PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
NASIB LI SUN


__ADS_3

Pagi itu, terlihat Wu Ming Ni Jen sedang sibuk membentuk sebuah garis formasi.


Menciptakan sebuah portal cahaya, untuk mengirim murid nya Siao Hung dan cucu muridnya Siao Lung, agar bisa kembali ke dunia diatas sana.


Wu Ming Ni Jen sambil menciptakan portal dimensi, dia juga tidak berhenti menerangkan satu persatu pola kerja dan cara membuatnya.


Hal ini dia lakukan agar, Siao Hung dan putranya kelak bisa kembali mengunjungi diri nya dan Fu Lao, bila mereka ingin kembali.


Siao Hung dan putranya mendengar dan menghafalkan semua nya dengan serius.


Setelah portal cahaya siap, Siao Hung dan putranya pun bergandengan tangan memasuki portal cahaya tersebut.


Sesaat kemudian mereka berdua pun lenyap bersamaan dengan portal cahaya yang di buat oleh Wu Ming Ni Jen.


Kini di tempat itu hanya tersisa Wu Ming Ni Jen dan Fu Lao.


Sesaat kemudian Wu Ming Ni Jen sambil menghela nafas panjang.


Dia melangkah kembali ke ranjang batu giok biru, yang menjadi tempat dia bermeditasi selama ini.


Wu Ming Ni Jen kembali melanjutkan meditasi nya.


Sedangkan Fu Lao dia memilih meninggalkan tempat itu.


Kembali lagi ke Goa dan dan kolam di dasar perut bumi, yang menjadi tempat pertemuan dirinya dengan Siao Hung dulu.


Sementara Siao Hung dan putranya sedang melakukan perjalanan kembali menuju dunia ramai.


Di suatu tempat yang sepi jauh dari keramaian, di sebuah pulau kosong yang tidak ada penghuninya.


Di bagian tengah pulau yang di isi oleh hutan belantara liar yang tidak pernah di jamah manusia.


Di bawah sebatang pohon bodhi yang sangat besar dan terlihat sangat tua.


Seorang pemuda yang seluruh tubuhnya memancarkan hawa hitam pekat.


Pemuda itu terlihat tidak bergeming, diam di sana, dengan sepasang alis berkerut.


10 senjata Buddha yang terbang melingkari tempat di mana dia duduk, juga terlihat memancarkan aura kegelapan.


10 senjata Buddha itu terlihat bergerak pelan berputaran di sekitar tubuh pemuda itu.


Pemuda itu terlihat berambut gondrong di biarkan terurai tidak terurus.


Wajahnya juga di penuhi jenggot dan kumis dan brewok kasar dan panjang.

__ADS_1


Sama seperti rambut di kepalanya, rambut di wajahnya juga sama tidak terurus sama sekali.


Di biarkan begitu saja, menutupi wajahnya yang aslinya masih muda dan sangat tampan.


Pemuda aneh itu, terlihat hanya memilki tangan kiri saja, tangan kanannya sebatas pangkal bahu, terlihat kosong.


Sesaat kemudian terjadi tenaga kejut, terlepas dari tubuh pemuda dengan satu lengan itu.


Tenaga kejut itu, membentuk lingkaran cincin hitam, yang bergerak menyebar kesegala penjuru.


Apapun yang di lewati oleh cahaya lingkaran hitam itu akan terbabat putus dan di ledakan tanpa sisa.


Pulau yang tadinya di penuhi oleh berbagai habitat burung, kini terlihat lenggang dan sepi.


Semua burung memilih berimigrasi, mencari habitat baru, meninggalkan tempat yang berubah menjadi mencekam.


Sejak pemuda lengan tunggal tersebut tiba dan mengambil posisi duduk diam bermeditasi di tempat itu.


Kini di tempat itu, hanya tersisa beberapa kelompok monyet kecil, yang memilih bersembunyi di balik reruntuhan stupa dan patung Buddha yang memenuhi tempat itu.


Hal itu terjadi, bukan karena kelompok monyet lebih berani dari kelompok burung.


Tapi mereka memilih tetap menetap di sana, karena mereka tidak punya pilihan lain.


Mereka tidak bisa terbang seperti kelompok burung burung itu, untuk mencari tempat hunian lain.


