
Xu Da menjadi semakin cemerlang karirnya, hingga suatu hari Xu Da penyakit lamanya kambuh.
Di mana saat dalam kampanye militer menertibkan pemberontakan di daerah Utara dulu, bersama Tang He dan Zhang Yu Chun.
Dia pernah terkena anak panah beracun, meski sudah sembuh saat itu, tapi racun itu ternyata tidak benar benar hilang total.
Masih ada yang tersisa di tubuhnya, kini di saat dia mulai tua, racun itu kembali kambuh.
Di punggungnya tumbuh bisul sebesar telur angsa.
Dari tabib yang merawat nya,Xu Da di ingatkan untuk berpantang makan daging angsa bakar yang menjadi kegemarannya, terutama sambil minum arak wangi.
Bila di langgar kemungkinan besar Xu Da bisa kehilangan nyawanya.
Xu Da yang tidak leluasa pergi kerja, dia akhirnya pergi memohon cuti dari Zhu Yuan Zhang dan menceritakan keadaan penyakitnya dan pantangan makanan nya, ke sahabat juga besannya itu.
Zhu Yuan Zhang mengijinkan nya, tapi di saat bersamaan, dia juga secara diam diam, menyuruh orang mengirimkan arak dan daging angsa bakar, kekediaman Xu Da, yang mana makanan tersebut justru menjadi makanan yang menjadi pantangan makan Xu Da sahabatnya.
Bila Xu Da memakannya, nyawanya tidak bakal tertolong, racun di tambah racun sudah pasti akan merengut nyawanya.
Xu Da saat menerima kiriman makanan dari Zhu Yuan Zhang, dia duduk termenung seorang diri.
Terkadang tertawa terkadang menangis, kini dia baru menyadari nasehat Tang He dulu, ternyata tidak lah salah.
Dirinya yang terlalu naif, sehingga harus menerima kenyataan seperti hari ini.
Xu Da akhirnya memakan daging angsa bakar dan arak wangi hadiah dari sahabat masa kecilnya Zhu Yuan Zhang dengan lahapnya.
Sambil makan dan minum, Xu Da, terus tersenyum dan tertawa, tapi airmata nya tidak berhenti bercucuran.
Xu DA tidak punya pilihan tidak memakannya berarti dia tidak menghargai pemberian atasannya.
Di bisa di tuduh tidak setia, dan ingin memberontak.
Xu Da tidak ada niat memberontak, satu dia sangat menghargai persahabatan nya dengan Zhu Zhong Ba, sahabat masa kecilnya yang telah berubah bentuk.
Dia dua tidak ingin punya nama buruk sebagai pejabat bawahan juga teman yang tidak setia, setelah menerima begitu banyak dari Zhu Yuan Zhang.
Hal ketiga yang membuatnya berat adalah putrinya, putri ketiga putri kesayangannya itu.
Kini ada di istana, bila dia berani bersikap ataupun punya niat memberontak.
Tentu saja yang paling pertama terseret dan di jatuhi hukuman adalah putrinya yang kini sedang mengandung cucunya.
Dengan berbagai pertimbangan itu, Xu Da hanya bisa menyesali sikap naif nya yang tidak mendengarkan nasehat Tang He, sahabat masa kecilnya yang lain, yang kini hidup dengan tenang di desa kampung halaman mereka jauh di Nan Jing sana.
Dua hari kemudian Xu Da pun meninggal dunia untuk selamanya.
Berita kematian Xu Da yang terjadi secara mendadak tentu saja menggemparkan seluruh ibukota Beijing.
Begitupula dengan Nan Thian dan Zi Zi yang tinggal di Kai Feng sebagai keluarga bangsawan dengan gelar Ping An Wang.
Saat berita tersebut sampai ke telinga Nan Thian, Nan Thian segera bergegas pergi menemui istrinya.
__ADS_1
Nan Thian saat tiba di taman samping komplek istana kediamannya.
Nan Thian melihat Zi Zi sedang mengajari putri cilik mereka, yang baru berusia 5 tahun berlatih ilmu pedang, yang seperti orang sedang menulis di udara kosong.
