
Petugas arena pertama sebelumnya telah tewas di tangan Sun Heng dari lembah hantu.
Kini posisi Petugas Arena pertama yang kosong, di gantikan oleh petugas sebelumnya yang di gantikan oleh rekannya untuk beristirahat.
Tapi karena rekannya tewas di tangan Sun Heng.
Dia kini kembali maju sebagai Petugas Arena Pertama.
Petugas Arena Pertama menjura penuh hormat kearah biksu Khong Sim He Shang .
Lalu dia segera membentak keras,
"Lihat serangan..!"
Tubuhnya kini meluncur deras kedepan dengan sepasang tangan di selimuti oleh cahaya kuning terang.
Tapak pertama meluncur cepat menyerang kearah wajah Khong Sim He Shang .
Sedangkan tapak kedua dia simpan, simpan menunggu reaksi Khong Sim He Shang .
Tapak kedua bisa berfungsi sebagai pertahanan juga sebagai serangan susulan.
Semua berkembang sesuai dengan situasi, tidak ada yang baku.
Khong Sim He Shang yang melihat serangan datang menyerang.
Dia segera memasang kuda kuda, kemudian dia membalas serangan itu dengan tinju khas Shaolin, Tinju 18 Arahat.
Sebuah tinju pukulan keras dengan angin menderu deru menyertai pukulan nya, melesat menyambut serangan dari Petugas Arena Pertama .
"Booommm,..!
Tapak dan tinju bertemu di udara, menimbulkan suara ledakan yang menggetarkan seluruh arena.
Dalam benturan tersebut Petugas Arena Pertama berhasil di buat terpental mundur kebelakang.
Sedangkan Khong Sim He Shang , dia tetap berdiri tegak diam tak bergeming kokoh bagaikan karang.
Hanya jubah longgarnya saja yang berkibaran di udara .
"Omitofho..!"
Ucap Khong Sim He Shang dengan sepasang tangan di rangkapkan di depan dada.
Dia pergi memberikan serangan susulan, melainkan berdiri diam menunggu.
Petugas Arena Pertama setelah berhasil menenangkan guncangan pertemuan serangan pertama nya tadi.
Dia kembali bergerak maju dengan jurus yang lebih dahsyat lagi.
Tubuhnya kembali melesat kedepan, di awali dengan tiga buah tendangan yang menimbulkan suara angin berkesiur keras dan cahaya kuning mengikuti tendangan tersebut.
Petugas Arena Pertama memberikan serangan ke lutut, perut dan dada Khong Sim He Shang .
Khong Sim He Shang dengan tenang menggunakan sepasang telapak tangannya, untuk menangkis satu persatu serangan tendangan tersebut.
Ketiga tendangannya semuanya berhasil di patahkan oleh Khong Sim He Shang dengan tangkisan kuat kedua tangannya yang seperti baja emas kuatnya.
__ADS_1
Petugas Arena Pertama menutup serangan, dengan sebuah tendangan keras dari kakinya yang lain diarahkan ke dagu Khong Sim He Shang .
Lagi lagi Khong Sim He Shang berhasil menggunakan lengannya yang keras untuk menangkis serangan Petugas Arena Pertama .
Terjadi benturan keras lawan keras, antara tulang lengan dengan tulang kering kaki Petugas Arena Pertama .
Empat serangan Petugas Arena Pertama berhasil di kandaskan, dia terlihat mundur dengan kaki terpincang pincang.
Petugas Arena Pertama berusaha menghilangkan rasa nyeri kiut miut di tulang keringnya.
Setelah merasa jauh lebih baik, dia baru kembali menyerang dengan sepasang telapak tangannya.
Tubuh Petugas Arena Pertama menghilang dalam bayangan kuning.
Saat berhadapan dengan Khong Sim He Shang, dia baru muncul dengan sepasang telapak tangan mengeluarkan cahaya emas di dorongkan kearah Khong Sim He Shang .
Khong Sim He Shang langsung menyambut serangan Petugas Arena Pertama arena pertama.
Dengan membuat energi pusaran, yang membuat tubuh Petugas Arena Pertama berputar putar di udara, mengikuti pergerakan sepasang tangan Khong Sim He Shang .
Sambil memutar mutar kedua tangannya, Khong Sim He Shang bergerak mundur beberapa langkah kebelakang.
Sebelum kemudian, dia maju menyarangkan sepasang tinjunya sambil berteriak,
"Tinju Arahat penakluk harimau..!"