Makanya mereka hanya bisa memilih bertahan dengan berlindung di balik reruntuhan stupa itu.


Pohon yang menjadi habitat mereka kini sangat tidak aman, karena sering di robohkan oleh kekuatan hentakan cincin energi kegelapan pemuda itu.


Beberapa saat setelah terjadi hentakan cincin energi yang menghancurkan hampir sebagian besar pepohonan besar yang tumbuh di sekitar sana.


Kecuali pohon bodhi tua, dan sederet pohon buah yang tumbuh subur di dekatnya.


Hentakan energi kegelapan yang dahsyat itu segera mendatangkan gempa dan gelombang besar lautan datang menerjang pulau itu.


Seluruh pulau yang tersapu oleh gelombang tsunami, hanya pemuda itu, pohon bodhi tua, pohon pohon buah dan reruntuhan patung dan stupa itu yang selamat masih berada di tempat.


Lainnya tersapu bersih tanpa sisa,oleh gelombang tsunami air laut yang datang menyapu pulau itu.


termasuk kawanan monyet yang malang itu, mereka juga ikut tersapu bersih tanpa sisa, oleh gelombang tsunami yang datang menyapu pulau itu.


Sesaat setelah gelombang air tsunami sudah surut kembali, Pemuda itu terlihat terbatuk batuk.


Wajahnya terlihat pucat pasi, mulutnya menyemburkan darah segar yang cukup banyak.

__ADS_1


Pemuda itu ternyata sebelum terjadi hentakan energi dahsyat, yang di lepaskan dari tubuh nya dan menimbulkan kerusakan parah dan gelombang tsunami air laut.


Di dalam meditasi nya, ternyata dia sedang melakukan simulasi pertarungan ulang dengan seorang pemuda lain, yang membawa sebatang pedang panca warna di tangan.


Dalam simulasi pertarungan yang berlangsung sengit dan mendebarkan tersebut.


Akhirnya masing masing mengeluarkan kekuatan puncak mereka.


Kekuatan puncak dari pemuda di pulau ini, yang menimbulkan bencana buat sekelilingnya.


Meski kekuatan itu begitu dahsyat dan kuat, hingga menimbulkan efek bencana alam.


Tapi di dalam alam meditasi nya, dalam pertarungan simulasi itu, pemuda lengan tunggal, kembali mengalami kekalahan yang membuatnya terluka parah, oleh tenaganya sendiri yang membalik.


Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi sekali ini saja, sepanjang hampir selama 7 tahun dia berlatih di pulau terpencil ini.


Kejadian ini sudah berlangsung 7 kali, kali ini adalah yang paling fatal dan paling parah.


Pulau rusak, dirinya sendiri malah terluka parah, hingga seluruh syaraf dan pembuluh darah meridian di dalam tubuhnya pecah hancur semuanya.


Setelah memuntahkan darah segar berulang kali, pemuda yang seperti orang gila itu, akhirnya terguling di atas tanah.


Pemuda itu jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


Siang berganti malam malam berganti pagi, pemuda itu tetap tergeletak tidak sadarkan diri di tempat itu.


Sepuluh senjata Buddha terlihat tergeletak di sekelilingnya, kehilangan cahaya nya lagi.


Pemuda itu setelah tergeletak tiga hari tiga malam di tempat tersebut, tanpa makan ataupun minum.


Akhirnya di hari keempat pagi, dia baru mulai terlihat bisa bergerak.


Di mulai dengan ujung jari tangannya yang sedikit demi sedikit, bergerak gerak lemah.


Beberapa saat kemudian, baru menyusul sepasang kelopak matanya mulai bergerak gerak pelan.


Sesaat kemudian baru terdengar suara pelan dari bibirnya yang kering dan pecah pecah.


"Air...air...air..."


"Aku haus,..air.."


Langit yang tadinya cerah, perlahan-lahan mulai berubah gelap.


Sesaat kemudian hujan rintik rintik mulai turun, membasahi bumi.

__ADS_1


Semakin lama semakin lebat membasahi bumi, sekaligus membasahi wajah dan seluruh tubuh pemuda malang, yang sedang kehausan itu.


__ADS_2