PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
BERTEMU KAISAR


__ADS_3

"Tidak..! Tidak...! Tidak..!"


"Ayah jahat..! ayah pilih kasih..!"


"Ying Ying tidak mau main sama ayah lagi.."


Ucap gadis kecil itu kesal.


Dia segera berlari masuk kedalam pelukan ibunya, lalu menangis tanpa suara di sana.


Dua tidak terima, ayahnya membantu orang lain menindasnya.


Tadi dia sudah senang hampir berhasil mengalahkan kakak misannya yang jauh lebih besar darinya.


Tapi gegara ayahnya, dia jadi kalah tentu saja dia sulit menerima kekalahan tersebut.


Nan Thian hanya bisa tersenyum dan menghela nafas melihat sikap putrinya itu.


Zi Zi sambil menahan senyum,dia segera membawa putrinya meninggalkan tempat itu.


Dia mengajak putri berkeliling ketempat lain, berusaha menghiburnya.


Dia sebagai ibunya, dia tentu lebih paham.


Saat ini menasehatinya akan percuma, hanya akan membuat gadis cilik itu semakin marah.


Lebih baik biarkan dia tenang dulu, baru nanti perlahan-lahan menasehatinya.


Nan Thian juga tidak menyusul, dia memilih melatih dan memberi petunjuk pada Fei Fei.


Bagaimana memainkan tapak naga langit dengan benar.


Selain memperbaiki pergerakannya, Nan Thian juga mengajarkan kepada Fei Fei keponakannya cara menghimpun hawa Qian Kun Im Yang Sen Kung.


Tenaga sakti ini menurut Nan Thian lebih cocok untuk di latih oleh keponakan nya.


Energi 9 matahari terlalu keras, dia hanya cocok untuk di latih oleh pria tidak cocok untuk Fei Fei.


Sayangnya tenaga sakti sembilan bulan, dia tidak bisa. yang bisa adalah Zi Zi. Jadi hanya Zi Zi yang bisa membantu Fei Fei berlatih.


Jadi Nan Thian memilih melatih ilmu netral perguruan Xu San.


Ilmu ini bila di latih dengan baik kekuatannya juga tidak di bawah ilmu 9 matahari maupun ilmu 9 bulan.


Dahulu Yi Han Tao Se juga hanya mengandalkan tenaga sakti ini, malang melintang di dunia persilatan selama ratusan tahun jarang bertemu tanding.


Ini hanya membuktikan ilmu tetap adalah ilmu sesakti apapun ilmu itu, bila belum di kuasai dengan sempurna.


Maka kekuatan ilmu itu tidak akan bisa di kembangkan hingga kepuncak nya.


Sehingga dalam pertarungan nyata akan menjadi kurang berguna .


Beberapa saat melatih putri kakaknya, hingga kakaknya sudah muncul dengan pakaian rapi.

__ADS_1


Mereka berdua segera meninggalkan istana kediaman Yue Lin.


Nan Thian dan kakaknya langsung pergi ke istana, untuk memohon menghadap kaisar Hong Wu.


Tanpa kesulitan kepala Kasim, segera membawa Yue Lin dan Nan Thian menemui Zhu Yuan Zhang yang menunggu di ruang kerjanya yang megah.


Saat mereka berdua hadir di dalam ruangan tersebut, Yue Lin segera berlutut memberi hormat.


Sedangkan Nan Thian hanya menjura saja kearah kaisar Hong Wu yang sedang duduk di balik sebuah meja besar.


Tapi banyaknya berkas laporan yang bertumpuk-tumpuk, diatas meja besar tersebut, Justru membuat meja besar itu terlihat sempit.


Melihat kehadiran Yue Lin dan Nan Thian yang datang di antar oleh kepala kasim nya.


Zhu Yuan Zhang segera memberi kode agar kepala Kasim itu mundur dari ruangan tersebut.


Lalu dia segera berkata,


"Lin er kamu berdirilah tak perlu peradatan.."


"Di sini tidak ada orang lain.."


"Kalian berdua ambilah tempat duduk yang kalian suka.."


"Tak perlu sungkan.."


Nan Thian dan Yue Lin dengan kompak mengucapkan terimakasih.


