PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
Berhasil menyusul


__ADS_3

Lewat sepasang mata ukiran wajah iblis itu, Nan Thian berhasil menemukan sebuah ruangan lain di balik tembok.


Saat Nan Thian mencoba untuk memperhatikan dengan lebih teliti, dia segera menemukan di dalam ruangan tersebut, ada sesosok tubuh wanita sedang berbaring dalam posisi miring diam tidak bergerak.


Nan Thian tidak bisa melihat wajahnya, tapi dari potongan tubuh dan warna pakaian yang di kenakan oleh wanita itu.


Itu jelas adalah Siao Hung.


Selain itu Nan Thian juga melihat ruangan itu penuh dengan kabut hijau.


Nan Thian menebak kemungkinan besar itu adalah kabut obat bius, yang di gunakan oleh penjahat licik itu.


Untuk melumpuhkan Siao Hung, kemungkinan Siao Hung terjebak di sana dan mereka melupakan nya dengan obat bius.


Sebelum mencoba masuk, Nan Thian mencoba mencari cari cara membuka lubang pembuangan udara.


Agar kabut beracun itu bisa keluar dari tempat itu.


Setelah mencoba kesana kemari, Nan Thian menemukan yang di carinya.


Bila tanduk iblis di tarik kebawah, maka akan keluar asap beracun, bila tanduk di dorong keatas pintu yang rahasia pembatas ruangan akan terbuka secara otomatis.


Bila tanduk di putar kearah kanan maka pintu di bagian atas langit langit ruangan akan terbuka.


Bila sebaliknya di putar kearah kiri, maka pintu pintu lubang udara akan terbuka dengan sendirinya.


Sehingga otomatis asap beracun di dalam ruangan akan terbuang keluar.


Setelah menemukan kuncinya, Nan Thian segera memutar tanduk iblis ke kiri, untuk membuka lubang saluran udara.


Begitu lubang di buka, asap hijau terlihat berhamburan keluar dari dalam ruangan di mana Siao Hung terkurung di dalam sana.


Nan Thian menunggu hingga kabut asap beracun sepenuhnya hilang.


Dia baru mendorong tanduk iblis keatas, untuk membuka pintu pembatas ruangan.


Begitu tanduk terdorong keatas, segera terdengar suara pintu berderak.


Sesaat kemudian sebuah pintu mulai terbuka sendiri.


Nan Thian segera bergerak menghampiri pintu yang terbuka.


Pintu itu tingginya hanya satu meter setengah.


Sehingga Nan Thian dengan tinggi 185 cm, dia harus membungkukkan badannya.


Baru bisa melewati pintu batu yang bergeser terbuka kesamping.


Melewati pintu batu itu, ternyata posisi pintu ada diatas, berjarak sekitar 3 meter diatas posisi Siao Hung terbaring.


Untuk menuju posisi Siao Hung Nan Thian harus melompat ke bawah sana.


Nan Thian sedikit ragu, mau turun atau tidak.

__ADS_1


Bila dia turun lalu ada yang muncul menutup pintu batu.


Maka dia akan ikut terjebak di dalam sana.


Tapi bila dia tidak turun, bagaimana mau menolong Siao Hung keluar dari tempat itu.


Tali cambuk dia tidak punya jadi dia juga tidak bisa menarik Siao Hung keluar dari tempat itu.


Setelah berpikir bolak balik, Nan Thian akhirnya menghela nafas panjang dan berkata sendiri.


"Nan Thian ,.. Nan Thian ,.. kamu mengapa begitu picik..?"


"Apakah artinya terjebak, meski harus mati 10 kali pun, kamu belum bisa menebus hutang mu padanya.."


"Kamulah yang berhutang pada nya, bukan dia yang berhutang pada mu.."


"Bila kamu melihatnya begini, tidak pergi menolongnya, maka kamu masih manusia kah ?"


Setelah menegur dirinya sendiri, Nan Thian akhirnya melompat memasuki tempat itu.


Nan Thian mendarat ringan di samping Siao Hung , baru saja Nan Thian berjongkok untuk memastikan kondisi Siao Hung .


Tiba-tiba pintu diatas sana sudah menutup kembali, saat Nan Thian melesat keatas mencoba untuk keluar dari tempat itu.


