PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
BUKAN TARGET


__ADS_3

Nan Thian diam diam merasa kagum dengan keuletan ilmu yang kakek itu miliki.


Benar benar sebuah ilmu pertahanan diri yang sangat luar biasa, batin Nan Thian .


Nan Thian langsung bersiap siap dengan jurus terakhir nya.


"Senior berhati hatilah..!"


Ucap Nan Thian mengingatkan.


Nan Thian sudah melesat lagi keangkasa, diatas sana, dia siap melepaskan ilmu pedang Tiada awal tiada akhir.


Begitu Nan Thian menghimpun energi, bersiap mengeluarkan jurus tersebut.


Cuaca yang tadinya baik baik saja, tiba tiba berubah, awan hitam bergulung gulung terlihat bergerak cepat menghampiri tempat itu.


Bumi gempa, langit merekah, Angin badai hujan lebat, di sertai dengan petir sambar menyambar segera memenuhi seluruh area seluas 2 Li.


Nan Thian yang melayang di angkasa sana, seolah olah sedang menerima kekuatan alam semesta yang tiada habisnya.


Sebelum dia melepaskan Tebasan Pedang yang mengeluarkan cahaya pelangi.


Membentuk sebatang pedang energi Panca Warna yang mengeluarkan aura intimidasi.


Seolah olah membuat waktu sesaat berhenti bergerak.


Target yang di tuju, terkunci di bawah sana tidak mampu bergerak,


Hanya Nan Thian dan energi pedangnya yang bisa bergerak dengan bebas.


Kakek tua itu yang menyadari bahaya, tapi tidak bisa menghindar dengan ilmu Safi angin nya


Dia terpaksa, membentuk sebuah bola cahaya kuning, untuk di dorongkan kedepan menyambut datangnya Energi pedang panca warna dari Nan Thian .


"Boooommm...!"


Terjadi ledakan dahsyat, saat dua energi raksasa bertemu di udara.


Kakek itu terpental mundur belasan meter kebelakang, dari mulutnya terlihat menyemburkan darah.


Wajahnya terlihat sepucat kertas, kakek itu jelas telah terluka dengan cukup parah.


Nan Thian yang khawatir kakek itu, dalam waktu singkat bisa kembali memulihkan diri seperti sebelumnya.


Nan Thian langsung menghilang dari posisinya, dia bergerak cepat muncul di hadapan kakek itu memberikan tusukan pedang cepat terarah ke leher kakek itu.


Kakek itu dengan tangan kosong, menyambut datangnya serangan pedang Nan Thian .


Di menepis pedang Nan Thian dari samping yang terarah ke badan pedang.


"Trangggg..!"


Pedang pun di buat terpental dan berbelok arah, dia langsung membalas dengan pukulan tinju merahnya, Lebur Saketi.


mengarah ke dada Nan Thian .


"Blaaarrrr..!"


Pukulannya meledakkan tanah, Nan Thian sudah tidak berada di sana.

__ADS_1


Nan Thian sudah muncul di tempat lain, tepat dari bagian samping tangan kanannya yang sedang melepaskan pukulan.


Dari sisi samping, Nan Thian kembali memberikan tusukan pedang kilat.


"Sraaat...!"


Serangan Nan Thian merobek baju kulit dan daging kakek itu.


Tapi belum berhasil tepat sasaran.


Kakek itu kembali melepaskan tinjunya kearah wajah Nan Thian, di saat hampir bersamaan dengan luka di dada yang dia terima dari Nan Thian .


"Wutttt...!"


"Blaaarrrr..!"


Lagi lagi pukulan nya, kalah cepat.


Pukulannya hanya mengenai tempat kosong.


Nan Thian lagi lagi sudah berpindah ke posisi bawah, melepaskan tusukan pedang nya dari bawah keatas.


Kakek tua sempat melepaskan energi pelindung.


Tapi tetap tidak berhasil menahan serangan Nan Thian .


"Creeebbb...!"


"Sraaat...!"


Kini giliran perut kakek itu yang tertikam pedang Panca Warna, darah menyembur deras bagaikan keran bocor.


Kakek yang terluka itu melepaskan dua tinju merahnya, melesat kearah Nan Thian yang berada di posisi di bawah sana.


"Blaaarrrr...!"


Tapi lagi lagi hanya pasir dan tanah yang berhamburan ke udara.