Lalu mereka segera mengambil tempat duduk, menghadap menyamping kearah Kaisar Hong Wu, yang duduk di posisi yang jauh lebih tinggi


"Aku semakin tua, kelihatannya waktu ku juga tidak banyak lagi.."


"Semua rekan perjuangan ku satu persatu telah tiada, bahkan Xiu Ying pun kini telah tiada.."


"Bahkan dari empat putra ku, kini hanya tersisa Zhu Di yang sebentar lagi harus berangkat ke perbatasan Utara.."


"Membantu rakyat Ming, menenangkan suasana di sana dari gangguan bangsa bar bar Mongolia, yang sampai kini masih sering datang merongrong keamanan wilayah perbatasan kita.."


"Untungnya di sisi ku masih ada kalian berdua yang menemani, jadi masih terhitung tidak terlalu sepi.."


Ucap Zhu Yuan Zhang yang cerdik, sebelum Nan Thian dan Yue Lin berbicara.


Dia sudah lebih dulu menebak dan menutup arah pembicaraan yang akan di buka oleh Nan Thian, dengan keluh kesah nya.


Yue Lin tersenyum pahit menanggapi kecerdikan mertuanya dalam berbicara.


Dalam hati dia harus akui, mertuanya ini benar benar bukan orang biasa.


Meski terlahir dari keluarga miskin dan berasal dari keluarga orang biasa.


Tapi pikiran dan wawasan nya, sudah jauh melampaui semua orang .


Makanya dia bisa menjadi penguasa tunggal di wilayah daratan tengah yang begitu luas.

__ADS_1


Berbeda dengan kakaknya, Nan Thian yang jujur dan polos.


Dia justru tidak perduli dengan apa yang Zhu Yuan Zhang pikirkan.


Saat ini baginya adalah momen terpenting, kebetulan dia ada di ibukota dan bisa bertemu langsung dengan Hong Wu.


Setelah ini dia takut tidak ada kesempatan lagi


Jadi begitu Hong Wu selesai berbicara, Nan Thian langsung menyambungnya dengan berkata.


"Yang Mulia hari ini tidak sama dengan dulu, dulu Yang Mulia memerlukan kami karena sedang dalam masa perjuangan.."


"Di mana musuh sangat kuat, ada di segala penjuru.."


"Tapi kini berbeda, situasi sudah tenang dan damai.."


"Rakyat hanya ingin hidup tentram dan sejahtera, bukan kehidupan yang penuh dengan saling pukul dan saling bunuh.."


"Jadi memang sudah tiba saatnya, bagi kami yang sehari hari hidup dalam kekerasan,.."


"Orang orang kasar dunia persilatan seperti kami ini, yang setiap hari nya selalu hidup diujung pedang dan golok.."


"Untuk kembali ke dunia kamu sendiri.."


"Untuk itulah hari ini, aku datang menghadap Yang Mulia untuk mengembalikan ini semua kembali ke asalnya..."


Ucap Nan Thian tegas.


Sembari dia meletakkan semua plakat tanda jasa, maupun wewenang kekuasaan militer, hingga stempel kebesaran.


Semua yang pernah di terima nya dari kaisar Hong Wu, satu persatu dia kembalikan, dengan di letakkan berjejer diatas meja.


Hong Wu yang sebenarnya dari awal sudah menebak maksud kedatangan Nan Thian.


Dia tidak kaget dengan ucapan dan sikap Nan Thian yang jujur polos dan tegas.


Hong Wu juga sadar dia tidak mungkin bisa selamanya menahan orang orang seperti Nan Thian untuk terus mengabdi padanya.


Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya berkata,


"Baiklah aku menerima pengunduran diri mu Ping An Wang.."


"Tapi itu bukan berarti seperti yang kamu bilang, bahwa diri mu orang kasar.."


"Negara sudah tenang, tenaga mu tidak di butuhkan lagi.."


"Tidak bukan itu alasannya.."


"Alasan aku menerimanya, lebih karena aku menghargai keinginan mu untuk hidup bebas.."


"Aku menghargai perjanjian awal kita, asalkan penjajah Mongolia berhasil di usir dari tanah air kita.."


"Kapan pun kamu ingin pergi, aku harus melepaskan mu pergi, meski hal itu berat bagi ku..'

__ADS_1


Ucap Hong Wu penuh perasaan.


__ADS_2