Dia sudah terlambat, pintu itu terlanjur menutup kembali.


Dengan geram Nan Thian memberikan pukulan nya dengan sepenuh tenaga.


Tidak energi surgawi menyatu, segera meluncur deras menghantam pintu tersebut.


Tetap saja pintu itu diam tidak bergeming sama sekali.


Nan Thian terpaksa harus mendarat kembali ke sisi Siao Hung yang sedang terbaring memunggungi nya.


Begitu pintu tertutup tak lama kemudian pintu saluran udara juga mulai ikutan menutup.


Nan Thian yang sadar akan maksud tujuan lawannya, Nan Thian segera menghunus pedang panca warna.


Sebelum lubang lubang udara itu pada tertutup semua nya, Nan Thian dengan gerakan secepat dia bisa.


Menusukkan pedang di tangan nya kesana kemari melubangi dan merusak semua lubang saluran udara.


Dengan cara ini, Nan Thian bisa mencegah musuh memainkan racun bius untuk diri nya.


Setelah berhasil merusak sebagian saluran udara, Nan Thian sambil tersenyum mengejek.


Dia menatap kearah lubang yang bisa di gunakan untuk mengintip keadaan di dalam ruangan tersebut.


Nan Thian memberikan senyuman dan kode menantang untuk memanasi lawannya melepaskan kabut beracun, seperti rencana mereka.


Tapi lawannya tidak bodoh, di luar sana pimpinan sekte pertama memutuskan tidak mau melayani tantangan Nan Thian .


Mereka memilih diam mengamati saja, situasi di dalam sana.

__ADS_1


Melihat lawan tidak meresponnya, Nan Thian akhirnya memilih mengabaikan mereka.


Dia memilih kembali berjongkok di samping Siao Hung, Nan Thian menyentuh pelan bahu Siao Hung, membalikkan badannya menghadap kearah nya.


Melihat wanita itu benar adalah Siao Hung adanya.


Nan Thian segera membantu nya untuk duduk bersila di hadapan nya.


Nan Thian kemudian memberikan beberapa totokkan dan urutan, untuk memperlancar jalan darah di bagian bahu, tengkuk, kedua sisi kening dan di tutup dengan sebuah pijatan tepat dibawah hidung.


Begitu pijatan tersebut di lakukan, sepasang mata Siao Hung perlahan-lahan mulai terbuka.


Begitu melihat Nan Thian duduk di hadapannya, Siao Hung segera berkata pelan.


"Aku sedang mimpi kah..? atau aku sudah mati ? kamu adalah malaikat yang datang menjemput ku dalam bentuk dirinya..?"


Nan Thian tersenyum sedih dan berkata,


"Maafkan aku Siao Hung , ini benar aku Nan Thian manusia paling tidak berbudi dan tidak berperasaan.."


"Kamu tidak sedang bermimpi, juga belum meninggal.."


"Kamu tadi hanya pingsan karena racun bius yang mereka lepaskan.."


Ucap Nan Thian menjelaskan dengan lembut.


Siao Hung sepasang matanya sesaat menatap Nan Thian dengan penuh kerinduan dan cinta yang mendalam.


Tapi sesaat kemudian tatapan matanya kembali menjadi dingin dan hambar.


Senyum sedih mewarnai wajahnya.


Dia langsung menggeser dirinya menjauh dan berkata,


"Mengapa kamu repot repot kemari..?"


"Mengapa kamu tidak berada di sisinya, menjaga dan melindunginya..?"


"Dia lebih memerlukan mu daripada aku.."


"Pergilah menjauh dari ku, agar aku tidak mengotori diri mu.."


"Pendekar Api dan Es Surgawi yang terhormat dengan posisi tinggi jauh diatas sana.."


Ucap Siao Hung sinis.


Sambil melangkah mundur menjauh dari Nan Thian .


Nan Thian tahu dirinya sedang di sindir dan di sinis oleh Siao Hung .


Tapi selain helaan nafas panjang yang keluar dari mulutnya, tidak ada sepatah kata bantahan apapun yang keluar dari mulutnya.


Tiba-tiba terdengar suara sempritan kuat memenuhi ruangan di mana mereka berada.

__ADS_1


Mendengar suara tersebut sepasang mata Siao Hung menjadi bergerak gerak liar.


__ADS_2