
Melihat yang Nan Thian lakukan, YeSe Bu Hua langsung berkata,
"Paman Samsara segera pergi selamatkan Do Ku..!"
"Bawa dia kembali dengan selamat..!"
Padri gundul Samsara mengangguk pelan, lalu dia segera menghilang dari posisinya.
Saat muncul lagi.
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
Terdengar suara keras memekakkan telinga, seperti suara lonceng sedang di pukul dengan benda logam keras.
Do Ku yang awalnya pucat ketakutan, saat melihat Nan Thian tiba tiba muncul sekitar 5 meter di depan nya.
Dia kembali bisa tersenyum lega, saat melihat di sampingnya muncul Guru negara Samsara.
Guru negara Samsara membentuk sebuah bayangan lonceng hitam kelam melindungi dirinya dan Do Ku.
Dari serangan energi pedang tanpa wujud yang di lepaskan oleh Nan Thian .
Di belakang Samsara, muncul sesosok Buddha Iblis.
Serangan Nan Thian tidak ada satupun yang berhasil menyentuh Do Ku.
Nan Thian sedikit terkejut melihat kekuatan lawan yang membantu melindungi Do Ku tersebut.
Kekuatan Samsara mengingatkan Nan Thian akan ilmu aliran Buddha barat yang pernah di mainkan oleh Li Sun.
Tapi sepertinya ada perbedaan mencolok dari kedua ilmu itu.
Yang Li Sun lebih mengutamakan cahaya kebajikan.
Sedangkan yang Samsara ini memancarkan cahaya kegelapan yang mengerikan, penuh dengan kekejaman, kekejian, dan kebencian.
Ilmu mereka mirip tapi saling bertentangan satu sama lainnya.
Batin Nan Thian dalam hati.
Nan Thian tidak melanjutkan menyerang secara sembarangan.
Dia kini sudah mendarat diatas tanah dan berkata,
"Kalau boleh tahu, senior ini siapa ?"
"Mengapa senior tiba tiba datang mencampuri urusan ini,..?"
Samsara menarik kembali Vajra pelindung Genta Buddha Iblisnya.
Dia menatap Nan Thian dengan tajam dan berkata,
"Bila tahu arah cepat menggelinding pergi dari hadapan ku.."
Do Ku mendengar ucapan Samsara ke Nan Thian .
Dia tersenyum puas, sambil mengedikkan sedikit kepalanya kearah Nan Thian .
Seolah olah menantang Nan Thian dengan ekspresi wajahnya yang mengatakan,
"Sekarang kamu bisa apa..?"
__ADS_1
Nan Thian membalas menatap geram kearah Do Ku, tapi mulutnya berbicara ke Samsara.
"Kelihatan nya percuma bicara dengan Padri gundul sesat seperti mu.."
"Bersiap lah.."
Ucap Nan Thian sambil melesat keangkasa sana.
Setelah itu dia menghimpun kekuatan alam jagad raya, mengumpul masuk kedalam tubuhnya.
Sehingga seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya panca warna.
Dengan satu teriakan keras,
"Tebasan Pedang Tanpa Keinginan..!"
Nan Thian melepaskan energi pedang pancawarna, menerjang kearah Samsara .
Samsara dengan sigap kembali memunculkan bayangan Genta hitamnya, untuk menahan serangan Nan Thian .
Di belakangnya kembali muncul bayangan Buddha Iblis mendukung kekuatan pertahanan nya.
"Trangggg...!"
"Brakkkk..!'
"Kraaakkk..!"
"Pyaaarrr...!"
Tebasan Pedang Dahsyat dengan pengerahan tenaga 75% itu tidaklah main main.
Genta hitam melesak separuhnya kedalam tanah, sebelum kemudian mengalami retakan di bagian yang menahan energi pedang panca warna.
Energi Pedang Panca Warna sendiri terus mendesak maju, memberikan tekanan kuat.
Berusaha menembus pertahanan Genta Hitam Buddha Iblis.
Saat Genta Hitam tidak sanggup lagi bertahan, akhirnya terjadi ledakan dahsyat, yang membuat Genta Hitam tersebut hancur berkeping-keping.
Tidak lagi sanggup menahan tekanan dahsyat dari energi pedang panca warna.
Begitu Genta Hitam meledak, Samsara langsung melesat keatas bersama bayangan Buddha Iblis.
Dengan telapak tangan kosong, dia maju menyambut energi pedang panca warna tanpa rasa takut sedikitpun.
