
Hari ketiga, 500.0000 pasukan berkuda Mongolia, terlihat mulai berangkat meninggalkan Beijing.
Jendral Yo Ku dan YeSe Bu Hua berada di barisan terdepan, masing masing menunggangi dua ekor kuda besar khas Monggolia.
Di belakang mereka, mengikuti rombongan besar pasukan berkuda Mongolia.
Di bagian tengah tengah barisan terlihat ada dua kereta mewah yang masing masing di tarik oleh 4 ekor kuda.
Di kereta pertama tentu saja di tempati oleh Empu Jayabaya.
Sedangkan di kereta kedua di tempati oleh dua tamu agung dari Tibet.
Mereka berdua adalah guru dan paman guru Samsara.
Masing masing mengenakan jubah merah dengan topi kuning sebagai penutup kepala.
Guru Samsara bernama Ananta sedangkan kakak seperguruannya bernama Pindika.
Guru Samsara adalah seorang kakek tua, beralis putih dengan brewok putih menutupi seluruh wajahnya.
Sedangkan paman guru Samsara yang bernama Pindika, dia terlihat begitu tua dan ringkih.
Seluruh tubuhnya hanya kulit membungkus tulang. Jubah yang di kenakan nya jadi terlihat kedodoran untuk tubuhnya yang kurus kecil.
Mereka berdua sulit di tebak usianya, kemungkinan besar sudah diatas 100 tahun.
Mereka berdua berhasil di bujuk turun gunung, karena mereka di janjikan oleh Kubilai Khan.
Bila berhasil membantu nya, mengalahkan lawannya.
Kedepannya Tibet akan di serahkan ke kuil untuk di atur kehidupan masyarakatnya.
Kerajaan monggolia tidak akan ikut campur urusan negeri tahlukkan nya itu.
Istilahnya negeri itu di merdekakan oleh Kubilai Khan, kekuasaan disana di serahkan ke kuil untuk mengatur dan mengendalikannya.
Tawaran yang sangat menarik ini membuat dua diantara lima petinggi kuil memutuskan untuk turun gunung.
Mereka ini berasal dari aliran jubah merah yang lebih bisa menerima pembauran dengan keduniawian.
Mereka boleh minum arak, makan daging, pelihara rambut, bahkan bila mereka ingin, mereka tidak di larang berdekatan dengan wanita.
Rival dari aliran jubah merah adalah aliran jubah kuning, aliran jubah kuning memegang aturan ketat.
Tidak boleh minum arak, makan makanan bernyawa, harus gunduli kepala, tidak boleh berkeluarga, menikah apalagi berzinah.
Semua itu adalah pantangan utama, melanggarnya akan terusir dari aliran mereka.
Aliran jubah kuning ini, adalah aliran nya guru guru Li Sun.
Meski berbeda pandangan, tapi kedua aliran jarang terjadi kerubutan.
Aliran jubah kuning tidak suka ribut dan mencampuri urusan duniawi.
Aliran jubah merah, menghargainya, tidak mau mengusik dan menghindari perseteruan.
Karena mereka tahu, aliran jubah kuning banyak memilki orang sakti, yang sulit mereka hadapi.
__ADS_1
Kedua kakek tua itu, tidak ada yang saling berbicara, mereka duduk bersila di dalam kereta, seperti dua patung arca, yang diam tidak bisa bergerak.
Suasana berbeda terlihat berbeda di ruangan kereta Empu Jayabaya, Kakek ompong itu terlihat sedang berbaring santai dalam pangkuan seorang gadis muda.
Sedangkan dua rekan gadis itu, yang satu bertugas menyuapi buah anggur, yang sudah di kupas, kedalam mulut Kakek ompong itu.
Sedangkan yang lainnya, memainkan alat musik untuk menghiburnya.
Kakek ompong itu terlihat sangat menikmati suasana tersebut.
Sepasang tangan nya, sering berkelayapan liar di tubuh kedua gadis yang bersamanya.
Baik gadis yang memangku kepalanya, dan gadis yang menyiapkan buah ke dalam mulutnya.
Mereka berdua seringkali terlihat meringis menahan sakit, akibat di tindas oleh tangan Empu gigi ompong secara kasar tanpa perasaan.
Sesekali bahkan mereka tidak bisa menahan airmata mereka yang jatuh menetes.
