
Tidak tahu berapa lama terguling diam di atas tanah.
Jari tangan Nan Thian, akhirnya mulai bisa bergerak sedikit demi sedikit.
Perlahan-lahan sepasang pelupuk mata Nan Thian juga mulai bergerak gerak, sebelum akhirnya sepasang mata Nan Thian kembali bisa terbuka .
Tapi seiring dengan sepasang mata Nan Thian bisa kembali terbuka.
Nan Thian tiba tiba merasa seluruh tubuhnya terserang hawa panas yang sangat hebat.
Hingga dia secara reflek meronta ronta bergulingan kesana kemari, sambil berusaha menarik narik bajunya sendiri hingga robek robek.
"Arggggghhh..!"
"Panas...!"
"Panas...!"
"Ahhh... panas sekali...ampun...!'
Teriak Nan Thian sambil terus merobek pakaian nya sendiri, dan tiada henti berguling kesana kemari.
Seluruh wajah hingga tubuhnya terlihat merah membara, seperti sepotong bara yang sedang terbakar.
Dari ubun ubun kepalanya, di titik Pai Hui Xue terlihat asap putih mengepul keatas.
Nan Thian terlihat sangat tersiksa, dia merasa seluruh tubuhnya di penuhi hawa panas luar biasa, yang ingin meledakkan tubuhnya.
Segala upaya, di gunakan oleh Nan Thian, untuk menekan gejolak tenaga liar di dalam tubuhnya.
Tapi semuanya nihil, Ih Jin Jing sudah dia pergunakan, energi panca warna juga sudah dia kerahkan.
Begitupula dengan tehnik pengendalian kekuatan alam jagad raya, Nan Thian juga sudah melakukan nya.
Sambil terus memaksakan diri nya agar bisa tetap duduk bersila, tapi dia tetap selalu terguling, lalu bergulingan kesana kemari.
Saat Nan Thian sudah pasrah, ingin membiarkan tubuhnya meledak, mengakhiri hidupnya.
Tiba tiba hawa panas di tubuhnya mereda, keadaan perlahan-lahan membalik ke titik normal.
Nan Thian terkapar diatas lantai dengan nafas kembang kempis hampir putus .
Tapi sayangnya kenyamanan itu tersendiri, hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Kini rasa menyiksa mulai kembali menyerang, berbeda dengan keadaan sebelumnya telah merasakan panas hebat.
Kini Nan Thian justru mengalami kedinginan hebat, hingga gigi dan gigi beradu, menimbulkan suara gemerutukkan.
"Arrggghhh..!"
"Ssshhh,...dingin...dingin...!"
"Ssshhh,...dingin...dingin...!"
Keluh Nan Thian sambil meringkuk seperti udang kering, dengan seluruh tubuh terlihat gemetaran.
__ADS_1
Perlahan lahan tubuh Nan Thian berubah biru, kemudian muncul kabut tipis dari ubun ubun kepalanya.
Dari seluruh tubuh Nan Thian perlahan-lahan juga ikut muncul, lapisan kabut es tipis mulai menyelimuti seluruh tubuhnya nya.
Nan Thian sampai tidak bisa berbicara, selain terus berdesis menahan rasa dingin yang semakin hebat menyerangnya.
Semua ini terjadi akibat Nan Thian over menggunakan kekuatan batu panca warna, untuk menghadapi musuh berat yang tiada putus.
Hal ini membuat kekuatan batu panca warna yang bertindak sebagai penyeimbang kedua kekuatan raksasa Api dan Es surgawi kini meredup kekuatannya.
Hal ini segera memicu kedua kekuatan itu mengamuk, di dalam tubuh Nan Thian , saling berkelahi sendiri didalam sana.
Nan Thian jadi seperti orang yang mengalami tersesat latihan.
Kondisinya sedang berada di titik kritis.
Setelah beberapa waktu berlalu, keadaan kembali berubah.
Nan Thian kembali merasakan kepanasan hebat.
Situasi ini terus berlangsung semakin lama semakin cepat, proses perubahan dari dingin menjadi panas, panas menjadi dingin.
Tubuhnya Nan Thian mengalami perubahan yang memancarkan cahaya biru dan merah silih berganti.
Bila bisa pingsan tentu itu jauh lebih baik, sayangnya Nan Thian tidak bisa mengalami hal itu.
