
Yue Lin mengangkat tangannya keatas bersiap memberikan perintah, tapi dia belum menggerakkan nya.
Masih fokus memperhatikan pasukan pembukaan Zhang Shide, yang sedang melompat turun dari atas kapal.
Mereka sedang bergerak ke pinggir, dengan berjalan menembus air sungai, yang tingginya sepinggang orang dewasa.
Kapal besar tidak dapat merapat persis, karena bagian dasar kapal sudah kandas di sana.
Yue Lin terus fokus melihat kearah pergerakan pasukan kerajaan Zhou.
Dia sedang menunggu waktu yang tepat, untuk melepaskan serangan.
Seluruh komandan pasukan Ming, kini mereka sedang melihat kearah tangan Yue Lin.
Bersiap untuk melepaskan perintah.
Sedangkan seluruh pasukan kerajaan Ming, mereka menunggu perintah dari komandan regu mereka masing masing.
Saat melihat pasukan pembukaan kerajaan Zhou, mulai memasuki garis tepi pantai dan mulai berkumpul.
Yue Lin segera menggerakkan tangannya sambil berteriak,
"Tembak....!!"
Begitu perintah di lepaskan, para komandan regu dengan sigap segera memberikan instruksi ke masing masing regu mereka.
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"
Anak panah segera di lepaskan berhamburan memenuhi udara.
Kemudian membentuk garis melengkung, jatuh berhamburan kearah garis pantai seperti turunnya hujan.
Serangan yang mendadak ini, segera mengagetkan pasukan pembukaan kerajaan Zhou, yang berada di tepi garis pantai.
Tanah lembut bercampur lumpur di pinggiran sungai yang becek.
Seketika membuat mereka kesulitan bergerak menghindar ataupun mundur.
Mereka satu persatu, hanya bisa terpaku di sana. Sebelum akhirnya roboh terjerambab kedalam sungai, saat tubuh mereka tertembus anak panah.
Hujan anak panah memenuhi tepian sungai, ribuan pasukan kerajaan Zhou, yang sedang berada di tepi garis pantai.
Maupun mereka yang sedang berada di dalam sungai dangkal.
Semuanya roboh tertembus anak panah, yang datangnya bagaikan hujan turun dari langit.
Melihat kejadian tersebut, Zhang Shide segera memberikan instruksi agar pasukan tameng bergerak maju.
Pasukan Tameng mulai bergerak bersiap menuruni kapal, dengan tujuan, maju ke garis pantai. Untuk memberikan dukungan dan perlindungan bagi pasukan tombak dan panah yang terjebak di sana .
__ADS_1
Pasukan tameng yang di pimpin oleh masing masing komandan regu, mulai bergerak menuju tepian pantai.
Mereka berbaris rapi menuruni Titian papan kayu, yang mulai di turunkan menempel kearah pantai.
Sehingga pasukan tameng yang berseragam besi, bisa mendarat tanpa harus melompat kedalam air.
Sesaat kemudian pasukan tameng kerajaan Zhou, yang sudah mendarat.
Mereka mulai membuat blokade tameng, untuk menangkis serangan anak panah yang datang.
Pasukan pasukan tombak biasa, dan pasukan pemanah, mulai di terjunkan kembali kedalam air.
Bergerak menyusul kearah tepian pantai, di bawah perlindungan blokade pasukan tameng
Dengan cara ini, mereka sebagian besar mulai bisa bergerak ke tepi pantai, di bawah perlindungan pasukan Tameng.
Yue Lin diatas sana yang melihat, anak panah tidak lagi efektif.
Dia segera mengangkat kepalan tangan nya keatas dan berteriak,
"Tahan...!"
"Pasukan tengah bersiap...!"
Teriak Yue Lin memberi aba aba.
Sesaat kemudian dia kembali berteriak,
"Maju...! Maju...! Maju...!"
Sambil berteriak, Yue Lin sudah memacu kudanya, menuruni bukit , bertindak sebagai pembuka jalan.
Kedatangan pasukan Yue Lin, yang datang dari atas bukit, di iringi munculnya cahaya matahari pagi, yang menyilaukan mata
Membuat pasukan kerajaan Zhou di bawah sana, sulit menebak.
Sebenarnya berapa banyak, jumlah pasukan, yang mengikuti Yue Lin menuruni bukit.
Pasukan tameng dan pasukan tombak kerajaan Zhou, hanya bisa bergerak secara membuta, maju menyambut serangan musuh yang tidak terlihat jelas.