Tapi mereka tidak berani dan tidak berdaya menolak nya, mereka hanya bisa pasrah mengikuti kehendak kakek ompong itu.
Sementara rombongan besar itu sedang bergerak menuju Kai Feng.
Dikota Kai Feng sendiri terlihat Thian Yi, Kim Kim, Yue Lin, Zhu Ying Mei, dan putri mereka Le Le.
Mereka semua sedang berkumpul di kediaman baru Nan Thian.
Di sebuah ruangan perjamuan tamu yang luas, disana mereka semua berkumpul dan makan bersama Nan Thian dan istrinya Zi Zi.
Sambil makan minum, Kim Kim yang polos dan suka berbicara terus terang.
"Kakak mana adik Siao Hung,? kenapa aku dari tadi tidak melihatnya..?"
"Sebagai gantinya malah Zi Zi yang ada disini."
Selesai bertanya ke Nan Thian, belum puas Kim Kim langsung menyambung ke Zi Zi,
"Zi Zi bagaimana pula ceritanya kamu bisa muncul di sini..?"
"Padahal kami dulu mencari mu kemana mana tidak ketemu.."
"Turun kedasar laut, naik keangkasa, berputar putar kesana kemari, berhari hari di lautan luas, tetap saja tidak ketemu.."
"Si bodoh itu sampai berubah jadi kakek kakek begini.."
"Eh tahu tahu kamu kini nongol disini.."
"Ini sungguh bikin orang penasaran.."
"Kamu harus ceritakan dulu semua nya.."
Nan Thian dan Zi Zi saling pandang sejenak, Nan Thian pun berkata,
"Bagaimana kamu mau cerita, atau aku yang cerita..?"
Zi Zi tersenyum malu dan berkata,
"Kakak saja yang cerita, aku ikut menambahkannya saja.."
__ADS_1
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Begini, Siao Hung dan aku terpisah, saat aku menghadapi Samsara, Padri iblis yang menjadi tokoh andalan pihak Mongolia."
"Dalam pertempuran tersebut aku dan Siao Hung sama sama terjatuh ke sungai Yang Tze.."
"Aku terluka parah, lupa ingatan."
"Sedangkan Siao Hung dia hilang di telan arus sungai Yang Tze yang deras.."
"Mengenai Zi Zi dia berada di dalam perut ikan besar, saat kita mencarinya dulu.."
"Kemudian di tolong tokoh pulau es, setelah pulih keadaan nya.."
"Dia diantar oleh tokoh pulau es Bing Han untuk mencari ku.."
"Secara kebetulan kami bertemu, ingatan ku pulih, kemudian kami kemari untuk merebut kota ini.."
"Aku berhasil membunuh Samsara, dan mengalahkan seorang kakek aneh dari tanah Jawa.."
"Selanjutnya kalian pun sudah tahu lewat surat ku.."
"Begitulah ceritanya.."
Ucap Nan Thian sengaja menyingkat nyingkat nya.
Agar masalah pribadi rumit nya, antara diri nya, Siao Hung dan Zi Zi tidak di bahas terlalu jauh.
Dia tidak ingin masalah memalukan tersebut menjadi konsumsi publik.
Meski yang hadir di sana semuanya adalah saudara dan teman dekatnya.
Berbeda bila saat itu dia bersama Kim Kim atau bersama kakaknya Yue Lin.
Mereka berbicara empat mata, tentu dia akan menceritakan semua nya..
Sebagai pengalih pembicaraan, setelah dia menyelesaikan cerita singkatnya.
Kini giliran Nan Thian yang bertanya balik.
"Nah sekarang siapa diantara kalian bertiga, yang akan bercerita, tentang penahlukkan Su Zhou..?"
"Bagaimana bila kamu saja..?"
Ucap Nan Thian sengaja menunjuk Thian Yi yang dia tahu orang ini ilmu patungnya lebih parah dari dirinya.
Hal ini untuk memancing reaksi yang lainnya, sebagai pengalihan.
Tentu saja ucapan Nan Thian segera membuat Thian Yi gelagapan.
Meski usianya adalah yang paling tua, tapi dia sangat jarang bergaul.
Sehingga dia benar benar kurang pandai bersosialisasi.
"Aku...aku.. bagaimana ini mulainya..?"
Ucap Thian Yi gelagapan.
__ADS_1