
Sementara kedua pasangan berbahagia itu sedang asyik makan.
Di suatu tempat yang terletak cukup jauh dari kota Kai Feng, seorang kakek terlihat berjalan dengan langkah kaki sempoyongan.
Kakek itu melangkah sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri luar biasa, bahkan sekedar untuk bernafas dengan pelan.
Setiap dia menarik ataupun menghembuskan nafas, akan selalu terasa, seperti ada paku yang di gunakan untuk menusuk nusuk jantung nya.
Kakek itu saat berhasil mencapai sebatang pohon besar dia menggunakan tangan nya untuk membantu menahan tubuhnya agar tidak sampai roboh.
"Uhukkk. ! Uhukkk. ! Uhukkk. !"
"Uhukkk. ! Uhukkk. ! Uhukkk. !"
Tiba tiba kakek itu mengalami batuk kuat, dari mulutnya dia memuntahkan darah segar cukup banyak.
Sebelum kemudian dia jatuh tergeletak tidak sadarkan diri di bawah pohon tersebut.
Beberapa saat kemudian sebuah rombongan besar pasukan Mongolia yang di pimpin oleh Jendral Yo Ku dan putri YeSe Bu Hua.
Mereka terlihat sedang bergerak menuju kearah pohon besar, yang di bawahnya ada seorang kakek yang tergeletak pingsan di sana.
YeSe Bu Hua yang bermata tajam, segera melihat di bawah pohon tersebut, ada sesosok tubuh manusia tergeletak pingsan di sana.
YeSe Bu Hua segera berkata,
"Aku mau lihat kesana sebentar.."
"Kalian teruskan saja perjalanan.."
Yo Ku mengangguk cepat dan berkata,
"Baik Yang Mulia.."
Selesai memberi pesan, Yese Bu Hua segera memacu kudanya untuk menghampiri sosok yang sedang tergeletak diam di sana.
Begitu sudah lebih dekat dan bisa melihat dengan jelas, Yese Bu Hua buru buru melompat turun dari atas punggung kuda nya.
Dia segera menghampiri sosok yang sedang tergeletak diam tak bergerak itu.
Yese Bu Hua buru buru, membantu membalikkan tubuh sosok yang pingsan tersebut.
"Ahhh empu..!"
Teriak Yese Bu Hua kaget.
Dia segera membantu memeriksa keadaan kakek itu, YeSe segera mendapati, luka luar kakek itu tidak seberapa parah.
Luka luar berdarah nya, sudah banyak yang sembuh sendiri, tapi luka dalam yang di derita Si empu, ini yang jelas tidak ringan.
YeSe Bu Hua segera membantu kakek itu untuk bangkit duduk bersila di hadapan nya.
Lalu YeSe Bu Hua menempelkan sepasang telapak tangan nya, di depan dada si Empu tua, yang masih pingsan belum sadarkan diri.
__ADS_1
YeSe Bu Hua membantu menyalurkan tenaga saktinya, ke tubuh Si empu, mencoba untuk membangkitkan hawa murni si Empu yang sedang tidur.
Beberapa waktu berlalu, di mana nafas Si empu tua itu, mulai teratur.
Sepasang matanya perlahan lahan terbuka, melihat di hadapannya adalah YeSe Bu Hua, yang sedang membantu mengobati luka nya.
Si Empu tua segera berkata,
"Terimakasih tuan putri,.. anda telah bersusah.. menolong nyawa hamba tak berguna seperti saya ini.."
Yese Bu Hua menatap serius kearah empu tua itu, dan berkata,
"Jangan berkata begitu, Empu jadi terluka begini juga karena melindungi aku dan pasukan ku.."
"Sebentar Empu, aku pergi carikan kereta buat empu.."
Ucap YeSe Bu Hua penuh hormat.
Lalu dia segera menghampiri kudanya, melompat keatas punggung kudanya.
Lalu dia segera memacu kuda nya mendekati barisan pasukan Yuan, yang sedang berjalan melintas tidak jauh dari sana.
Yese Bu Hua langsung menemui salah seorang komandan yang memimpin di sana.
Komandan itu buru buru maju memberi hormat ke YeSe Bu Hua.
"Salam tuan putri.."
Ucap komandan tersebut sambil berlutut penuh hormat.
