PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
Menuju puncak Yu Ni Feng


__ADS_3

Ucap Nan Thian sambil menerima kembali tali kekang kudanya yang tadinya di pegang oleh Chang Lin yang membantunya menuntun kuda.


Chang Lin sambil mengembalikan tali kekang kuda, dia berkata,


"Tak perlu sungkan Yang Mulia, ini memang sudah menjadi tugas kamu melayani keperluan Yang Mulia.."


"Selama di kota Chang An, bila Yang Mulia memerlukan bantuan kamu, jangan sungkan memberitahu kami.."


"Kamu selalu siap kapanpun di butuhkan.."


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Terimakasih banyak jendral Chang.."


"Ohh ya Jendral Chang sebelum berpisah boleh aku tanya sesuatu ke anda..?"


"Apa itu Yang Mulia,..? silahkan tanyakan saja,..aku siap menjawabnya.."


Ucap Chang Lin serius.


"Ini kenapa antrian di depan pintu gerbang terlihat begitu ramai..?"


"Apa biasanya memang setiap hari seperti ini..?"


"Selain itu aku juga melihat banyak orang dunia persilatan datang kemari, apa ada peristiwa penting disini, ? sehingga mereka pada berduyun-duyun datang kemari..?"


Tanya Nan Thian pelan.


Chang Lin menghela nafas panjang dan berkata,


"Keadaan ini sudah berjalan hampir seminggu ini Yang Mulia.."


"Kami juga terpaksa melakukan pemeriksaan lebih teliti, untuk menghindari kerusuhan tidak perlu di dalam kota ."


"Lebih baik antrian panjang di luar sana, daripada terjadi kekacauan di dalam kota.."


"Benar tidak Tang Mulia..?"


Ucap Chang Lin sambil menanti tanggapan Nan Thian .


Nan Thian mengangguk pelan, tapi dia tidak berkata apa-apa.


Situasi ini meski kurang baik, tapi Nan Thian tidak mau ikut campur, karena dia sudah mengundurkan diri.


Meski masih di hormati dan memiliki wewenang besar dari Zhu Yuan Zhang langsung.


Tapi Nan Thian sudah tidak mau terlibat terlalu jauh dengan urusan pemerintahan.


Dia sendiri masih banyak tugas yang harus di kerjakan, istrinya Siao Hung belum menemukan tempat istirahat yang tenang.


Putranya sendiri sedang salah paham padanya, kini pun tidak tahu ada di mana.


Dua hal itu saja sudah cukup pusing baginya, jadi dia tidak berpikir untuk menambah masalah baru lagi.


Setelah mendapatkan anggukan dari Nan Thian , Chang Lin pun meneruskan penjelasannya.

__ADS_1


"Dari kabar yang beredar, semua orang dunia persilatan yang datang kemari.."


"Mereka semua ingin naik ke puncak Hua San, mereka ingin memperebutkan kitab tanpa tanding yang katanya di kuasai oleh legenda hidup dari Xi Xia Li Fei Yang..."


Ucapan Chang Lin sekali ini, berhasil membuat Nan Thian tertegun mendengarnya.


Nan Thian segera berkata,


"Baiklah Jendral Chang, terimakasih atas informasinya.."


"Silahkan anda kembali sibuk, aku tidak menganggu lebih lama waktu mu.."


"Sampai jumpa,.. selamat bertugas.."


Ucap Nan Thian cepat.


Chang Lin mengangguk dan berkata,


"Sama sama Yang Mulia, silahkan nikmati keindahan kota ini.."


Nan Thian mengangguk dan melambaikan tangannya, lalu dia buru-buru menuntun kudanya memasuki keramaian kota Chang An.


Nan Thian menuntun kudanya menuju tempat yang agak sepi, setelah itu dia baru menghampiri jendela kereta.


Nan Thian membukanya, seraut wajah cantik segera menyambutnya dan berkata,


"Apa ada sesuatu suami ku..?"


Nan Thian melihat putrinya sedang tertidur pulas, di pangkuan istrinya.


"Sayang kelihatannya rencana kita untuk singgah menikmati kota Chang An tidak bisa terwujud.."


