum ramah.
Dia segera mempersilahkan Bocah itu untuk masuk menunggu di dalam restoran.
Lalu pemilik restoran segera terlihat sibuk, memberi perintah agar anak buahnya bergerak pergi siapkan pesanan khusus buat bocah tanggung yang menjadi penolong restoran mereka.
Bocah tanggung itu sendiri sebelum masuk kedalam restoran, dia berjalan menghampiri salah satu dari 10 orang itu dan berkata,
"Melihat sikap kalian yang suka semena mena terhadap orang lain.."
"Aku yakin kantung uang ini, juga pasti kalian peroleh dengan jalan tidak benar.."
"Jadi mulai saat ini aku yang bantu kalian menjaganya.."
Selesai berkata, tanpa menunggu persetujuan dari 10 orang itu, bocah tanggung itu berjalan meninggalkan mereka masuk kedalam restoran.
10 orang itu tidak bisa bicara, hukum rimba di bayar hukum rimba.
Siapa kuat dia yang berkuasa, mereka menganut jalan ini.
Kini mereka terkena batunya.
Mereka harus siap menerimanya.
Puas tidak puas mereka harus terima kenyataan, mereka telah di kalahkan oleh bocah luar biasa itu, dengan cara sangat memalukan.
Nan Thian dan Zi Zi di tempat terpisah, di dalam kerumunan mereka berdua saling pandang.
Mereka mengangguk bersamaan, seolah olah mereka sepaham, dan sependapat.
Mereka berdua berjalan keluar dari kerumunan, lalu dengan sikap santai mereka duduk di sebuah warung kecil.
Memesan se poci teh dan sepiring kacang tanah rebus.
Mereka duduk santai di sana sambil minum teh mereka mengawasi secara diam diam gerak gerik bocah tanggung itu.
Nan Thian dan Zi Zi curiga bocah ini adalah bocah, yang pernah di gambarkan oleh nenek, yang tinggal di tepi sungai beberapa waktu yang lalu.
Alasan mereka menaruh curiga adalah bocah itu masih kecil, tapi dia memilki kemampuan yang sangat luar biasa.
Jadi kemungkinan besar bocah ini ada hubungannya dengan orang yang membawa Ying Ying.
Di mana orang itu mampu membunuh Sesam dan Samoke hanya dalam empat tebasan.
__ADS_1
Nan Thian dan Zi Zi memutuskan tidak akan melepaskan satu satunya petunjuk yang mungkin saja bisa mengantarkan mereka untuk menemukan keberadaan putri mereka.
Tidak lama kemudian bocah tanggung itu, setelah menerima sebuah bungkusan besar kantung makanan.
Dia segera keluar dari restoran, berjalan santai meninggalkan tempat tersebut.
Tidak jauh dari restoran bocah itu mampir untuk membeli sebungkus Ping Ping Tang Hu Lu.
Setelah itu Bocah itu, baru kembali melanjutkan perjalanan nya dengan hati riang, sambil berlompatan kecil dengan sebungkus kantong berisi makanan di tangan kanan, dan bungkusan kantong lainnya di tangan kiri berisi Ping Tang Hu Lu.
Dia terus berjalan dan berjalan meninggalkan kota Kun Ming.
Bocah itu terus mengambil jalan menuju kaki gunung Mo Kui Shan.
Setelah itu bocah tersebut terus menempuh jalanan menanjak mendaki lereng gunung Mo Kui Shan.
Saat tiba di sebuah hutan Pinus yang terletak di lereng gunung Mo Kui Shan, bocah itu belok masuk kedalam hutan.
Dia menyusuri jalan setapak, hingga tiba di kawasan telaga hijau.
Di kawasan telaga hijau tersebut di bawah sebatang pohon Pinus besar terlihat seorang wanita cantik berpakaian putih putih sedang duduk bersila dengan sepasang mata terpejam rapat.
