
Sementara Nan Thian setelah berhasil keluar dari kota An Hui.
Dia melesat cepat menuju hutan di sebelah timur kota.
Setelah berhasil memasuki kawasan hutan sebelah timur, Nan Thian terus bergerak cepat mencari tempat untuk berteduh.
Akhirnya Nan Thian menemukan juga sebuah Gua yang cukup tersembunyi.
Gua tersebut berada di balik akar akar tanaman rambat liar, dan dedaunan lebar yang menjuntai dari atas ke bawah.
Akar tumbuhan liar itu sendiri, banyak tumbuh di atas pintu Gua, sedangkan dahan dan daunnya, tumbuh menjuntai kebawah membantu menutupi mulut Gua.
Nan Thian sendiri juga tidak akan pernah bisa menemukan Gua itu, bila tidak secara kebetulan dia melihat seekor terwelu.
Melompat masuk kedalam dan menghilang di sana.
Nan Thian yang curiga, segera menghampirinya, untuk melakukan pemeriksaan, hasilnya di temukan lah Gua tersebut.
Nan Thian dengan girang segera memondong tubuh Siao Hung mengikutinya masuk kedalam Gua tersebut.
Setelah membaringkan Siao Hung bersandaran di dinding batu di dalam Gua .
Nan Thian sambil berusaha menenangkan gejolak dalam tubuhnya.
Dia berkata pelan,
"Siao Hung kamu baring lah dulu di sini, sampai tenaga mu pulih."
"Aku mau pergi kesana sebentar.."
Ucap Nan Thian sambil menunjuk kearah lain.
Di mana di dalam Gua tersebut ada sebuah kolam kecil, juga ada air terjun kecil mengalir jatuh dari atas kebawah, masuk kedalam kolam kecil itu.
Di balik air terjun kecil itu, Nan Thian melihat ada sebuah Gua lain yang berukuran lebih kecil pintu Gua nya.
Nan Thian ingin pergi memeriksa nya, bila bisa di gunakan.
Nan Thian ingin mencoba menggunakan nya, untuk menetralisir racun aneh yang bersarang di dalam tubuhnya.
Siao Hung hanya bisa menanggapi ucapan Nan Thian dengan anggukan lemah.
Bukan hanya Nan Thian, Siao Hung sendiri juga merasa tubuhnya sangat tidak nyaman.
Seluruh otot tubuhnya terasa begitu lemah, hingga tidak bertenaga dan sulit bergerak.
Setelah memastikan Siao Hung dalam keadaan baik baik saja, lewat pemeriksaan nadi dipergelangan tangan Siao Hung .
Nan Thian segera pergi menuju Gua kecil di balik air terjun kecil itu.
Nan Thian mencoba masuk kedalam mulut Gua yang tingginya hanya setengah tinggi pria dewasa.
Untuk itu Nan Thian harus membungkukkan badannya, saat ingin masuk kedalam Gua untuk melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
Sesuai harapan Nan Thian, Gua itu ternyata di dalam nya cukup luas, bisa dia pergunakan untuk bermeditasi.
Nan Thian segera mendekati sebuah batu besar, lalu dengan pedang Panca Warna, Nan Thian memapas bagian atas batu yang berbentuk bulat, menjadi datar.
Sehingga Nan Thian bisa duduk bermeditasi di atas batu tersebut.
Tidak perlu waktu lama, Nan Thian sudah larut dalam meditasi nya.
Dia mencoba menetralisir racun di tambah racun, yang masuk kedalam tubuhnya.
Hingga timbul reaksi yang begitu kuat, memaksakan hawa yang bergolak hebat didalam tubuh nya.
Nan Thian setelah memejamkan matanya, dia segera larut dalam meditasi nya.
Sepenuhnya langsung hilang kesadarannya, hanya berfokus menekan hawa tidak jelas, yang terus bergolak hebat di dalam tubuhnya.
Bila orang lain yang terkena hawa racun panca warna Thian Tu.
Niscaya orang itu pasti akan tewas, bila tidak meminum penawarnya.
Tapi Nan Thian berbeda, tubuhnya ada 3 macam hawa kuat, yang bergabung jadi satu.
