PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
MATA MATA ZHU YUAN ZHANG


__ADS_3

Nan Thian setelah menyiapkan suratnya, dia segera berkata,


"Zi er tolong buka kan jendela nya, lalu lepaskan penutup benda ini, dan arahkan ke langit.."


Zi Zi menerima tabung kecil dari Nan Thian dia mengamatinya sejenak.


Lalu tanpa banyak bertanya, dia segera pergi menjalankan permintaan suaminya.


Begitu tabung kecil itu di arahkan ke udara dan penutup nya di buka oleh Zi Zi.


"Suittt...!"


Terdengar bunyi nyaring, kembang api meluncur ke udara, kemudian meledak di atas sana.


Meski cuaca tidak sedang gelap, tetap saja cahaya terang warna warni di angkasa sana, bisa terlihat dengan jelas.


Zi Zi berdiri di tepi jendela, melihat sejenak kearah jalanan yang masih terlihat sepi, belum ada satupun toko yang buka.


Dia kemudian menoleh kearah Nan Thian dan berkata,


"Suami ku, ini jendelanya mau di tutup atau biarkan tetap terbuka..?'


Nan Thian tersenyum lembut dan berkata,


"Biarkan saja terbuka, istri ku kamu kalau lelah, pergilah berbaring duluan.."


"Biar aku yang menanti pelayan itu datang.."


"Nanti bila makanan dan air hangat sudah siap, aku akan membangunkan mu.."


Zi Zi mengangguk pelan, dia berjalan menghampiri suaminya, mencium lembut pipi suaminya dan berkata,


"Baiklah kalau begitu aku duluan.."


Nan Thian menanggapinya dengan anggukan kecil dan senyum lembut.


Setelah Zi Zi pergi istirahat, Nan Thian memilih duduk bersila diatas kursi, mencoba menggunakan tehnik pengendalian kekuatan alam semesta untuk memaksimalkan ketiga kekuatan yang sudah menyatu sepenuhnya di dalam tubuhnya.


Beberapa luka yang di alami Nan Thian dalam pertarungan melawan Samsara dan Empu Ranubhaya langsung mengalami regenerasi sel, sembuh dengan sangat cepat.


Selanjutnya Nan Thian fokus mengumpulkan Chi langit dan bumi untuk mengisi Dan Thian nya yang luas.


Tapi baru saja Nan Thian akan larut dalam latihannya, pendengarannya yang tajam, segera menangkap ada suara langkah kaki, sedang menghampiri kamarnya.


Nan Thian segera menghentikan latihannya, lalu turun dari kursi pergi membuka pintu.


Dua pelayan yang berdiri di depan pintu, terlihat kaget.


Karena mereka belum sempat mengetuk pintu, pintu sudah terbuka dari dalam .


Nan Thian yang muncul di sana, segera berkata,


"Masuklah, tapi tolong jangan terlalu berisik, istri ku sedang istirahat.."

__ADS_1


Kedua pelayan itu, mengangguk cepat, mereka satu membawa tong air panas, satu lagi membawa nampan berisi berbagai macam masakan pesanan dari kamar Nan Thian .


Kedua pelayan muda itu tanpa banyak bicara, mereka segera menyelesaikan pekerjaan mereka masing masing.


Setelah itu mereka segera pergi pamit permisi meninggalkan kamar Nan Thian.


Setelah kedua pelayan tersebut pergi, Zi Zi baru terlihat muncul dari bilik kamar tidur nya.


Sambil menguap Zi Zi berjalan menghampiri Nan Thian, dan berkata


"Suami ku, aku mau mandi dulu ya, kamu mau ikut..?"


Nan Thian menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum dia berkata,


"Kamu saja duluan, nanti bergantian saja.."


Zi Zi mengangguk dan berkata,


"Ya sudah aku duluan, tapi kalau nanti air panasnya jadi dingin jangan salahkan aku mandi kelamaan.."


Nan Thian hanya menanggapinya dengan senyum lembut, tidak mau banyak berbantah dengan istri kecilnya.


Air jadi es sekalipun bukan masalah buat Nan Thian, dia punya api dan es surgawi yang sudah menyatu di dalam tubuhnya.