Tidak jauh darinya terlihat seorang bocah perempuan sedang bermain melempar batu kearah telaga untuk mengusir rasa bosan dan suntuknya.
Kedatangan bocah tanggung yang membawa bungkusan makanan di tangan.
Segera di sambut oleh bocah perempuan itu dengan suara gembira.
"Kakak.. kakak'..kakak Lung..!"
"Kakak Lung pulang hore..!"
Sambil berlari cepat menghampiri bocah tanggung yang dia panggil kakak lung .
Bocah laki laki itu juga terlihat tersenyum gembira dan berkata,
"Ya Ying Ying, kakak pulang,.."
"Ying Ying ada nakal tidak,? selama kakak tidak ada...?"
"Tidak ada,.. Ying Ying tidak nakal, .."
"Ying Ying juga tidak menganggu bibi.."
"Ying Ying hanya bermain di dekat telaga mengusir bosan "
"Habis kakak Lung pergi ke kota lama sekali.."
"Kakak lung ngapain aja di kota? sampai begitu lama baru ingat pulang..?"
Tanya bocah perempuan itu dengan wajah cemberut lucu menggemaskan.
Bocah laki laki itu sambil tersenyum lebar berkata,
"Kakak lama karena beli masakan enak ini buat kita makan siang.."
"Selain itu, coba kamu lihat, kakak belikan apa untuk mu..?"
Ucap bocah laki laki itu sambil menunjukkan bungkusan Ping Tang Hu Lu di tangan kirinya.
__ADS_1
"Asyikkk..! hore...! Ping Tang Hu Lu...!"
"Asyikkk,..! terimakasih kakak Lung..!"
"Kakak Lung baik deh..!"
"Ying Ying sayang deh sama kakak..!"
Ucap bocah cilik itu dengan suaranya yang lucu.
Dia terlihat sangat bergembira dengan hadiah bungkusan permen Ping Tang Hu Lu dari bocah laki laki yang dia panggil kakak Lung.
Di saat kedua bocah itu sedang bergembira, tiba-tiba wanita cantik berpakaian putih, itu membuka matanya.
Dia menatap kearah bocah laki laki yang sedang bersama Ying Ying dan berkata,
"Siao Lung,..! kamu pasti berbuat onar lagi kan di kota !?"
"Sembarang mempertunjukkan ilmu rahasia dari nenek guru mu..!?"
"Lihat kamu telah membawa tamu tidak di undang kemari masih juga tidak sadar..!"
Tegur wanita itu ke bocah laki laki yang dia panggil Siao Lung itu.
Bocah itu terlihat kaget, dia segera menoleh kebelakang dan sekitarnya.
Mencoba mencari kebenaran ucapan wanita berbaju putih itu.
Sesaat kemudian Siao Lung segera menghampiri wanita baju putih itu dan berkata,
"Ibu Siao Lung tidak berbuat onar di kota.."
"Siao Lung hanya menolong yang lemah dan di tindas oleh orang jahat.."
"Siao Lung tidak pamer, Siao Lung hanya membela diri .."
Ucap Siao Lung dengan suara nya yang jernih.
"Masih berani membantah,..!? mau jadi anak tidak berbakti dan tidak bertanggung jawab.!?"
Bentak wanita itu yang bukan lain adalah ibunya Siao Lung sendiri.
Siao Lung. begitu mendengar suara teguran marah ibunya, dia segera menjatuhkan diri berlutut.
Dengan kepala tertunduk, dia segera menarik sepasang daun telinganya sendiri dengan kedua tangan.
"Maafkan Siao Lung Bu.."
"Siao Lung terima salah,.. hukumlah Siao Lung, bila itu bisa meringankan kemarahan ibu.."
Ucap Siao Lung patuh.
"Bibi ini, kalau begini ini namanya bibi yang salah..!"
"Kakak Lung sudah benar, dia hanya menjalankan tugas sebagai seorang pendekar.."
"Di mana coba letak kesalahannya ?"
Ucap Ying Ying berani.
__ADS_1