PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
Rencana Nan Thian


__ADS_3

Siao Lung berubah menjadi delapan orang, masing masing memberikan tebasan dalam waktu bersamaan dengan kekuatan sama dari delapan penjuru mata angin.


Nan Thian yang tidak mau melayani keras lawan keras, sekecil apapun celahnya.


Nan Thian tetap memilih menyelinap kesana kemari, bila tidak perlu dia tidak akan mau berbenturan langsung dengan Siao Hung .


Sambil melayani serangan Siao Hung, dengan menghindar kesana kemari.


Nan Thian kembali melepaskan totokkan jarak jauhnya menyerang Siao Hung .


Tapi serangan Nan Thian kandas, karena Siao Hung menggunakan perisai cangkang kura kura hijau untuk menahan serangan nya.


Semua serangan Nan Thian tertahan oleh perisai cangkang kura kura.


Tapi serangan lanjutan dari delapan Siao Hung, justru bertubi-tubi mendarat di sekujur tubuhnya, saat dia sedang melepaskan serangannya yang gagal mencapai sasaran.


Nan Thian segera di buat terpental kesana kemari dengan sekujur tubuh penuh luka berdarah.


Dalam satu serangan terakhir, di mana pedang terlihat ditusukkan dengan kecepatan luar biasa mengincar tenggorokan.


Nan Thian menyilangkan pedang di depan tenggorokannya, menggunakan badan pedang menahan serangan tusukan pedang Siao Hung .


Nan Thian memanfaatkan pertemuan benturan pedang itu, telapak tangannya menekan lantai, yang di selimuti es licin.


Sehingga tubuhnya meluncur mundur menjauhi Siao Hung sejauh mungkin.


Agar luka luka nya ada waktu untuk regenerasi.


Bila terus di kurung oleh delapan Siao Hung yang terus menebasnya tanpa henti.


Cepat lambat dia akan di buat menjadi daging cincang oleh Siao Hung .


Tapi Siao Hung tidak melepaskan begitu saja Nan Thian menjauh, dia segera bergerak meluncur cepat menyusul Nan Thian .


Dengan Tebasan dan tusukan pedang secara bertubi tubi dari segala arah.


"Trangggg..!"


"Tringgg..!"


"Trangggg..!"


"Tringgg..!"


"Trangggg..!"


"Tringgg..!"


Terdengar suara benturan pedang di sana sini, dengan bunga api berpijar di mana mana.


Tubuh Nan Thian yang belum sempat berdiri masih duduk di atas lapisan es beku juga terlihat pontang panting di hajar dari segala arah, oleh Siao Hung yang pergerakannya begitu cepat.

__ADS_1


Seolah olah tubuh nya bisa muncul menghilang sesuka hati.


Dalam satu kesempatan Siao Hung dari udara kembali melepaskan selaksa energi pedang es menyerang Nan Thian .


Nan Thian terlihat menjadi semakin sibuk bergerak menghindar kesana kemari dengan ilmu ringan tubuh dan langkah ajaibnya.


Tapi berhubung serangan energi pedang yang Siao Hung lepaskan terlalu banyak dan terlalu rapat.


Datangnya bagaikan hujan lebat, Nan Thian akhirnya tetap terkena serangan dari Siao Hung .


Berawal dari kaki kanannya terkena sambaran energi pedang Siao Hung, kaki kanan Nan Thian langsung membeku.


Segera di susul dengan anggota tubuh yang lain, dalam sekejab Nan Thian sudah di buat menjadi bongkahan es.


Siao Hung setelah membuat Nan Thian menjadi bongkahan es, dia segera bergerak mendekati Nan Thian.


Dia melakukan satu tebasan miring, untuk membelah patung es, yang membungkus seluruh tubuh Nan Thian terpotong menjadi dua.


Saat tebasan tiba terdengar suara ,


"Trangggg...!"


Pedang Panca Warna muncul menangkis kuat serangan Siao Hung .


Seluruh es yang membungkus tubuh Nan Thian telah di ledakan oleh energi api surgawi yang membungkus tubuh Nan Thian .