"Kita harus segera tiba di Yu Ni Feng lebih dulu, sebelum orang orang dunia persilatan berhasil tiba duluan kesana.."


Ucap Nan Thian serius.


Zi Zi menatap suaminya dengan tatapan mata kaget dan berkata,


"Apa yang terjadi suami ku..?"


"Mengapa orang dunia persilatan ingin meluruk ketempat kediaman kita..?"


Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,


"Mereka semua mengincar kitab tanpa tanding milik ayah.."


"Tidak tahu manusia celaka mana yang meniupkan gosip itu, ingin mengadu domba ayah dengan orang orang dunia persilatan, yang terkenal rakus dengan ilmu kesaktian."


"Aku curiga, mungkin peristiwa ini masih ada hubungannya dengan kelompok sekte di Mo Kui San tempo hari.."


Zi Zi mengangguk dan berkata,


"Baiklah suami ku,..tapi kita juga tidak perlu terlalu cemas.."


"Yu Ni Feng bukan tempat yang mudah di capai, lagipula mau menemukan ayah ku juga tidak mudah.."

__ADS_1


"Meski ibu ku kini tidak bisa ilmu silat, guru ku ada di sana menjaganya.."


"Aku rasa orang rakus itu juga tidak akan bisa berbuat macam macam di sana.."


Ucap Zi Zi seolah-olah ingin mengingatkan Nan Thian .


Padahal sebenarnya, dia sedang mencoba untuk menenangkan diri sendiri.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Kamu benar sayang, tapi tiada salah nya kita segera pulang untuk memastikan keadaan di sana.."


Zi Zi mengangguk dengan wajah yang tidak bisa menutupi kecemasan nya.


Nan Thian menutup kembali jendela kereta, lalu dia segera menuntun kudanya, bergerak menuju arah gerbang selatan.


Sepanjang jalan Nan Thian cukup banyak berpapasan dengan berbagai macam orang aneh dunia persilatan.


Dia juga sempat melihat kehadiran, Sun Heng dari lembah hantu, Lu Siao Fung si pendekar Flamboyan yang kemana man, selalu di temani rombongan wanita cantik di sekelilingnya .


Selain kedua orang yang di sebutkan di atas,


Nan Thian juga melihat ketua Shaolin, Wu Dang, Xue San, Thian San, serta ketua partai pengemis Ma Liang hadir di kota tersebut .


Tapi mereka semua bertemu dengan Nan Thian di tempat terpisah pisah.


Nan Thian tidak pergi menegur mereka, yang akan menghambat perjalanan nya.


Jadi dia terus mempercepat langkahnya, berusaha secepatnya kembali ke Yu Ni Feng untuk melihat keadaan di sana.


Melihat sebagian dari mereka yang pernah hadir di Mo Kui San , kini telah hadir di sini.


Nan Thian yakin, kemungkinan semua jagoan yang pernah hadir di Mo Kui San, sebenarnya sudah hadir di kota Chang An.


Hanya saja dia tidak bertemu langsung dengan mereka semua nya.


Dia hanya bertemu secara kebetulan dengan beberapa diantaranya saja.


Nan Thian akhirnya berhasil meninggalkan kota Chang An, lewat pintu gerbang selatan.


Kini tujuan Nan Thian adalah segera mendaki gunung Hua Shan, melewati hutan Chang Lung Lin, agar segera sampai di puncak Yu Ni Feng.


Saat tiba di Chang Lung Lin, Nan Thian mengajak keluarganya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Nan Thian mengurus peti mati berisi Siao Hung di dalam nya.


Sedangkan Zi Zi mengurus putrinya Ying Ying


Dengan menggendong Ying Ying di punggungnya, Zi Zi melesat cepat mengikuti suaminya yang memimpin jalan di bagian depan sana.


Saat tiba di tepi jurang dalam dan lebar, tempat bersemayam Naga kadal terbang yang pernah menjadi penguasa di tempat itu.


Nan Thian segera berkata,


"Zi Zi kamu di depan saja, ikatlah dulu Ying Ying dengan kuat menggunakan kain ikat pinggang ini.."

__ADS_1


"Berhati hatilah.."


__ADS_2