Mau air hangat panas bahkan mendidih pun dia bisa membuatnya dengan mudah.


Nan Thian malah khawatir bila dia ikut mandi bersama Zi Zi, dia hanya akan menganggu istrinya menikmati mandi nya.


Hal itu tidak pernah berubah dari dulu ketika masih kecil, hingga kini jadi istrinya.


Kebiasaan itu masih tetap melekat.


Bagi Nan Thian yang penting istrinya bahagia, mau apapun dia tidak akan pernah melarangnya.


Sudah terlalu lama, dia membuat Zi Zi hidup dalam ketidak bahagian, jadi ini saatnya Nan Thian memenuhi kebahagiaan nya.


Sambil menunggu istrinya mandi, Nan Thian mengupas buah yang tersaji di atas meja, sebagai makanan penutup.


Setelah selesai, Zi Zi belum juga keluar, Nan Thian akhirnya memilih pergi melanjutkan meditasi penyerapan Chi langit dan bumi.


Nan Thian tidak sadar berapa lama dua bermeditasi, hingga kembali dia menangkap ada langkah kaki sedang menghampiri kamarnya.


Nan Thian segera pergi membuka pintu kamarnya.


Begitu pintu kamar terbuka.


Nan Thian segera melihat ada seorang pemuda berpakaian seperti seorang pemburu, berjalan dengan langkah terburu-buru menghampiri kamarnya.


Pemuda menggunakan jari nya memberikan kode rahasia.


Nan Thian pun membalasnya.


Melihat kode dari Nan Thian, pemuda itu segera menghampiri Nan Thian dan berkata pelan,

__ADS_1


"Salam hormat kami Yang Mulia Tai Ping Wang, maaf bila kami sedikit terlambat.."


Nan Thian mengangguk pelan dan berkata,


"Tak perlu sungkan, segera kirimkan surat ini ke Yang Mulia Zhu Yuan Zhang.."


Pemuda itu segera menerima surat yang tersegel rapat itu dengan hati hati.


Setelah itu, dia segera bersiaga menunggu instruksi selanjutnya dari Nan Thian


Nan Thian juga segera melanjutkan pesannya, saat dia melihat suratnya sudah di simpan dengan baik.


"Kamu juga segera sebarkan berita ke masyarakat, bahwa kota Kai Feng, kini sudah aman di bawah kekuasaan Yang Mulia Zhu Yuan Zhang.."


"Pasukan Yuan sudah di usir dari kota ini, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.."


"Minta mereka segera beraktivitas seperti biasa, tak perlu takut ataupun khawatir lagi.."


Pemuda itu mengangguk cepat dan berkata,


"Siap Yang Mulia, hamba akan segera melaksanakan nya."


"Apa masih ada hal lainnya yang mulia.."


Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Untuk sementara itu saja, bila ada masalah apa apa hubungi saja aku di sini.."


Pemuda itu mengangguk cepat, setelah itu dia segera mundur permisi dari hadapan Nan Thian .


Nan Thian pun menutup kembali pintu kamar dan berjalan menghampiri Zi Zi yang sudah terlihat selesai mandi berpakaian rapi.


Sedang menantikan dirinya untuk makan siang bersama sama.


Zi Zi sudah membantu menyiapkan nasi dan perlengkapan makan buat Nan Thian .


Dia bahkan sudah membantu mengisi mangkuk nasi Nan Thian dengan beberapa lauk kesukaan Nan Thian .


"Suami ku ayo kita makan, hari sudah siang.."


"Setelah itu, kamu baru pergi membersihkan diri.."


"Siapa barusan yang datang..?"


Tanya Zi Zi sambil mengambilkan sup buat Nan Thian .


Nan Thian sambil tersenyum lembut, dia ikut mengambil tempat duduk di sebelah istrinya dan berkata,


"Oh itu, dia adalah salah satu kepala mata mata Zhu Yuan Zhang, yang sengaja di tempat kan di kota ini, khusus untuk mengawasi semua gerak gerik pemerintah Yuan..."


"Ayo kita makan, nanti dingin kurang enak.."


Ucap Nan Thian sambil memulainya dengan minum sup usus Babi yang di bantu siapkan oleh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2