Dia masih tetap terjaga, meski sudah setengah mati, mengalami siksaan panas dingin, yang sangat menyiksanya.
Hal ini karena Nan Thian sudah mencapai tahap kesempurnaan dalam pelatihan nya.
Sehingga Nan Thian sulit mati ataupun pingsan.
Pada puncaknya sebelah tubuh Nan Thian sisi kiri mengalami pembekuan, di selimuti oleh es tipis.
Sedangkan di sisi sebelah kanan Nan Thian di selimuti oleh api merah yang menjilat jilat ke udara.
"Arggghhh...!"
Nan Thian berteriak keras dan mengalami kejang kejang hebat di atas tanah .
Keadaan itu terus berlangsung hingga akhirnya matahari mulai kembali menyingsing di luar gua sana.
Suara bunyi kicau burung di depan Gua mulai terdengar.
Tapi Nan Thian yang berada di dalam Gua sana, yang terletak di balik air terjun, dia sama sekali tidak bisa mendengarnya .
Dia hanya terbaring diam, tergeletak di atas lantai, tidak lagi mampu bergerak.
Nan Thian terlihat seperti orang mati, tapi sepasang matanya masih terbuka lebar.
Dada dan perutnya masih bergerak naik turun, meski hanya sesekali dan terlihat sangat lemah.
Ini semua menandakan Nan Thian belum mati, dia hanya terlalu lemah untuk bisa sekedar bergerak.
Tubuh Nan Thian belum alami perubahan, Api membara masih menyelimuti tubuh bagian kanan.
__ADS_1
Sedangkan Es membeku, menyelimuti tubuh sebelah kiri.
Nan Thian sudah tidak mampu mengeluh, dia hanya berbaring diam seperti sebuah arca hidup.
Hingga akhirnya cahaya panca warna mulai bersinar dari bagian tengah dada nya.
Kemudian menyebar luas, menutupi seluruh tubuhnya.
Setelah beberapa waktu berlalu, cahaya panca warna itu semakin lama semakin pekat memancar dari seluruh tubuh Nan Thian .
Api dan Es yang menyelimuti kedua sisi kanan kiri Nan Thian sudah padam, tidak terlihat lagi.
Seluruh tubuh Nan Thian mulai kembali normal, termasuk nafasnya kini mulai kembali teratur.
Nan Thian yang merasa kekuatannya mulai pulih dan kembali normal.
Dengan penuh rasa syukur, dia menghembuskan nafas lega, kemudian Nan Thian mencoba untuk bangkit duduk.
Agar bisa lebih sempurna, mengontrol tiga hawa sakti di dalam tubuhnya, untuk di satukan kembali.
Baru dia simpan lagi kedalam Dan Thian nya.
Setelah merasakan seluruh tubuhnya kembali terasa normal, Nan Thian baru mencoba untuk bangkit berdiri.
Lalu dia memainkan jurus jurus dasar tapak pemecah karang dan Qing Hai Quan Fa, Tinju sekte Qing Hai.
Setelah merasakan semua kembali normal, Nan Thian pun menghembuskan nafas lega.
"Akhhhhh sungguh berbahaya hampir saja.."
Batin Nan Thian dalam hati.
Tapi baru saja Nan Thian sedikit merasa lega, tiba tiba dari depan Gua terdengar sebuah suara berat berkata,
"Bocah busuk, aku tahu kamu di dalam sana..!"
"Cepat keluar,..! Jangan bersembunyi saja seperti seekor kura kura pengecut..!"
"Aku hutang sampai tiga, bila tidak juga keluar dari dalam sana..!"
"Jangan salahkan aku, bila pintu Gua ini aku ledakkan, kamu akan terkubur hidup hidup di dalam sana..!'
"Satu....!"
"Dua...!"
Di luar sana mulai berhitung.
Sedangkan di dalam gua sendiri, dari suaranya, Nan Thian bisa langsung mengenalinya, itu adalah suara Padri Setan Samsara.
Nan Thian tidak berani ambil resiko tidak keluar menemuinya.
Bila Padri Setan itu kehabisan kesabaran nya, dia benar benar melaksanakan ancaman nya.
Nan Thian bisa konyol terkurung di dalam Gua, bila mulut Gua benar di ledakan oleh Samsara.
__ADS_1
Sehingga belum selesai hitungan ketiga, Nan Thian sudah keluar dari dalam Gua mendarat ringan di hadapan Samsara .