Selain itu di dalam darahnya juga mengalir, khasiat buah dewa dan air murni surgawi.
Kemampuan nya, membuat dia mampu menetralisir racun ganas dari Thian Tu.
Sehingga racun Thian Tu tidak mampu membahayakan jiwanya, tapi efek sampingnya tetap ada.
Libido yang menggebu gebu, akibat meningkatnya hormon testosteron dalam jumlah melimpah.
Sehingga membuat Nan Thian merasakan reaksi aneh di dalam tubuhnya yang sulit dia kontrol.
Tapi semua ini masih terbantu dan mampu Nan Thian kontrol, karena Nan Thian memiliki hawa batu panca warna di dalam tubuhnya.
Juga ada hawa api dan es surgawi yang mengunci pergerakan hawa liar yang berasal dari efek samping racun Thian Tu Tu .
Tapi setelah pertempuran melawan Husein tadi, secara tidak sengaja dia di gigit ular panca warna milik Husein.
Racun Thian Tu dan Racun ular panca warna Hu sein bergabung, menjadi kekuatan baru yang dahsyat.
Di mana kini racun ular panca warna, membantu mengunci hawa batu panca warna, hawa api dan es surgawi.
Sehingga kami kini racun efek samping yang sebelumnya tertekan, kini mengganas di dalam tubuh Nan Thian .
Dia mengambil alih alam kesadaran Nan Thian , Nan Thian di buat seolah olah sedang rileks bermeditasi hingga kehilangan kesadarannya.
Padahal aslinya dia sedang bergerak seperti orang sedang mengalami mimpi berjalan.
Nan Thian keluar dari dalam Gua nya, berjalan menghampiri Siao Hung yang sedang terbaring lemah bersandaran di dinding Gua.
Dia seperti orang yang sedang hilang kesadarannya.
Melihat keanehan Nan Thian, Siao Hung yang masih lemah segera merasa aneh dan curiga.
__ADS_1
Insting halus seorang wanita, mengatakan pada dirinya, Nan Thian sedang tidak normal ada kemungkinan akan melakukan sesuatu yang baruk pada nya.
Bila Nan Thian dari awal menunjukkan bahwa dia menyukai nya.
Mencintainya dan ingin menjadi suami nya, mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kelak.
Tentu Siao Hung tidak akan berkeberatan dan akan menerimanya dengan sepenuh hati.
Tapi dalam hal ini, Siao Hung sadar Nan Thian tidak pernah mencintai nya, Nan Thian juga tidak punya keinginan untuk memperistrinya.
Nan Thian hanya menganggap nya sebagai teman baik, adik yang perlu di kasihani.
Makanya Nan Thian membiarkan dia bisa selalu ikut di sisinya, agar Nan Thian bisa menggantikan ayahnya melindunginya.
Kasih sayang Nan Thian terhadap dirinya hanya kasih kakak terhadap adik, hal itu dia sadar betul.
Hal inilah yang membuat Siao Hung ketakutan, berusaha menolak dan ingin menyadarkan Nan Thian .
Tapi Nan Thian sepertinya sulit di cegah dan di sadarkan.
"Nan Thian ke ke, kamu kenapa ?"
"Apa yang terjadi..?"
Tanya Siao Hung sedikit takut, tapi suaranya masih terdengar lemah.
"Ehhh..Nan Thian ke ke jangan..!"
"Kamu mau apa..!?"
"Ehhh jangan...!"
Jerit Siao Hung, sambil berusaha mencoba menahan Nan Thian , dengan kedua tangannya yang lemah
"Brettt...!"
Terdengar suara kain robek.
"Ahhhh jangan Nan Thian ke ke..!?"
Jerit Siao Hung semakin panik cemas dan khawatir.
"Tidak boleh...!"
Jerit Siao Hung ketakutan sambil meronta pelan.
Dia kini sudah diterkam oleh Nan Thian hingga jatuh terguling keatas lantai.
"Brettt...!"
Kembali terdengar suara kain robek, kini pakaian atasnya sudah terbuka lebar.
Menampilkan pakaian dalaman nya yang berwarna merah, tipis transparan.
__ADS_1