PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
NASIB TENTARA MONGOLIA


__ADS_3

Melakukan perjalanan cepat, akhirnya Nan Thian mulai memasuki desa desa wilayah sekitar An Hui.


Desa desa yang tadinya subur dan makmur, kini terlihat di mana mana hanya terdengar suara ratap tangisan rakyat kecil.


Rumah rumah terbakar, sehabis di jarah di rampok, penduduk pria banyak yang tewas.


Sedangkan wanitanya banyak yang di perkosa di culik dan di bunuh secara kejam oleh tentara Mongolia.


Melihat ketidakadilan ini, terjadi di depan matanya. Selain merasa sangat marah.


Nan Thian juga merasa prihatin dan kasihan dengan nasib rakyat kecil, yang tidak tahu apa apa, tapi harus ikut menjadi korban keganasan perang.


Sedangkan Siao Hung dia sampai merasa mual dan beberapa kali harus muntah muntah melihat kejadian tragis, di depan matanya.


Bukan hanya orang dewasa saja yang menjadi korban, bahkan banyak anak kecil tak berdosa ikut menjadi korban.


Di beberapa tempat terlihat mayat anak kecil balita, hingga bayi yang masih kecil tewas bersimbah darah.


Pemandangan inilah yang membuat Siao Hung, tidak mampu menahan rasa mual di perutnya .


Sehingga langsung mengalami muntah muntah di sekitar lokasi.


Melihat hal ini, Nan Thian memilih mempercepat perjalanan melewati desa desa yang musnah di bumi hanguskan oleh pasukan Mongolia.


Setelah melewati belasan desa dengan kondisi yang hampir sama persis.


Di salah satu desa yang mulai mendekati kota An Hui.


Nan Thian akhirnya bertemu dengan rombongan pasukan Monggolia yang sedang melakukan tindakan perampokan, penjarahan, pembunuhan, penculikan, dan pemerkosaan.


Begitu memasuki desa, sebelum Nan Thian dan Siao Hung menghampiri mereka puluhan pasukan berkuda kerajaan monggolia langsung datang mengurung mereka berdua.


Sambil tertawa tawa, dan berbicara dalam bahasa yang tidak jelas.


Sambil terus menunjuk nunjuk kearah Siao Hung.


Hanya dengan melihat gaya mereka saja, sudah bisa di tebak mereka sedang berbicara kurang ajar.


Mereka sedang menarget Siao Hung yang jelita untuk menjadi sasaran nafsu bejat mereka.


Siao Hung dan Nan Thian sudah lama menyimpan rasa geram, tanpa banyak bicara langsung bergerak.


Siao Hung beraksi dengan pedang lentur yang di tarik dari pinggangnya yang langsing.


Dia langsung memainkan Tai Chi Cien Fa terbang menyerang para pengepung yang duduk diat punggung kuda mereka yang tinggi besar.


Suara riuh rendah dan benturan senjata segera terjadi.


"Tranggg...!"


"Sraaat..!"


Tranggg...!"


"Sraaat..!"

__ADS_1


Tranggg...!"


"Sraaat..!"


Tranggg...!"


"Sraaat..!"


Dalam 2 kali lompatan ringan, 2 dari 4 penunggang kuda, yang menjadi lawan Siao Hung, jatuh dari atas punggung kuda.


Tewas dengan leher hampir putus, sedangkan sisa dua yang lainnya.


Meski masih hidup dan masih duduk diatas punggung kuda, mereka masing masing kehilangan lengan mereka yang memegang golok panjang dan agak bengkok.


Mereka samb berteriak kesakitan, menunjuk nunjuk kearah Siao Hung, dengan bahasa yang hanya di pahami oleh rekan mereka sendiri.


Siao Hung menghadapi mereka dengan gagah berani, tidak terlihat sedikitpun rasa takut di wajahnya.


Menghadapi pengepungan pasukan Monggolia yang berwajah menyeramkan dengan jumlah yang semakin lama semakin banyak.


Di tempat lain, Nan Thian juga berkelebat kesana kemari dengan langkah ajaibnya.


Setiap pukulan tapak tangan kosongnya, bila tidak membuat pasukan di hadapannya pecah berkeping keping menjadi serpihan es


Tentunya akan membuat pasukan itu hangus menjadi abu yang beterbangan di udara.


Tapak api dan es surgawi, begitu di mainkan. Dalam sekejab saja, sudah membuat puluhan pasukan Mongolia, tewas di tangan Nan Thian, tanpa mereka sadari apa penyebabnya.