"Anak muda hari ini aku akan mengajari mu hingga mulut dan hati mu tahluk dengan puas..!"
Ucap Samsara sambil melesat menerjang keatas.
Setelah dia berhasil mematahkan energi pedang panca warna.
"Cahaya Buddha Iblis Menyelimuti Seluruh Jagad Raya..!"
Ribuan cahaya hitam melesat keluar dari telapak tangan Samsara , mengejar kearah Nan Thian .
Nan Thian diatas sana berputaran dengan sepasang tangan terpentang lebar, kaki sebelah terangkat setengah.
Dia bermandikan cahaya pancawarna yang berasal dari 5 unsur jagad raya.
Saat serangan Samsara tinggal 3 meter jaraknya, Nan Thian berbalik meluncur ke bawah dengan pedang panca warna di tangan.
"Tebasan Pedang Tanpa Nama..!"
"Boooommm...!"
Terjadi ledakan dahsyat di udara hingga bias energi memancar kesegala arah.
__ADS_1
Bayangan Buddha Iblis Sirna, Samsara terpental mundur puluhan meter kebelakang.
Jendral Do Ku berdiri diam di tempat dengan wajah pucat pasi, melihat dadanya berlubang.
Darah muncrat muncrat dari dadanya yang berlubang.
Sesaat kemudian tubuh Jendral Do Ku akhirnya tumbang kebelakang.
Jatuh tergeletak berlumuran darah, diam tidak bergerak lagi.
Sepasang matanya terbelalak lebar, menunjukkan rasa ngeri yang amat sangat menjelang ajalnya tiba.
Nan Thian sendiri melayang mundur menjauh, beberapa kali bergerak mundur dengan sepasang tangan terpentang lebar.
Tubuhnya terlihat hilang muncul di udara, tahu tahu sudah menghilang kedalam hutan sebelah timur sana.
Kini di sana hanya tersisa Samsara yang menghela nafas kecewa
Sesaat kemudian saat YeSe Bu Hua tiba di lokasi untuk memeriksa keadaan Jendral Do Ku.
Samsara pun membungkukkan badannya dan berkata,
"Maafkan saya Tuan Putri, saya telah gagal menjalankan tugas.."
YeSe Bu Hua bangkit berdiri, dia menggelengkan kepalanya, sambil menghampiri Samsara dan menepuk pundaknya dengan lembut.
"Paman Guru sudah berusaha, kesalahan tidak terletak pada paman guru.."
"Lawan terlalu sakti, semua kejadian ini, di luar kontrol dan kehendak kita.."
"Ayo kita kembali ke istana, untuk merundingkannya lebih lanjut.."
Ucap YeSe Bu Hua tenang.
Samsara mengangguk dan berkata,
"Semua mengikuti petunjuk dari Tuan putri saja.."
YeSe Bu Hua mengangguk pelan menanggapi ucapan Samsara.
Sebelum melangkah pergi, YeSe Bu Hua menoleh kearah rombongan prajurit yang mengawal kepulangan Jendral Do Ku dan berkata,
"Kalian tentu telah bersusah, kalian bantu aku urus pemakaman jendral kalian dengan baik.."
"Setelah itu kalian bisa ambil imbal jasa kalian ke bagian bendahara militer, di istana.."
"Setelah itu kedepannya kalian akan di tempatkan di bawah Jendral Yo Ku.."
Ucap YeSe Bu Hua tegas.
Rombongan Prajurit Mongolia itu segera menjatuhkan diri berlutut dan mengucapkan terimakasih ke YeSe Bu Hua.
"Tak perlu peradatan, berdirilah semuanya.."
Ucap YeSe Bu Hua sebelum melangkah meninggalkan tempat itu.
Kedua orang sakti bergerak mengikuti putri YeSe Bu Hua dari belakang.
Sementara itu di tempat lain, Nan Thian dengan langkah terhuyung-huyung dia terus berjalan tanpa arah.
Hingga akhirnya dia kembali kedalam Gua yang pernah menjadi tempat bermalam nya bersama Siao Hung.
Nan Thian sebenarnya tidak ingin kembali ketempat yang memilki kenangan yang sangat tidak menyenangkan ini.
Tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk itu, dia perlu segera menemukan tempat tenang untuk beristirahat.
Menekan energi internalnya yang bergerak liar dan kacau balau, akibat benturan terakhir dengan Samsara barusan.
__ADS_1
Saat memasuki Gua di balik air terjun, Nan Thian langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Pandangan matanya seketika gelap, dia langsung jatuh tergeletak diam di atas tanah