Karena mata mereka silau oleh cahaya matahari pagi, yang muncul dari balik bukit.
"Brakkkk..! Trangggg..,! Tringgg..!"
"Tunggg...! Brakkkk..! Desss..!"
"Dukkkk...! Blukkkk..! Crebbb...!
"Crasss,..! Crackkk..! Cuittt..!"
"Brakkkk..! Trangggg..,! Tringgg..!"
"Tunggg...! Brakkkk..! Desss..!"
"Dukkkk...! Blukkkk..! Crebbb...!
"Crasss,..! Crackkk..! Cuittt..!"
__ADS_1
Suara hiruk pikuk benturan senjata tajam saling beradu, saling serang, saling membunuh.
Segera mewarnai tempat tersebut.
Jerit ngeri dan kesakitan, yang berasal dari pasukan yang terluka, dan tewas dari kedua belah pihak.
Segera ikut mewarnai suasana dan suara benturan senjata tajam, berisik disekitar area pertempuran.
Pasukan Kerajaan Zhou, yang kalah posisi, mereka ada di bagian bawah dan berpijak pada tanah lembut.
Di tambah lagi mereka terhalangi oleh sinar matahari yang menyilaukan mata.
Pasukan Zhou banyak berguguran, ketimbang pasukan kerajaan Ming.
Yue Lin di bagian terdepan juga terus mengamuk, dengan pukulan tapak naga Langit nya.
Bayangan Naga, berseliweran kemana mana, menabrak dan menghancurkan kerumunan pasukan kerajaan Zhou, yang berani menghadang pergerakannya.
Hal ini membuat pasukan kerajaan Zhou, semakin tertekan di bawah angin.
Tapi karena pasukan kerajaan Zhou, mendapatkan dukungan pasukan, yang sangat banyak dan seolah olah tiada habisnya.
Perlahan lahan, mereka mulai bisa bangkit. Untuk menekan balik kearah Yue Lin dan pasukannya.
Perlahan tapi pasti, Yue Lin dan pasukannya mulai tertekan balik, mereka mulai di paksa main mundur oleh pasukan Kerajaan Zhou, yang tiada habisnya.
Tang He dan Zhang Yu Chun yang mendapatkan kode dari Yue Lin.
Mereka segera memimpin pasukan merek,a bergerak menuruni bukit dari sisi kiri dan kanan.
Menjepit pasukan kerajaan Zhou yang sedang mendesak Yue Lin dan pasukannya.
Serangan dadakan ini kembali menghancurkan pasukan kerajaan Zhou, yang sedang tidak siap.
Mereka kembali di pukul mundur oleh pasukan kerajaan Ming.
Tapi di belakang mereka pasukan kerajaan Zhou, masih terus bergerak menuruni kapal seperti semut. Jumlah mereka sangat banyak.
Kondisi ini bila terus berlanjut, pasukan kerajaan Ming, cepat lambat akan berada dalam bahaya.
Nan Thian dan Kim Kim yang hadir di sana untuk mengamati situasi pertempuran.
Tidak bisa lagi berpangku tangan saja.
Mereka berdua terpaksa harus melesat kearah sungai, untuk mencoba mencegah pasukan bala bantuan itu mendarat di tepi sungai.
Nan Thian sambil melesat kesana kemari, dia melepaskan serangan tapak kiri, melancarkan serangan tapak api dan es surgawi .
Sedangkan pedang panca warna di tangan nya, melancarkan Tebasan Pedang Naga es Phoenix api.
Efek dari serangan Nan Thian segera terlihat, sebagian pasukan kerajaan Zhou, yang berada di sekitarnya, langsung hangus terbakar, sebagian lagi tewas menjadi patung es manusia beku.
Sedangkan di sisi lainnya Kim Kim yang berubah menjadi Naga Emas Raksasa, sambil terus melepaskan raungan nya .
Dia menabrak kesana kemari, menghabisi pasukan kerajaan Zhou, dengan sepasang cakar, kibasan ekor, hingga semburan api ganasnya.
Sekejap saja sudah banyak kapal yang terbakar, juga pasukan kerajaan Zhou, yang tewas di terjang sepasang cakar dan tanduk Kim Kim.
__ADS_1
Kehadiran Nan Thian bersama Naga emas, segera memunculkan keresahan dan ketakutan di pihak pasukan kerajaan Zhou.