Nan Thian tidak berada di sana, Nan Thian sudah muncul di belakang kakek itu dengan ujung pedang menempel di tengkuk leher kakek itu.


Sedikit saja Nan Thian menekan kakek itu pasti akan tewas seketika.


Kakek itu tersenyum pahit, Dia menatap kearah Yese Bu Hua dan berkata.


"Tuan putri seperti yang kamu lihat, aku sudah berusaha maksimal.."


"Tapi aku bukan lawannya."


"Harap tuan putri mau berbelas kasih, membantu orang tua ini, mintakan ampun ke Kubilai Khan kakak mu.."


"Agar bersedia melepaskan kedua murid ku, yang tidak mengerti apa-apa itu.."


"Tolong biarkan mereka berdua bisa kembali ke negeri kami.."


Yese Bu Hua yang berhasil memisahkan diri dari kejaran serangan Zi Zi.


Dia yang berotak cerdas tahu situasi.


Jagoan andalannya sudah kalah, bila dia tidak juga cepat membawa pasukannya meninggalkan Kai Feng.

__ADS_1


Takutnya hari ini, tempat ini, akan menjadi perkuburan masal bagi dirinya dan pasukannya.


Yese Bu Hua berkata,


"Aku akan berusaha, tapi aku tidak berani janji.."


"Lagipula setelah kamu kalah, apa kamu pikir mereka berdua akan Sudi melepaskan kami pergi..?"


Ucap Yese Bu Hua sangsi.


"Untuk itu tuan putri tidak perlu khawatir, yang tua ini ada akalnya.."


Jawab kakek tua itu cepat, dengan menggunakan pesan suara.


Setelah itu dengan menggerakkan lehernya menunduk kebawah, lalu tubuh membungkuk dan melakukan gerakan berputar setengah lingkaran.


Tusukan pedang Nan Thian langsung menemui tempat kosong, kalah cepat dengan pergerakan dadakan kakek itu melepaskan diri.


Sekaligus dia melepaskan dua dorongan tapak petir menyambar kearah Nan Thian ..


"Wuttttttt...?"


"BLazzzz...!"


Nan Thian yang tidak menyangka kakek itu masih memiliki pergerakan selicin itu.


Dia terpaksa menggunakan pedang.nya, untuk di lintangkan menyambut pukulan dahsyat tersebut.


"Boooommm...!"


Nan Thian terpental mundur beberapa meter kebelakang, sebelum dia sempat memperbaiki posisinya.


Kakek itu kembali sudah datang mencecarnya dengan serangan tapak petir silih berganti.


Memaksa Nan Thian mundur menjauhi Yese Bu Hua dan bawahannya.


Yese Bu Hua yang melihat ada peluang, di mana kakek itu berusaha menahan Nan Thian, dengan mengorbankan diri nya sendiri.


Yese Bu Hua tanpa berpikir dua kali, dia segera memimpin pasukannya, bergerak cepat meninggalkan lokasi pertempuran.


Nan Thian dan kakek itu terlibat saling serang dalam jarak dekat, yang berlangsung sangat cepat.


Hingga sulit diikuti pandangan mata, hanya terlihat dua bayangan berkelebat kesana kemari.


Menimbulkan ledakan di sekitar area tempat mereka bertarung sengit.


Meski luka di seluruh tubuh kakek itu semakin banyak, hingga dia kesulitan meregenerasi luka luka, yang di terima nya dari Pedang Panca Warna Nan Thian .


Kakek itu tetap bertahan, pantang menyerah, dia terus membuat Nan Thian sibuk, dengan pukulan pukulan kerasnya, yang masih stabil, meski sudah terluka di sana sini.


Kakek itu sambil melayani Nan Thian dia mengawasi kepergian Yese Bu Hua dan rombongan pasukan Jendral Yo Ku.


Begitu mereka tidak lagi terlihat, kakek itu baru menggunakan ilmu menghilangnya.


Melarikan diri dari tempat tersebut.


Nan Thian bisa saja mencegat dan membunuh kakek itu, tapi dia sengaja tidak melakukan nya


Karena sebenarnya kakek itu bukanlah targetnya, targetnya adalah rombongan Yese Bu Hua Yo Ku dan pasukannya.

__ADS_1


Setelah mereka semua meninggalkan Kai Feng, Nan Thian merasa tidak ada kepentingan mengejarnya.


__ADS_2