Selanjutnya Siao Hung dan Nan Thian segera berubah menjadi kabut es dan kobaran api yang saling serang, sambil terus berpindah pindah tempat


Tapi rencananya selalu di gagalkan oleh Siao Hung yang selalu menangkisnya sebelum serangan Nan Thian sampai ke sasaran.


Kondisi ini benar benar membuat Nan Thian merasa sangat kesal, karena Siao Hung terus melindungi kakek misterius itu, seperti sedang melindungi putranya sendiri.


Bahkan terkadang Siao Hung mengabaikan keselamatan nya sendiri, dia lebih memilih mencegah serangan Nan Thian mengenai kakek misterius itu, daripada menjaga keselamatan dirinya sendiri.


Merasa cara itu tidak akan berhasil, Nan Thian pun tidak mengulanginya lagi.


Dia merubah lagi strategi bertarungnya, dia sambil menghindar dan menangkis.


Dia terus memikirkan cara untuk menyadarkan Siao Hung tanpa harus ada pertumpahan darah seperti tempo hari.


Nan Thian setelah beberapa waktu bertempur melawan Siao Hung .


Nan Thian mendapatkan kenyataan, selama dia tidak mengeluarkan jurus andalan dari Wu Ming Lau Jen.


Siao Hung juga tidak mengeluarkan ilmu pamungkas itu untuk menyerang nya.


Karena ilmu Siao Hung yang itu pada dasarnya adalah ilmu untuk mengcounter semua jurus pedang tanpa nama..


Mungkin terkecuali ilmu pedang terakhirnya yang dia gunakan untuk membunuh ketiga pimpinan sekte.


Jurus lainnya adalah jurus counter attack.

__ADS_1


Untuk itu menghadapi serangan Siao Hung di pertarungan kedua ini.


Nan Thian lebih banyak menghindar daripada beradu keras lawan keras.


Nan Thian terus mengulur waktu, sambil terus berusaha menyadarkan Siao Hung. lewat panggilan panggilan nya di dekat telinga Siao Hung, di saat mereka sedang berhadapan dalam pertempuran jarak dekat.


Siao Hung yang terus menerus di panggil nama kecilnya secara berulang-ulang.


Sedikit demi sedikit dia mulai merespon, pergerakannya mulai kacau. dan semakin kacau.


Berulang kali serangannya yang sudah dia lepaskan dia tarik mundur atau dia hentikan di tengah jalan.


Siao Hung seperti sedang menghadapi pertentangan di dalam dirinya.


Sehingga pergerakan nya mulai kacau balau dan ngawur.


Tapi meski begitu, setiap serangannya masih tetap sangat berbahaya.


Nan Thian semakin mengurangi serangan nya, dia lebih banyak mengalah menghindar dan menangkis.


Hal ini agar Siao Hung tidak menaruh waspada pada dirinya, Siao Hung lebih percaya lagi.


Bahwa Nan Thian bukanlah musuhnya tapi Nan Thian adalah temannya.


Tapi kondisi Siao Hung tidak terlewat dari pengamatan si kakek misterius itu.


Melihat ada yang kurang beres pada Siao Hung , kakek itu segera ikut campur.


Dia mengeluarkan suara bentakan dan tatapan matanya yang penuh dengan pengaruh kuat.


"Siao Hung segera habisi dia..!"


"Jangan main main lagi..!"


"Jangan percaya dan hiraukan ucapannya..!"


"Bunuh dia cepat..!"


"Keluarkan ilmu pamungkas mu cepat..!"


Siao Hung terlihat ragu ragu, tapi akhirnya dia menghimpun juga kekuatan alam semesta bersiap melepaskan Tebasan pamungkas mengakhiri pertarungan panjangnya dengan Nan Thian .


Sepasang mata nya yang tadinya sinarnya mulai meredup, kini kembali menyala terang.


Ini hanya berarti kesadaran Siao Hung mulai hilang lagi.


Nan Thian yang melihat Siao Hung mulai tidak beres, dia buru-buru bergerak maju.


Nan Thian tidak mau berbenturan keras dalam ilmu pamungkas, itu akan jauh lebih berbahaya.


Sehingga dia memutuskan segera bertindak lebih dulu sebelum terlambat.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan keselamatan diri, Nan Thian membuat pergerakan Zig Zag mendekati Siao Hung secepatnya.


__ADS_2