"Pergilah..!"
"Desss ..!"
Tubuh Petugas Arena Pertama terpental melayang mundur kebelakang bagaikan layang layang putus.
Dia pasti sudah jatuh terbanting keatas lantai.
Petugas Arena Pertama begitu berhasil mendarat dengan baik.
Dia segera menjura kearah Khong Sim He Shang dan berkata,
"Terimakasih ketua, anda telah bermurah hati.."
"Saya Qin Cung mengaku kalah..."
Khong Sim He Shang tersenyum dan berkata,
"Kalah menang itu biasa, tak ada yang perlu di banggakan.."
"Mengalahkan orang lain, lebih baik mengalahkan diri sendiri ."
"Omitofho..!"
Ucap Khong Sim He Shang sambil menjura dan memberi hormat.
Petugas Arena Pertama segera membalas menjura dan berkata,
"Silahkan ketua,.. anda bisa melanjutkan ke babak berikutnya.."
Khong Sim He Shang mengangguk, pelan. Lalu dia langsung melayang ringan menuju arena tengah, di mana Siangkoan Li sudah menanti kedatangannya sambil tersenyum lebar,
__ADS_1
"Ketua perguruan poros besar dunia persilatan memang beda.."
"Salut salut.."
"Mohon biksu tidak pelit memberi pengajaran ke saya.."
"Ayo kita mulai saja langsung.."
Ucap Petugas Arena Tengah bersemangat.
Khong Sim He Shang mengangguk dan berkata,
"Silahkan saja tuan Siangkoan..saya sudah siap.."
Siangkoan Li mengangguk paham, lalu dia mulai bergerak dengan memutar mutar pecut di tangan nya.
"Cetar..! Cetar..! Cetar..!"
Suara pecut meledak ledak di udara sambil berputaran cepat.
Sebelum akhirnya meluncur deras menyerang batok kepala Khong Sim He Shang yang gundul.
Seperti seekor ular hitam ganas yang mengincar mangsa di bawah sana.
Khong Sim He Shang bersikap tenang, dia menggerakkan sepasang tangannya melepaskan pukulan udara kosong menghalau ujung cambuk yang mengincar kepalanya.
Ujung cambuk yang tertolak mundur, kini berbalik mencoba untuk melilit leher Khong Sim He Shang .
Khong Sim He Shang menggeser kakinya mundur kebelakang, menghindari serangan cambuk yang ingin menjerat lehernya.
Tapi ujung cambuk itu terus bergerak cepat mengejarnya.
Khong Sim He Shang menundukkan kepalanya kebawah, cambuk kini bergerak ingin menjerat kaki Khong Sim He Shang .
Khong Sim He Shang lagi lagi bergerak mundur, tapi cambuk itu sungguh luar sangat gesit dan berbahaya.
Dia kini melejit ingin menangkap pinggang Khong Sim He Shang, melihat hal ini.
Khong Sim He Shang yang tidak mau terus menerus di kejar, dia ingin menghentikan serangan cambuk itu.
Dia sengaja membiarkan cambuk melilit lengan tangan nya.
Saat ujung cambuk melilit lengan nya.
Khong Sim He Shang justru menggunakan ilmu cakar naga dari Shaolin untuk mencengkram erat cambuk yang melilit di lengannya.
Setelah itu dengan satu kali sentak, dia membuat cambuk di tangan Siangkoan Li memegang di udara.
Cambuk berhasil di hentikan pergerakannya, kini hanya Siangkoan Li dan Khong Sim He Shang saling tarik menarik.
Mereka tidak ada yang mau kalah saling mengerahkan tenaga dalam saling membetot cambuk yang berada di tangan mereka masing masing.
Sedikit demi sedikit Siangkoan Li mulai terseret maju oleh kekuatan Khong Sim He Shang yang luar biasa kuat.
Saat jarak mereka berdua semakin dekat, Khong Sim He Shang melakukan sentakan kuat.
Sehingga tubuh Siangkoan Li tersentak terbang maju kearah nya.
__ADS_1
Begitu tubuh Siangkoan Li tersentak terbang mendekat, Khong Sim He Shang langsung melepaskan pukulan udara kosong dengan tangannya yang lain kearah Siangkoan Li .
Dengan cara ini, Khong Sim He Shang berhasil memenangkan kontrol atas adu tarik menarik itu.