Ucap YeSe Bu Hua tegas dan cepat.
"Baik tuan putri, harap di tunggu sebentar.."
Ucap komandan pasukan itu cepat.
Setelah memberi hormat dia segera berlarian pergi menjalankan tugas dari YeSe Bu Hua.
YeSe Bu Hua sendiri segera bergegas menggunakan kuda nya, kembali lagi ke tempat Si empu sedang duduk bersila.
Si Empu terlihat terus mengatur nafasnya, berusaha mengaktifkan ilmu Panca Sona untuk menyembuhkan luka luar dan luka dalamnya.
Dia terus menghimpun kekuatan alam semesta, untuk memulihkan kondisi nya .
Tapi karena kondisinya yang terlalu lemah, dia harus melakukannya dengan perlahan, tidak bisa cepat.
YeSe Bu Hua tidak berani menganggu, saat tiba di sana. Dia hanya berdiri diam di sana, mengamati perkembangan keadaan Si Empu dengan tatapan mata cemas.
Hingga saat kereta pesanannya tiba, beberapa prajurit dan komandan yang dia perintahkan pergi mencari kereta datang membawa sebuah tandu.
YeSe Bu Hua baru maju setindak dan berbisik pelan,
"Empu,.. kereta dan tandu sudah tiba.."
__ADS_1
Si Empu mengangguk pelan, tanpa membuka mata, ataupun merubah posisinya.
Tubuh si Empu tiba tiba terbang sendiri menuju rombongan prajurit yang datang membawa tandu.
Si empu masih dalam posisi duduk bersila dengan sepasang mata terpejam rapat, dia berhasil mendarat ringan dan duduk diatas tandu tanpa merubah posisinya sama sekali.
Para prajurit sedikit kaget, tapi komandan pasukan dan YeSe Bu Hua bersikap biasa saja.
Karena dari awal mereka memang sudah tahu, kakek misterius ini, memang memiliki segudang kesaktian misterius yang tidak lumrah manusia.
Beberapa saat kemudian prajurit itu, segera mengikuti instruksi komandan mereka, memindahkan kakek itu kedalam kereta kuda.
YeSe Bu Hua menyerahkan kuda tunggangan nya untuk di urus oleh komandan bawahannya.
Sedangkan dia sendiri ikut di dalam kereta menemani Si Empu bermeditasi.
Beberapa waktu melakukan perjalanan Empu Ranubhaya akhirnya menghentikan latihannya.
Dia membuka kembali sepasang matanya, keadaan nya, sudah terlihat jauh lebih baik.
Rona merah mulai terlihat di wajahnya, wajahnya tidak lagi terlihat pucat seperti sebelumnya.
"Empu bagaimana keadaan mu saat ini..?"
Tanya YeSe Bu Hua hati hati.
"Terimakasih Tuan Putri, keadaan hamba sudah cukup baik.."
Jawab kakek itu sambil tersenyum sabar.
YeSe Bu Hua mengangguk pelan dan berkata,
"Syukurlah bila Empu tidak apa apa,"
"Bila tidak ada halangan mungkin 7 hari lagi, kita bisa tiba di ibukota Beijing.."
Empu Ranubhaya menatap wajah YeSe Bu Hua dengan serius dan berkata,
"Tuan putri, apa rencana Tuan Putri selanjutnya, setelah kita dikalahkan dan terusir dari Kai Feng..?"
YeSe Bu Hua terdiam sejenak, akhirnya dia berkata pelan,
"Semua tergantung dengan keputusan kakak ku Kubilai Khan.."
"Aku juga tidak tahu, tindakan dan sangsi apa yang akan aku terima, setelah aku menghilangkan kota Kai Feng..Ibukota lama kerajaan Yuan.."
"Maaf tuan Putri semua ini salah hamba, hamba yang tidak berkompeten.."
"Hamba membuat Tuan Putri ikut menanggung susah, atas ketidak becusan hamba ."
Ucap Empu Ranubhaya merasa tidak enak hati.
YeSe Bu Hua tersenyum lembut dan berkata,
__ADS_1
"Empu tenang saja, kalah menang dalam pertempuran adalah hal biasa.."
"Kita masih punya kesempatan, karena berkat Empu, kekuatan pasukan kita masih berhasil di pertahankan.."