Pergerakan Nan Thian begitu cepat, hingga mereka kesulitan mendeteksi pergerakannya.


Melihat pasukan Mongolia yang berdatangan mengepung mereka semakin banyak.


"Naga Keluar Dari Sarang..!'


Bentak Nan Thian sambil melepaskan dorongan telapak tangan terbuka nya kedepan .


"Rooaaarrrrrrr..!"


Bayangan enam ekor Naga Emas sambil mengeluarkan raungan menggetarkan .


Bergerak menerjang memporak porandakan barisan pasukan berkuda yang sedang mengepung dan mengerubuti mereka berdua.


"Bakkk..! Bikkk..! Bukkk...!"


"Arggghhh..!"


"Bakkk..! Bikkk..! Bukkk...!"


"Arggghhh..!"


"Bakkk..! Bikkk..! Bukkk...!"


"Arggghhh..!"


"Bakkk..! Bikkk..! Bukkk...!"

__ADS_1


"Arggghhh..!"


Terdengar suara gedebag gedebug pasukan berkuda monggolia, terpental jatuh dari atas punggung tunggangan mereka.


Selain itu, suara teriakan kesakitan dan kaget juga mewarnai seluruh tempat tersebut.


Tidak lama kemudian di sekitar tempat tersebut, sejauh mata memandang, hanya terlihat pasukan Mongolia pada tergeletak merintih rintih kesakitan, tidak ada yang mampu bangun kembali.


Nan Thian dan Siao Hung tidak cukup berhenti di sana saja.


Mereka terus bergerak membasmi pasukan Mongolia yang masih tersisa.


Sehingga sisa puluhan pasukan Monggolia akhirnya memutar kuda mereka.


Lalu memacu tunggangan mereka melarikan diri dari sana dengan penuh ketakutan.


Tapi Nan Thian tidak mau rahasia kedatangan nya bersama Siao Hung ketahuan.


Sehingga musuh bisa bersiap siap menyambut kedatangan nya.


Nan Thian kembali melepaskan pukulan Naga Keluar Dari Sarang.


Sekali lagi 6 bayangan Naga Emas, meluncur kedepan sambil mengeluarkan raungan dahsyat mengejar kearah pasukan Mongolia yang sedang berusaha melarikan diri.


Satu persatu di tabrak oleh bayangan Naga Emas, hingga muntah darah dan terpelanting jatuh dari atas punggung tunggangan mereka.


Kini terlihat sekitar 300 pasukan berkuda monggolia tergeletak tak berdaya di atas tanah.


Setelah seluruh pasukan Monggolia tersebut berhasil di lumpuhkan oleh Nan Thian .


Siao Hung segera pergi membebaskan para wanita, yang di tangkap dan di culik, oleh pasukan Mongolia, yang kini sudah tergeletak tak berdaya.


"Mau bunuh mau belah mau iris terserah kalian, mereka kini sudah tak berdaya.."


Ucap Siao Hung sambil membantu melepaskan ikatan tali, yang membelenggu kedua tangan, gadis gadis yang di tawan tersebut .


Ucapan Siao Hung langsung di sambut baik oleh beberapa wanita yang pemberani dan nekad.


Setelah berhasil membantu Siao Hung melepaskan rekan rekan mereka.


Para gadis nekad itu langsung mengambil golok golok pasukan Mongolia yang tergeletak di sana.


Dengan wajah beringas penuh dendam, benci yang merasuk hingga ke sum sum.


Mereka tanpa berpikir panjang langsung membantai pasukan Mongolia seperti memotong ayam atau hewan ternak.


Melihat kenekadan beberapa wanita itu, gadis gadis lainnya akhirnya mulai berdatangan ikut membantai pasukan Mongolia yang tergeletak tak berdaya.


Mereka berusaha meminta ampun dalam bahasa mereka, bahkan ada yang menangis nangis.


Tapi wanita wanita itu terlalu dendam, mereka tidak memperdulikan nya .


Mereka seperti kesetanan ketagihan melakukan pembantaian masal itu.


Penduduk desa yang selamat mulai berdatangan membantu, sehingga sebentar saja.

__ADS_1


Tempat tersebut berubah menjadi ajang pembantaian, banjir darah memenuhi tempat tersebut.


Nan Thian dan Siao Hung sendiri sudah jauh meninggalkan tempat tersebut, saat penduduk di sekitar sana sedang melakukan pembantaian balas dendam, terhadap orang orang Mongolia yang selama ini, selalu menindas mereka.


__ADS_2