
Setelah beberapa waktu berlalu, Nan Thian menarik kedua tangannya kembali.
Membiarkan Yue Lin mengerakkan sendiri sirkulasi energi nya yang sudah normal kembali.
Organ organ penting telah di sembuhkan, aliran darah dan nadi nya yang tersumbat juga sudah di lancarkan kembali.
Nan Thian merasa sudah cukup, selanjutnya tinggal Yue Lin saja yang memperlancar nya, hal itu sudah tidak membutuhkan bantuan nya lagi.
Nan Thian segera turun dari ranjang kakak nya, dan berkata,
"Kak kamu berlatihlah, aku tidak menganggu mu.."
"Besok aku baru kemari lagi.."
Yue Lin sambil berlatih dengan sepasang mata tertutup rapat, dia menganggukkan kepalanya, dengan pelan.
Sebagai jawaban atas ucapan pamit adiknya.
Yue Lin terlalu asyik dengan kekuatan barunya, setelah Nan Thian membantu melancarkan seluruh jalan darah dan meridian nya.
Kekuatan Yue Lin mengalami peningkatan pesat, hal ini membuat Yue Lin menjadi sangat bersemangat.
Nan Thian tersenyum tipis, dia tahu apa yang sedang kakaknya pikirkan saat ini.
Jadi Nan Thian tidak ingin menganggu lebih lama di sana.
Saat Nan Thian keluar dari dalam kamar, dia langsung di sambut dengan Ying Mei dan Siao Hung menantinya di ruang tamu.
Ruang tamu kecil itu masih merupakan bagian dari ruangan kamar tidur kakak nya yang besar.
Kamar besar itu terbagi jadi 3 ruangan, ruang tamu atau biasanya di gunakan sebagai ruang makan, ruang tidur, ruang di mana Nan Thian dan kakak nya tadi berada.
Ruangan terakhir adalah kamar mandi, di dalam kamar tersebut juga ada kamar mandi pribadi untuk Yue Lin dan Ying Mei.
Saat ini mereka bertiga sedang ada di ruang tamu.
Melihat kedatangan Nan Thian Ying Mei pun berkata,
"Adik ipar bagaimana keadaan Kakak mu..?"
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Kakak sudah pulih sebagian besar, kakak ipar bisa melihat nya.."
"Di sini sekalian aku mau pamit pulang beristirahat.."
"Besok aku baru kemari lagi.."
Ying Mei tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya,
"Terimakasih adik ipar.."
"Kalau begitu aku tidak antar, kalian silahkan saja, aku mau kedalam melihat keadaan kakak mu.."
"Sampai ketemu lagi Siao Hung, senang mengobrol ngobrol dengan mu.."
__ADS_1
Ucap Ying Mei sambil menoleh kearah Siao Hung.
"Sama sama kak, sampai ketemu besok dan kita bisa lanjutkan lagi obrolan nya ."
Ucap Siao Hung sambil tersenyum manis.
Sesaat kemudian dia segera mengikuti Nan Thian meninggalkan kamar Yue Lin dan Ying Mei.
Saat mereka berdua keluar dari kediaman Yue Lin di antar oleh paman Kam hingga didepan pintu gerbang kediaman Jendral Yue.
Melihat keadaan sekitar sudah sepi, Nan Thian segera mengajak Siao Hung meninggalkan kediaman kakak nya.
Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri jalanan yang terlihat sepi dan sunyi.
Hanya ada rembulan setengah di angkasa sana yang menemani langkah mereka.
"Adik Hung, aku di kota ini biasanya tinggal di puncak menara itu.."
"Kamu mau ikut dengan ku kesana, atau mau aku Carikan penginapan ?"
Tanya Nan Thian sambil menatap serius kearah Siao Hung.
Siao Hung menggeleng dan berkata,
"Aku akan ikut dengan Thian ke ke kemanapun juga.."
"Meski beratapkan langit beralaskan tanah,.aku tidak masalah.."
Nan Thian tersenyum pahit, dan berkata,
"Baiklah kalau begitu kita kesana sekarang.."