Nan Thian tersenyum kagum dan bahagia, sesaat dia sampai lupa dengan berita kematian Xu Da, yang datangnya sangat mendadak itu.
Saat putri kecilnya menyelesaikan latihan nya.
Gadis cilik itu saat tahu ayahnya datang, dia langsung berteriak gembira,
"Asyikkk...ayah datang ..!"
"Ayahhhhh..!"
Teriak gadis cilik itu, langsung berlari cepat, lalu melompat kedalam pelukan hangat ayahnya.
"Ying Ying anak pintar, ada nakal kah hari ini..?"
"Apa ada tidak menurut dengan ibu mu..?"
Tanya Nan Thian sambil menggendong putrinya, dia berjalan menghampiri istrinya dengan senyum bahagia menghiasi wajah nya.
Ying Ying dengan bersemangat segera menjawabnya,
"Tidak ada, bila tidak percaya boleh tanya ke ibu.."
Zi Zi ikut melangkah menghampiri suami dan putri nya,
"Ya..ya..Ying Ying sangat penurut baik dan pintar .apa begitu cukup..?"
Nan Thian tersenyum lembut, lalu mencium pipi putrinya.
"Hi.hi..hi.. geli ayah..geli..cukur dulu kumis dan jenggotnya.."
"Ying Ying gak suka,..ibu juga bilang begitu.."
Ucap putri tunggal Nan Thian Yue Ying Ying polos sambil tertawa cekikikan.
Nan Thian langsung tertawa dan berkata,
"Ya..ya..nanti ayah cukur setelah ini.."
Zi Zi sambil tersenyum berkata,
"Suamiku kenapa hari ini kamu bisa begitu santai, jam segini sudah pulang..?"
Nan Thian di tanya seperti itu, dia baru teringat dengan tujuan kedatangan nya.
"Istriku ada kabar duka dari Beijing, Panglima Xu Da telah meninggal dunia kemarin.."
"Kamu harus berkemas kemas, kita akan segera berangkat ke Beijing sore ini.."
"Aku ingin melayat dan memberi penghormatan untuk yang terakhir kalinya.."
__ADS_1
Ucap Nan Thian menjelaskan rencananya.
"Bagaimana mungkin bisa,? bukankah tubuh nya selama ini begitu sehat dan kuat."
Ucap Zi Zi sulit percaya.
Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,
"Ajal bila mau tiba, siapa yang bisa menduga dan menebaknya.."
"Bila bisa tahu tentu lebih baik, sayangnya tidak.."
Zi Zi mengangguk dan berkata,
"Baiklah kalau begitu biarlah kami pergi bersiap siap.."
"Kamu juga bersiap siap sendiri.."
"Aku banyak yang harus di persiapkan karena ini adalah perjalanan pertama nya kita, semenjak Ying Ying lahir.."
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Pergilah, Ying Ying biar ikut dengan ku saja.."
Zi Zi menatap suaminya dan tersenyum penuh rasa terimakasih.
Karena Nan Thian sangat pengertian, tahu dirinya akan sibuk, tidak mungkin bisa mengawasi Ying Ying .
Langsung menawarkan diri membantunya tanpa perlu di minta.
Itulah Nan Thian ke ke nya, selalu perhatian, bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarga.
Bisa bersamanya adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.
Ying Ying di dalam gendongan Nan Thian segera berkata dengan suaranya yang lucu.
"Ayah.. kita akan pergi jalan jalan ya..?"
"Beijing itu di mana ? apa lebih bagus dari Kai Feng kita ini..ayah..?"
Nan Thian tersenyum lembut dengan suara sabar dia segera menjawabnya,
"Tentu saja putri ku..Beijing dan Nan Jing adalah dua kota terbesar di seluruh daratan tengah ."
"Keduanya adalah pusat ibukota kerajaan Ming,.. tentu saja kita itu sangat besar indah dan ramai ."
"Asyikkk ayah,.. Ying Ying mau kesana..."
"Ying Ying mau kesana...ayah.."
Ucap Ying Ying merengek manja sambil merangkul dan menciumi pipi ayahnya.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Baik,.. baik,.. sekarang kamu ikut ayah untuk menyiapkan kereta perjalanan kita.."