Sebelum kemudian terbang ke puncak menara pagoda lantai 9.
Ruangan pagoda yang tadinya terbuka lebar di bagian paling puncak.
Kini ada di dekat sebuah kamar di bagian tengahnya.
Sedangkan bagian pinggirnya di biarkan tetap terbuka, menjadi balkon untuk menikmati panorama kota Nan Jing dari ketinggian sana.
Siao Hung terlihat sangat menikmati perjalanan bersama dan suasana di mana mereka hanya berduaan saja.
Saat mendarat di puncak menara, Nan Thian pun berkata,
"Kelihatan nya kini sudah ada kamarnya.."
"Adik Hung kamu masuklah untuk beristirahat.."
Siao Hung dengan wajah sedikit merah menahan malu berkata,
"Bila aku kedalam sendirian, Thian ke ke istirahat di mana.."
"Jangan bilang Thian ke ke mau melewatkan malam dingin di luar sini sendirian..?"
Nan Thian tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Aku sudah terbiasa, aku cukup duduk bermeditasi saja tidak perlu tidur.."
"Jadi di mana saja tidak masalah, aku bahkan sering melewatkan nya dengan duduk di atap menara ini.."
"Kamu tenang saja, pergilah tidur kedalam sana.."
Siao Hung menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak tanpa Thian ke ke, bila Thian ke ke tidak kedalam, buatlah Siao Hung ikut disini saja.."
Melihat ketegasan tatapan mata gadis itu, Nan Thian tahu dia tidak mungkin merubahnya.
Akhirnya Nan Thian mengalah dan berkata,
"Baiklah ayo kita kedalam.."
Nan Thian maju berinisiatif mendorong salah satu pintu ruangan yang ada di hadapannya.
Setelah itu dia pun melangkah masuk kedalam, di dalam sana Nan Thian melihat ada dua buah ranjang yang cukup besar.
Dengan bagian tengah di lengkapi dengan meja kursi, di sudut ruangan bahkan ada disiapkan sebuah lemari pakaian.
Nan Thian menebak, semua ini memang sengaja di siapkan oleh Zhu Yuan Zhang yang teliti.
Untuk diri nya dan Kim Kim yang lebih suka tinggal bebas di tempat ini.
Ketimbang tinggal di komplek istana, maupun menumpang nginap di komplek kediaman kakak nya .
Nan Thian menoleh kearah Siao Hung dan berkata,
"Adik Hung,.. kamu pilihlah ranjang mana yang kamu suka.."
"Segeralah beristirahat, hari juga sudah larut.."
Siao Hung mengangguk, lalu dia memilih salah satu diantara kedua ranjang itu.
Siao Hung setelah berbaring, dia mengira Nan Thian akan memilih untuk tiduran di kasur lainnya.
Ternyata dugaannya salah, Nan Thian justru memilih menarik sebuah kursi untuk duduk di tepi sebuah jendela yang sengaja dia biarkan terbuka.
Di sana Nan Thian duduk bermeditasi, berlatih tehnik pengendalian kekuatan alam semesta.
Sebentar saja Nan Thian sudah larut dalam latihannya.
Melihat hal itu, Siao Hung pun mencoba memejamkan matanya.
Tidak lagi ingin menganggu Nan Thian dengan pembicaraan apapun, yang akan menganggu fokus Nan Thian dalam berlatih.
Tidak butuh waktu lama, karena memang sudah lelah, di tambah dengan kasur yang empuk hangat dan ada wangi aroma Cendana nya.
Sebentar saja Siao Hung sudah terlelap, suara hembusan nafas nya yang panjang dan teratur.
Segera membuktikan, gadis itu telah tertidur pulas di sana.
Menjelang tengah malam, Nan Thian yang kembali merasakan ada hawa aneh bergerak liar di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Setelah berulang kali ingin mengontrolnya tapi selalu gagal, malah di dalam pikirannya muncul bayangan aneh aneh yang sebelumnya tidak pernah seperti itu.
Nan Thian terpaksa menghentikan latihannya, dia segera membuka kembali sepasang matanya.